Berikutnya ia langsung bertanya soal kenapa Saleh menghukum Danang.
Baca: Viral Rekaman CCTV Pengeroyokan Anggota TNI oleh Bos Preman dan 11 Temannya, Pelaku Diburu Intel
Saleh lalu menjawab bahwa doktrin di AKMIL menyebutkan bahwa seorang taruna itu terbentuk oleh 80 persen dari didikan seniornya dan 20 persen dari didikan pengasuh.
"Oleh karena itu ijinkan saya mewarnai Danang komandan," kata Saleh.
Saleh juga mengingatkan bahwa AKMIL adalah milik bangsa Indonesia dan Danang akan menjadi orang hebat.
Saleh masih berpikiri dia akan dihukum, tapi ternyata ia tidak dihukum.
Saleh justru disuruh pergi pesiar.
Kini, dengan perjalanan waktu, Saleh melihat Danang sudah menjadi orang hebat.
Hukum AHY
Berikutnya, AHY juga pernah mengalami gaya didikan kejam M. Saleh selama taruna.
Saleh juga menceritakan bagaimana ia mewarnai AHY selama di AKMIL Magelang.
AHY adalah junior dari Saleh. Saleh masuk AKMIL tahun 1996 dan lulus tahun 1999, sedangkan AHY masuk AKMIL tahun 1997 dan lulus tahun 2000.
Saat AHY baru masuk AKMIL, Saleh sudah berpangkat Sersam Mayor Taruna dan diberi jabatan Komandan Regu Batalyon Madya.
Di regu itu ia membawahi 10 orang dan seingatnya salah satunya adalah AHY.
Sebagai komandan regu, Saleh tidak mau ada juniornya yang memiliki nilai akademik jelek dan nilai jasmani jelek. '
"Setiap malam saya tunggui orang itu belajar," ujar Saleh.
Jika ada yang jelek dan salah, ujar Saleh, akan ia hukum. "Kalau salah yang guling jungkir semua," kata Saleh.
Jabatan Saleh teryata naik lagi menjadi komandan peleton. Artinya dia membawahi tiga regu.
Berarti dia membawahi 3 komandan regu dan 30 orang anggota.
Saleh tetap menjalankan dokrin yang sama. Ia tidak mau melihat nilai akademik dan jasmani yang jelek.
Dia berani begitu karena Saleh juga cerdas dan tidak pernah nilainya jelek.