TRIBUNNEWSWIKI.COM - Taiwan melaporkan beberapa serangan besar oleh pesawat tempur China pada Januari 2021.
Serangan itu terjadi beberapa minggu setelah pelantikan Presiden AS Joe Biden.
Joe Biden sendiri telah menelpon Presiden China Xi Jinping awal pekan ini, jadi yang pertama kali sejak dia menjabat.
Dalam pembicaraan itu, Xi Jinping membela kebijakan negaranya, sebagaimana diberitakan Intisari, Minggu (14/2/2021).
Tapi ia juga mengatakan kepada Presiden, konfrontasi jelas akan menjadi senjata.
Pasalnya, China memang sudah memberi peringatan keras pada Taiwan.
Kemerdekaan Taiwan akan dibayar dengan perang, klaim China.
Sementara AS sendiri sudah sajak lama menunjukkan sinyal keberpihakan pada Taiwan.
Serangan pesawat perang China bertepatan dengan kelompok pertempuran kapal induk AS memasuki Laut China Selatan untuk mempromosikan "kebebasan laut".
Dr. Alessio Patalano, ahli perang Asia Timur, mengatakan kepada Express.co.uk pada Minggu (14/2/2021), bahwa ancaman Presiden Xi harus ditanggapi dengan serius.
Baca: Rencana Perang China Bocor, Ingin Satukan Wilayah Dinasti Qing, Rusia Jadi Target tapi Tak Berkutik
Baca: Setelah Telepon Xi Jinping, Joe Biden Panik, Khawatir Infrastruktur AS Kalah dari China
“Saya yakin Presiden Xi tidak memberikan bukti yang menunjukkan bahwa dia tidak serius dalam proposisinya."
“Saya juga percaya bahwa dengan 2049 sebagai tahun yang signifikan dalam sejarah Republik Rakyat China dan Partai Komunis China."
“Oleh karena itu, kecuali kita melihat narasi yang berbeda muncul selama dekade ini."
"Di mana pengaturan yang berbeda di seluruh Selat dapat diterima oleh Beijing."
"Seseorang harus menganggap serius risiko peningkatan tindakan, baik politik serta militer."
"Itu untuk memastikan bahwa penyatuan kembali dicapai dalam waktu jangka panjang."
China: Mereka yang Main Api Akan Terbakar
Diberitakan sebelumnya, China tengah melakukan latihan militer di dekat Selat Taiwan ketika seorang pejabat tinggi Amerika Serikat mengunjungi Taiwan.
Latihan tersebut diadakan menyusul hubungan Beijing dan Washington yang terus memburuk.
Apa lagi melihat upaya AS dalam mendukung Taiwan, seperti diberitakan BBC, Jumat (18/9/2020).