TRIBUNNEWSWIKI.COM - Warga negara asing (WNA) asal Amerika Serikat, Nediem V Buyukmihei VMD, dari University California-Davis melaporkan aksi penyiksaan monyet berjenis Macaca fascicularis.
Nediem melaporkan penyiksaan monyet yang dilakukan oleh youtuber Rian Mardiansyah kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Selatan Hasudungan A Sidabalok mengetahui adanya laporan tersebut pada Jumat (29/1/2021).
Sudin Dinas KPKP Jakarta Selatan bersama Founder Wildlife Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jagakarsa, Satpol PP Jagakarsa, dan Polsek Jagakarsa mendatangi ke Jalan Moh Kahfi II Gang Amsar, pada Sabtu (30/1/2021).
“Kami menyita berupa tiga ekor kera ekor panjang ( Macaca fassicularis ) yang diberi nama Boris, Monna, dan Boim dari tangan Rian Mardiansyah,” kata Hasudungan, Senin (1/2/2021) malam, seperti yang dikutip dari Kompas.com.
Pelaku yang bernama Rian Mardiansyah ini mengaku motif pembuatan video penyiksaan monyet ini demi memperoleh pelanggan .
“Dia buat konten penyiksaan demi popularitas dan peningkatan pelanggan YouTube-nya,” tutur Senin Hasudungan (1/2/2021) malam.
Namun, ada tidaknya motif ekonomi di balik pembuatan video penyiksaan monyet yang viral ini masih belum diketahui.
Pihaknya sampai saat ini masih mendalami dugaan tersebut.
Baca: Viral Youtuber Ditangkap Karena 100 Konten Penyiksaan Terhadap Monyet, Dilaporkan oleh WNA
Baca: Viral Youtuber Produksi Konten 100 Video Penyiksaan Monyet, Motifnya Demi Tingkatkan Subscriber
“Sekarang kan bikin konten yang kontroversi untuk tingkatkan pelanggan . Dia tidak digunakan untuk topeng monyet, tapi ujung-ujungnya bisa bermotif ekonomi. Kami masih dalami motif ekonominya, ”kata Hasudungan.
Penyiksaan yang dilakukan oleh Youtuber Rian ini melanggar beberapa peraturan.
Mulai dari UU No 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan.
Kemudian juga Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 1995 tentang Pengawasan Hewan Rentan Rabies di Provinsi DKI Jakarta dan Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum (Pasal 17).
Sebelumnya diwartakan tentang video viral Youtuber bernama Rian Mardiansyah nekat melakukan penyiksaan pada monyet.
Rian memproduksi dan mengunggah video penyiksaan tersebut hingga setidaknya 100 video.
Diketahui pelaku telah merekamnya sudah sejak cukup lama.
“Macam-macam ya kekerasannya. Ada 100 konten yang berisi kekerasan terhadap monyet sehingga protes keras dari dalam dan luar negeri, ”ujar Hasudungan.
Penyiksaan yang dilakukan pada monyet ini juga cukup banyak jenisnya.
Mulai dari api petasan di dekat kuping monyet, memberi makanan cabai, hingga menyuruh anak kecil memukul monyet.
Bahkan warga juga dibuat resah dengan aksi penganiayaan yang dilakukan Youtuber ini.
EKSPERIMEN Kejam pada Monyet: Kepala Dibor dan Disemen, Organ Vital Disetrum demi Pelajari Penyakit
Aktivis pencinta hewan mengecam dan mengutuk keras eksperimen yang disebutnya mengerikan dan sungguh kejam saat 12 kepala monyet dilubangi dengan bor demi mempelajari aktivitas otak monyet malang tersebut.
Para pegiat ini bertekad mengakhiri eksperimen mengerikan yang didanai pembayar pajak yang mengklaim bahwa tengkorak monyet-monyet itu dilubangi dengan bor lalu diisi dengan elektroda yang ditutup rapat.
Elektroda akan ditanamkan ke dalam otak primata tersebut dan disatukan dengan semen di sebuah universitas di Belgia.
