TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pandemi virus corona atau Covid-19 telah menerjang dunia kurang lebih sejak akhir 2019 hingga tahun 2021 ini.
Berbagai negara belahan dunia telah mengetatkan aktivitas masyarakatnya untuk mencegah penularan Covid-19.
Sistem kesehatan di beberapa negara banyak yang kelimpungan, sementara perekonomian tertunduk lesu akibat pembatasan gerak manusia selama penanggulangan pandemi Covid-19 hingga kini.
Calon vaksin Covid-19 pun kini mulai bermunculan dari beberapa negara dan lembaga, meski selesainya pandemi Covid-19 ini secara global diprediksi masih akan memakan waktu yang lama.
Belum lagi, ternyata virus Corona kini pun bermutasi dan mulai menyebar ke berbagai negara dunia.
Virus corona atau pandemi Covid-19 sendiri bermula dari sebuah kota di China bagian selatan, Wuhan.
Kota di Provinsi Hubei itu pun sempat menyita perhatian dunia, lantaran penularan Covid-19 terpantau cukup mencekam dan memakan korban cukup banyak disana.
Meski pemerintah China telah berusaha menanggulangi penyebaran virus, nyatanya Covid-19 tetap menyebar dan ditambah lagi, pergerakan antar masyarakat di era globalisasi semakin mempermudah penularan Corona diawal-awal masa pandemi.
Dunia internasional pun menekan pemerintahan China yang dituding sengaja menutup-nutupi awal mula penyebaran virus Corona ini dan menolak penyelidikan independen dari WHO terkait asal muasal penyebaran virus ini pada awal tahun 2020 lalu.
Setelah sempat menyatakan akan menyambut positif penyeledikan, ternyata pemerintah China kembali menghambat hal ini.
Baca: Bukan Hanya Jack Ma, Ini Deretan Pengusaha yang Pernah Hilang setelah Kritik Pemerintah China
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, China telah memblokir kedatangan tim yang menyelidiki asal-usul pandemi virus corona.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dua ilmuwan di tim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah meninggalkan negara asalnya ke Wuhan ketika mereka tiba-tiba diberi tahu bahwa pejabat China belum menyetujui izin yang diperlukan untuk memasuki negara itu.
Padahal, pengaturan kedatangan tim WHO tersebut telah disepakati bersama dengan China sebelumnya.
"Saya sangat kecewa dengan berita ini," kata Tedros dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (5/1), seperti dikutip CNN.
"Saya telah melakukan kontak dengan pejabat senior China dan saya sekali lagi telah menjelaskan bahwa misi tersebut adalah prioritas bagi WHO dan tim internasional."
Tedros mengatakan, WHO sangat ingin menjalankan misi secepat mungkin dan dia telah diberi jaminan bahwa Beijing mempercepat prosedur internal untuk penempatan sedini mungkin.
Dr. Michael Ryan, direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan WHO mengatakan, ada masalah dengan visa dan satu anggota tim telah kembali ke rumah. Yang lainnya sedang menunggu saat transit di negara ketiga.
Baca: Sederet Fakta Tentang Jack Ma, Miliarder yang Dikabarkan Hilang Setelah Kritik Pemerintahan China
Pejabat WHO telah lama bernegosiasi dengan Beijing untuk memungkinkan tim ilmuwan global mengakses tempat-tempat utama untuk menyelidiki asal mula virus corona.
Menurut laporan berbagai media, upaya China yang sedari awal sudah enggan menerima kunjungan penyelidikan WHO adalah demi mempertahankan reputasi mereka di dunia internasional.
China jauh-jauh hari merasa khawatir bahwa mereka akan disalahkan atas pandemi Covid-19, meski pada kenyataannya dokter yang melaporkan awal merebaknya virus corona disana mengalami "persekusi" luar biasa.
Virus corona pertama kali terdeteksi di Wuhan pada Desember 2019.
