Presiden Rusia Vladimir Putin Instruksikan Kampanye Imunisasi Vaksin Covid-19 'Skala Besar'

Rusia, sebagai negara yang mengembangkan vaksin dalam negeri bernama Sputnik V, telah memberikan persetujuan pada awal Agustus lalu.


zoom-inlihat foto
bendera-rusia-5646.jpg
Unsplash - @hrustall
Rusia, sebagai negara yang mengembangkan vaksin dalam negeri bernama Sputnik V, telah memberikan persetujuan pada awal Agustus lalu., FOTO: Bendera Rusia


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan adanya kampanye 'skala besar' terkait imunisasi vaksin virus corona.

Adapun Putin menginginkan agar hal tersebut dimulai pada akhir pekan depan.

Dokter dan guru akan menjadi yang pertama untuk mendapatkan vaksin buatan Rusia ini.

Langkah Putin ini muncul beberapa jam setelah Inggris Raya menjadi wilayah pertama yang mengizinkan pengunaan vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan Amerika Serikat Pfizer dan BioNTech Jerman.

Rusia, sebagai negara yang mengembangkan vaksin dalam negeri bernama Sputnik V, telah memberikan persetujuan pada awal Agustus lalu.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: Louis Washkansky Jadi Manusia Pertama yang Mendapat Transplantasi Jantung

Vladimir Putin bersama Alina Kabaeva tahun 2004 saat Alina menerima penghargaan sebagai atlet senam Rusia. (AFP/GETTY IMAGES VIA THE SUN)
Vladimir Putin bersama Alina Kabaeva tahun 2004 saat Alina menerima penghargaan sebagai atlet senam Rusia. (AFP/GETTY IMAGES VIA THE SUN) (AFP/GETTY IMAGES VIA THE SUN)

Baca: Kabur dari Majikan, TKI Asal Tangerang Ditemukan Tewas di Dalam Koper di Mekkah Arab Saudi

Meski studi lanjutan untuk memastikan keefektifan dan keamanan belum selesai, izin penggunaan Sputnik V mendapat persetujuan yang kemudian menuai kritik dari para ahli.

Ahli menyebut khawatir lantaran vaksin tersebut baru diujicobakan terhadap beberapa lusin orang.

Namun, Rusia mengklaim bahwa Sputnik V merupakan "vaksin Covid-19 yang pertama kalinya terdaftar di dunia".

Rusia, sebagai negara dengan jumlah infeksi terbesar kelima di dunia telah diguncang Covid-19 dengan cepat sejak September.

Meski diperparah dengan lonjakan kasus infeksi, pemerintah Rusia bersikeras tidak memberlakukan lockdown kedua atau menutup bisnis di seluruh negeri.

Baca: Uji Coba Tahap Akhir Vaksin Corona, AstraZeneca Laporkan 90% Efektif Digunakan

Vladimir Putin
Vladimir Putin (instagram/ president_vladimir_putin)

Baca: Perdana Menteri Spanyol Berencana Distribusikan Vaksin Covid-19 pada Januari 2021

Namun demikian, satu wilayahnya memberlakukan penutupan bisnis, seperti di Siberia Buryatia, dekat perbatasan Mongolia.

Daerah bersuhu dingin ekstrem tersebut merupakan satu-satunya wilayah di Rusia yang memberlakukan penutupan bisnis.

Pada Senin lalu, wilayah tersebut menutup aneka bisnis yang tidak esensial selama dua minggu penuh.

Langkah ini dilakukan untuk menahan penyebaran virus, sebagaimana diwartakan Associated Press, Senin (23/11/2020).

Juru Bicara Pemerintah Rusia, Dmitry Peskov menyebut penutupan bisnis di Siberia adalah keputusan otoritas daerah yang telah memahami kondisi mereka.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 23 November 1992: IBM Simon, Smartphone Pertama di Dunia, Diperlihatkan

Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada menuding pemerintah Rusia terlibat dalam serangan-serangan para hacker yang berusaha mencuri data vaksin Covid-19. Foto: Tenaga medis (kanan) mengambil sampel darah Profesor Francois Venter (kiri) sebelum pria itu menerima vaksin Covid-19 eksperimental di  Unit Penelitian Patogen Meningeal dan Pernapasan (RMPRU) di RS Chris Hani Baragwanath Hospital, Soweto, Afrika Selatan, Selasa (14/7/2020).
Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada menuding pemerintah Rusia terlibat dalam serangan-serangan para hacker yang berusaha mencuri data vaksin Covid-19. Foto: Tenaga medis (kanan) mengambil sampel darah Profesor Francois Venter (kiri) sebelum pria itu menerima vaksin Covid-19 eksperimental di Unit Penelitian Patogen Meningeal dan Pernapasan (RMPRU) di RS Chris Hani Baragwanath Hospital, Soweto, Afrika Selatan, Selasa (14/7/2020). (LUCA SOLA / AFP)

Baca: Terjerat Kasus Dugaan Narkoba, Millen Cyrus Dipastikan Mendekam di Sel Pria : KTP Dia Laki-laki

Menurutnya, itu dilakukan mengingat keadaan yang berbeda di Siberia, seperti sedikitnya jumlah petugas medis, dan terbatasnya tempat tidur rumah sakit.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved