TRIBUNNEWSWIKI.COM - Timnas Indonesia U-19 kini sedang menjalani pemusatan latihan atau Training Center (TC) virtual.
Agenda tersebut disisipkan mengingat pasca pemusatan latihan di Kroasia (September-Oktober), Timnas Indonesia U-19 masih belum menemukan lokasi dan calon lawan ideak untuk uji tanding.
TC kali ini diikuti oleh 38 pemain yang terdiri dari 25 pemain yang pernah ikut pemusatan latihan di Kroasia dan 13 wajah baru.
Pemusatan latihan Timnas Indonesia U-19 berlangsung di ibukota Indonesia, Jakarta dan telah berjalan selama tiga hari hingga kini.
Tim Garuda Muda telah berlatih di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, sejak Senin (16/11/2020) lalu.
Lalu, jika fokus Timnas Indonesia U-19 di Kroasia adalah pembentukan fisik dan disiplin, apa yang dituju selama TC di Jakarta?
Terlebih, TC kali ini berjalan secara virtual karena Shin Tae-yong sedang berada di Korea Selatan.
Nova Arianto, asisten pelatih Timnas Indonesia U-19 mengatakan bahwa fokus pemusatan kali ini bukanlah meningkatkan fisik pemain.
Alih-alih berfokus pada fisik, tim pelatih Timnas Indonesia U-19 ingin melihat perkembangan mental anak asuhnya ketika menjalani latihan.
Tim pelatih Timnas Indonesia U-19 ingin menilai mental Bagas Kaffa dkk dalam menjalankan program latihan yang diberikan oleh tim pelatih.
"Pada TC kali ini kita fokus melihat mental pemain dalam menjalani latihan yang diberikan oleh coaching staff karena semua program dari coach Shin," ucap Nova dikutip dari keterangan PSSI.
Baca: Dari Negara-negara Eropa hingga Asia, Berikut Ini Rencana Jadwal TC Timnas Indonesia U-19 ke Depan
"Jadi bagaimana pemain menjalankan latihan yang akan kita lihat dalam periode TC kali ini."
Meski begitu, Nova mengatakan bahwa timnya tidak bisa mengabaikan aspek fisik begitu saja.
Para pemain Timnas Indonesia U-19 tetap digembleng dengan sejumlah materi intensitas sedang untuk mempertahankan stamina mereka.
Terlebih para pemain anyar yang baru pertama kali mengikut pemusatan latihan di bawah asuhan Shin Tae-yong.
"Kita bersyukur semua pemain dalam kondisi baik, tapi saya lihat pemain-pemain baru harus beradaptasi dengan situasi latihan ini ya," tutur Nova.
"Dan secara fisik mereka memang belum bisa menyamai pemain-pemain yang ada di Kroasia kemarin."
"Saya harap pemain baru bisa bekerja lebih maksimal untuk mengejar kondisi fisiknya sama dengan pemain dari Kroasia," tandasnya, via laman Bolaspot.com berjudul Bukan Fisik, Ini Fokus Pemusatan Latihan Timnas U-19 Indonesia di Jakarta.
Latihan fisik khas Shin Tae-yong
Shin Tae-yong sendiri dikenal sebagai pelatih yang disiplin dan keras.
Salah satu yang menjadi sorotan dari Timnas Indonesia U-19 adalah fisik pemain, terutama stamina.
Beberapa kali Shin Tae-yong menyoroti buruknya stamina dan daya tahan para pemain Timnas Indonesia U-19.
Mantan pelatih Korea Selatan itu pun bahkan pernah menyiratkan, para pemain tak masalah jatuh pingsan ketika berlatih, mengingat lebih baik kapasitas individu dideteksi awal.
Hasilnya, cukup terlihat ada progres di Timnas Indonesia U-19 selama pemusatan latihan di Kroasia.
Baca: Timnas Indonesia U-19 Kini Diisi 4 Pemain Keturunan, Bagaimana Cara Shin Tae-yong Menyeleksi Mereka?
Mantan pelatih fisik Persebaya Surabaya, Rudy Eka Priyambada, sangat senang dengan perkembangan yang ditunjukkan oleh Timnas Indonesia U-19.
Rudy menilai kehadiran Shin Tae-yong memberikan perubahan yang signifikan bagi Bagas Kaffa dkk.
Salah satu yang menjadi perhatian utama Rudy adalah fondasi tim Garuda Nusantara yang semakin baik.
Hal itu terlihat pada kedisiplinan para pemain Timnas Indonesia U-19 berlari mengejar bola.
Menurut Rudy, fondasi itu sangat membantu pemain menerima materi tentang taktik dari tim pelatih.
"Dari latihan taktik dan cara berpikirnya sangat terlihat progress, terutama disiplin," kata Rudy dilansir dari Bolasport.com.
"Tidak ada pemain yang jalan kaki, semua lari," ucap pelatih yang mengawali karier kepelatihannya di Australia, Monbulk Rangers, itu.