Pada Mei 2020, WHO setuju untuk mengadakan penyelidikan tentang tanggapan global terhadap pandemi setelah lebih dari 100 negara menandatangani resolusi yang menyerukan penyelidikan independen.
Ryan mengatakan, tim WHO berharap itu hanya masalah logistik dan birokrasi yang dapat diselesaikan dengan itikad baik dalam beberapa jam mendatang sehingga tim bisa bekerja secepat mungkin.
Amerika Serikat (AS) dan Australia gencar mengkritik penanganan China terhadap tahap awal pandemi dan menuduh Beijing meremehkan tingkat keparahannya. China juga dianggap tidak mampu mencegah dengan respons yang efektif hingga terlambat.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyalahkan China atas pandemi corona global. AS juga akan mengakhiri hubungannya dengan WHO, dengan mengatakan bahwa China belum melaporkan dengan benar informasi yang dimilikinya tentang virus corona dan telah menekan WHO untuk menyesatkan dunia.
AS telah menuntut transparansi dalam operasi WHO di China. Pada November tahun lalu, Garrett Grigsby dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS mengatakan kepada majelis WHO bahwa ketentuan penyelidikan ke China tidak dinegosiasikan secara transparan.
Kumpulan dokumen rahasia yang diperoleh CNN tahun lalu dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di provinsi Hubei, tempat virus pertama kali terdeteksi pada 2019, menunjukkan bagaimana pejabat China memberikan data yang lebih optimis kepada dunia daripada yang dapat mereka akses secara internal.
Menurut dokumen itu, pada awalnya awalnya China melaporkan jumlah kasus yang tidak dilaporkan selama tahap awal wabah.
Pemerintah China telah berulang kali menolak tuduhan yang dibuat oleh AS dan pemerintah Barat lainnya yang dengan sengaja menyembunyikan informasi yang berkaitan dengan virus tersebut.
Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan pada Senin (5/1), China akan menyambut tim WHO, menurut laporan Reuters.
CNN telah menghubungi Kementerian Luar Negeri China untuk mengomentari pernyataan Tedros.
Saat negara-negara di seluruh dunia berjuang dengan lonjakan dan wabah infeksi baru, China tampaknya pulih kembali. Bulan lalu, negara itu membukukan pertumbuhan ekonomi yang positif untuk kuartal kedua berturut-turut.
Baca: Terus Ditekan oleh Pemerintah China & Harga Saham Anjlok, Ada Apa dengan Alibaba Group-nya Jack Ma?
Menteri Luar Negeri Wang Yi memuji upaya anti-pandemi China di dalam dan luar negeri, dengan mengatakan bahwa negara itu meluncurkan kampanye darurat kemanusiaan global dan membantu membangun konsensus tentang tanggapan global terhadap Covid-19.
Saat tim WHO bersiap untuk memulai, pejabat China dan media pemerintah China menyatakan semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa pandemi corona kemungkinan besar disebabkan oleh wabah terpisah di banyak tempat di dunia.
Pada hari Senin, laporan beredar di media sosial China bahwa virus corona telah terdeteksi pada kemasan suku cadang mobil di beberapa kota, termasuk dari merek asing.
Selama berbulan-bulan, China telah menguji dan mendisinfeksi produk makanan beku yang diimpor dari luar negeri, karena khawatir virus itu dapat masuk kembali ke negara itu.
WHO sendiri menyebutkan sangat tidak mungkin orang dapat tertular Covid-19 dari makanan atau kemasan makanan.
Pemerintahan China plin-plan, mengapa?
BBC melaporkan, sebelumnya, Beijing enggan menyetujui penyelidikan independen dan butuh waktu berbulan-bulan untuk bernegosiasi agar WHO diizinkan mengakses kota itu.
Menurut keterangan WHO, sebuah tim yang terdiri dari 10 ilmuwan internasional akan melakukan perjalanan ke kota Wuhan di China pada bulan Januari 2021 untuk menyelidiki asal-usul Covid-19.
