Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan tidak hanya mendukung sektor kesehatan, tetapi juga dapat menunjang upaya untuk memulihkan kegiatan ekonomi.
"Terima kasih kepada tim peneliti UGM dalam membantu penanganan Covid-19 khususnya 4T. Kita harapkan hilirisasi berjalan mulus dan didukung Kemenkes supaya inovasi anak bangsa difasilitasi dan didukung juga oleh Satgas Covid-19," kata Bambang.
Diproduksi 10 ribu unit
Salah satu anggota tim pengembangan GeNose, Dian Kesumapramudya Nusantara, mengatakan,saat ini telah diproduksi 100 unit GeNose C19 yang semuanya telah terjual.
Baca: GeNose Buatan UGM Bisa Mendeteksi Covid-19 dalam Waktu Kurang dari 2 Menit
Selanjutnya akan kembali memproduksi 100 unit lagi di tahap selanjutnya dengan bantuan Kemenritek/BRIN.
"Insya Allah dengan bantuan beberapa institusi dan filantropi akan produksi sekitar 2 ribu akhir Januari dan 5 ribu pertengahan Februari dan targetnya bisa 10 ribu," kata.
Dengan produksi yang semakin meningkat, diharapkan GeNose dapat didistribusikan lebih luas lagi.
Dengan begitu, bisa membantu penanganan Covid-19 terutama dalam deteksi cepat virus corona saat tracing dan tracking.
Dian turut menyampaikan cara penggunaan dan pemeliharaan GeNose C-19.
Dian mengatakan alat itu mudah untuk digunakan dan tidak memerlukan upaya pemeliharaan yang rumit.
Kemudian, untuk pengecekan dan pemeliharaan dapat dilakukan setelah pemeriksaan 150 ribu sampel nafas atau jika muncul gangguan.
"Untuk pembacaan saat deteksi, apabila positif disarankan melakukan pengambilan ulang hembusan napas kedua dalam waktu 30 menit setelah pengambilan pertama. Jika hasil konsisten positif disarankan melanjutkan pemeriksaan dengan PCR konfirmasi," katanya.
(Tribunnewswiki/Tyo/Kompas/Rully R. Ramli/Dian Ihsan)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Luhut Ingin GeNose C19 Bisa Digunakan di Berbagai Fasilitas Umum" dan "Harga Satu Unit GeNose UGM Rp 62 Juta"