Saking disiplinnya Shin Tae-yong, Rudy pernah mendengar satu nasihatnya kepada para pemain timnas Indonesia yang cukup mencengangkan.
Menurut Rudy, juru taktik asal Korea Selatan itu sempat mencotohkan para pemain Korea yang tak akan pernah berhenti berlari sebelum meninggal.
Baca: Sempat Tak Diakui, Rencana Naturalisasi Pemain Brasil di Timnas Indonesia U-19 Kini Terjawab Tuntas
"Pantas pernah dengar waktu TC timnas senior coach Shin pernah bilang di Korea kalau pemain belum mati tidak ada yang berhenti berlari," ucapnya.
"Fisik sudah terbentuk, prinsip bermain sudah paham. Nanti pelatih gampang mau menggunakan taktik apa saja," katanya.
Timnas Indonesia U-19 sendiri masih akan terus berlatih di Kroasia hingga akhir September mendatang.
Witan Sulaeman cs juga masih memiliki dua laga uji coba yang belum dilakoni yakni melawan Bosnia Herzegovina dan Dinamo Zagreb.
Setelah itu, Bagas Kaffa dkk akan bertolak ke Turki untuk menjalani pemusatan latihan di sana.
Shin Tae-yong tak permasalahkan pemain pingsan
Salah satu yang disoroti oleh Shin Tae-yong di skuat Timnas Indonesia U-19 kali ini adalah soal kemampuan fisik dan stamina para pemain.
Selama pemusatan latihan di Kroasia, Shin beberapa kali mendapati para para pemainnya sengaja menyimpan energi agar bisa selalu berlari di 90 menit pertandingan.
Padahal, mantan pelatih Timnas Korea Selatan itu ingin melihat Timnas Indonesia U-19 tampil maksimal, intens dan stamina individu pemain dikeluarkan semua untuk mengetahui sejauh mana batas kemampuan fisik mereka.
Demikian demi tujuan meningkatkan fisik pemain Timnas Indonesia U-19, Shin Tae-yong justru senang ketika pemain yang mendorong batas kemampuannya bahkan hingga jatuh pingsan.
Baca: Viral Tarkam di Lapangan Banjir Lumpur, Pemain Bhayangkara & Timnas Saddil Ramdani Dihujani Kritik
Dalam pola Shin Tae-yong, latihan hingga mengeluarkan batas maksimum adalah metode yang benar.
Misalnya pasca tumbang dari Bulgaria 0-3 di laga perdana International U-19 Friendly Tournament 2020 di Kroasia September lalu, Shin Tae-yong melakukan evaluasi kepada anak asuhnya.
Masalah stamina pemain menjadi bahasan utama pelatih asal Korea Selatan itu hingga menerapkan pola latihan yang keras dan intens.
Maklum, Timnas Indonesia U-19 sejaitnya mampu menahan Bulgaria 0-0 hingga menit ke-77, sebelum akhirnya kehilangan konsentrasi dan kebobolan 3 gol hanya dalam 6 menit.
Shin Tae-yong dibantu oleh penerjemahnya mengevaluasi para pemain pasca-laga melawan Bulgaria.
"Misalnya capek, stamina turun, paksa harus sampai nangis juga," kata Shin Tae-yong dari channel Youtube PSSI TV.
"Kemarin ada rasa nafas sudah di sini (tenggorokan) seperti mau pingsan nggak," tanya Shin kepada pemain Timnas Indonesia U-19.
"Rasa itu yang harus tetap ada. Lebih penting kita naikkin nafas hingga kehabisan nafas seperti itu ketimbang kita latihan fisik seperti ini," imbuhnya.
Shin menuntun para pemainnya untuk terus mendorong batas kemampuan mereka.
Salah satu pemain yang sempat pingsan di sesi latihan, terungkap juga dalam video di channel Youtube PSSI itu adalah Saddam Emiruddin Gaffar.
Akan tetapi Shin justru menganggap Saddam melakukan instruksinya secara benar.
"Nafas udah sampai kehabisan, seperti Saddam waktu itu jogging terus pingsan."
"Bukan mengatur nafas untuk main 90 menit, tetapi main 10 menit saja tapi maksimal dengan terus mendorong batas kemampuan tubuh," katanya.
"Jadi pesan saya kemarin adalah jangan pernah mengatur nafas sendiri untuk dapat bermain 90 menit," tambahnya.
Pada laga kedua, Timnas Indonesia U-19 juga harus kalah dengan skor 1-7 dari Kroasia.
Pasca dua laga tersebut, skuat Shin Tae-yong menjalani latihan pemulihan.
"Hari ini kami hanya satu kali latihan saja dengan menu recovery, terutama untuk pemain yang kemarin tampil melawan Kroasia," tutur Shin Tae-yong dilansir dari laman resmi PSSI pada Rabu (9/9/2020).
"Untuk pemain yang tidak tampil atau menit bermainnya tidak lama kami memberikan materi latihan seperti biasa," tambahnya.