Virus tersebut diduga berasal dari pasar di kota Wuhan yang menjual hewan-hewan beraneka rupa.
Namun pencarian asal usul sumber corona tersebut telah menimbulkan ketegangan, terutama dengan AS.
Baca: Taipan China Pembuat Video Game Game of Thrones dan Produser Netflix Tewas Diracuni Rekan Kerjanya
Tim medis memeriksa seorang pasien yang terinfeksi virus corona di Rumah Sakit Jinyintan Wuhan pada 26 Januari 2020. (EPA-Efe/STR)
Pemerintahan Presiden Donald Trump menuduh China berusaha menyembunyikan awal terjadinya wabah corona.
Dan diskursus untuk mencari sebab awal dimana virus Corona bermula pun sedikit mengabur, karena AS dan China selama beberapa bulan terakhir justru saling tuduh terkait aktor dibalik wabah yang merebak di seluruh dunia hingga ini.
Seorang ahli biologi dalam tim yang melakukan perjalanan ke Wuhan mengatakan kepada kantor berita Associated Press, bahwa WHO tidak berusaha untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mencegah wabah di masa depan.
Artinya, investigasi WHO disebutkan tidak untuk menetapkan siapa aktor awal dari kekacauan dunia akibat pandemi Covid-19, seperti yang dikhawatirkan China jika penyelidikan ini bertujuan untuj memframing negara mereka sebagai "dalang" pandemi.
"Ini benar-benar bukan tentang menemukan negara yang bersalah," kata Fabian Leendertz dari Robert Koch Institute Jerman.
"Ini tentang mencoba memahami apa yang terjadi dan kemudian melihat apakah, berdasarkan data tersebut, kami dapat mencoba mengurangi risiko di masa depan," tambahnya.
Mengutip BBC, Dr Leendertz mengatakan tujuannya adalah untuk mengetahui kapan virus mulai beredar dan apakah itu berasal dari Wuhan atau tidak.
Misi itu diharapkan berlangsung empat atau lima minggu, tambahnya.
Pada hari-hari awal, virus itu terlacak di sebuah "pasar basah" di Wuhan, provinsi Hubei.
Diduga, di sinilah tempat virus corona melakukan lompatan dari hewan ke manusia.
Tetapi para ahli sekarang percaya, hal itu mungkin hanya diperkuat di sana. Asal-usul virus belum tentu dari sana.
Penelitian menunjukkan bahwa virus corona yang mampu menginfeksi manusia mungkin telah beredar tanpa terdeteksi pada kelelawar selama beberapa dekade.
Desember lalu, seorang dokter China di Rumah Sakit Pusat Wuhan - Li Wenliang - mencoba memperingatkan sesama petugas medis tentang kemungkinan berjangkitnya penyakit baru.
Namun, sang dokter diberitahu oleh pihak kepolisian untuk berhenti membuat pernyataan palsu dan dia diselidiki karena menyebarkan rumor.
Hingga akhirnya, Dr Li meninggal pada Februari setelah tertular virus corona saat merawat pasien di kota.
Pada bulan April, kecurigaan dan tuduhan muncul bahwa virus itu mungkin bocor dari laboratorium di Wuhan.
Badan intelijen nasional AS mengatakan pada saat itu bahwa virus itu bukan buatan manusia atau hasil rekayasa genetika.
Para pejabat sedang menyelidiki apakah wabah itu dimulai melalui kontak dengan hewan atau melalui kecelakaan laboratorium.
Laporan terbaru di media China menunjukkan bahwa Covid-19 bisa dimulai di luar China.
Tetapi para analis mengatakan laporan itu tidak berdasar, dan kampanye tersebut mencerminkan kecemasan dalam kepemimpinan di Beijing tentang kerusakan reputasi internasional negara itu akibat pandemi.
(Tribunnewswiki.com/Ris)
Sebagian artikel tayang di Kontan berjudul China blokir kedatangan tim WHO yang akan selidiki asal usul virus corona