Studi yang didanai pembayar pajak telah dicap "tidak berguna dan kejam" dan "benar-benar jahat" oleh aktivis hak-hak hewan.
Dikutip dari Daily Star, Selasa (22/9/2020), kelompok lobi Hak Hewan Belanda mengatakan 12 monyet rhesus akan menjalani tes di Katholieke Universiteit (KU) Leuven Belgia dan sebagian besar akan dibunuh kemudian.
Sebuah petisi oleh kelompok yang menyerukan agar primata dibebaskan mengatakan: "Eksperimen otak menyebabkan monyet sangat menderita.:
"Untuk dapat mengukur aktivitas otak mereka, semua monyet percobaan itu dibuat 'siap digunakan'.
"Elektroda ditanamkan ke dalam otak melalui lubang bor di tengkorak mereka. Semen digunakan untuk memasang batang fiksasi atau 'topi' ke tengkorak.
"Tongkat ini berfungsi untuk memperbaiki kepala monyet selama pengukuran otak nanti. Hewan-hewan tersebut harus melalui program pelatihan berat selama berbulan-bulan dan menjalani diet air yang ketat untuk memaksa mereka bekerja sama dengan para peneliti."
Juru kampanye Jen Hochmuth mengutuk penggunaan monyet sebagai "eksperimen kejam dan tidak berguna yang hanya berfungsi untuk memuaskan keingintahuan para ilmuwan yang tidak memiliki belas kasihan".
"Percobaan otak pada monyet bukanlah kejahatan yang diperlukan tetapi itu kejahatan."
Baca: Beredar Kabar Hoax di Rusia, Vaksin Covid-19 Bisa Mengubah Manusia Jadi Monyet
Baca: Seekor Monyet Pencopet Obrak-abrik Isi Tas Calon Pengantin, Awalnya hanya Ambil Permen
Animal Rights mengatakan para peneliti mendapat manfaat dari subsidi 1,8 juta poundsterling atau sekitar Rp 34 miliar (kurs Rp 18.850/poundsterling) dari pembayar pajak Flemish untuk eksperimen kontroversial mereka.
Selain 12 monyet dalam percobaan ini, universitas memiliki lusinan hewan lagi yang dikurung di laboratoriumnya, klaim para aktivis.
Tapi universitas mengatakan hewan-hewan itu dibutuhkan untuk memahami penyakit manusia.
Para peneliti telah menunjukkan terobosan dalam penelitian Alzheimer yang telah dicapai dengan eksperimen monyet.
KU Leuven mengatakan di situs webnya bahwa "sayangnya, tidak ada cukup alternatif bagus 'untuk menggantikan hewan laboratorium yang digunakan dalam penelitian otak.
"Proses tertentu dapat dipelajari dalam tabung reaksi. Beberapa penelitian dapat dilakukan pada manusia. Dalam kasus lain, hewan diperlukan."
Ia mengklaim bahwa eksperimen otak monyet adalah satu-satunya cara untuk meneliti "fungsi otak yang kompleks".
Para ilmuwan menambahkan bahwa tes pada monyet telah mengkonfirmasi hubungan antara Alzheimer dan masalah lain seperti obesitas, cedera otak, dan ketidakaktifan fisik.
Mereka mengatakan bahwa pengobatan Alzheimer yang saat ini sedang diuji pada manusia telah dinyatakan aman karena sebelumnya telah diuji pada monyet, bersikeras: "Hewan laboratorium dirawat dengan baik dan ditempatkan dalam keadaan terbaik.
“Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil dengan pengayaan yang cukup untuk membuat mereka sibuk. Perawatan dan perumahan yang baik tidak hanya penting bagi hewan tetapi juga untuk menjamin kualitas penelitian."
"Hanya jika hewan telah mampu mengembangkan kemampuan alaminya barulah penelitian yang berarti dilakukan pada mereka. Monyet memiliki kandang yang sangat luas, di mana lingkungan alaminya ditiru sebanyak mungkin."
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ka, Kompas.com)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Youtuber Siksa Monyet, Motifnya Disebut untuk Tingkatkan Subscriber"