Pejabat Tinggi Turki Kutuk Media Prancis Charlie Hebdo yang Hina Presiden Erdogan

Seperti diketahui, Charlie Hebdo -yang dikenal sebagai media satire- memuat karikatur Presiden Erdogan yang baru-baru ini mengkritik Presiden Prancis


zoom-inlihat foto
presiden-turki-recep-tayyip-erdogan-kiri-menyambut-pemimpin-turki-siprus-ersin-tatar-kanan.jpg
Adem ALTAN / AFP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) menyambut pemimpin Turki-Siprus Ersin Tatar (kanan) selama upacara resmi di Ankara, pada 26 Oktober 2020. Ersin Tatar yang didukung Ankara, pemimpin Siprus Turki yang baru terpilih, melakukan kunjungan resmi pertamanya di Ankara pada 26 Oktober 2020.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sejumlah pejabat tinggi Turki mengutuk media Prancis Charlie Hebdo yang mencemooh Presiden Erdogan.

Mereka menyebut media mingguan tersebut sebagai 'aksi yang menjijikan' dan justru 'menyebarkan rasisme dan kebencian'.

Seperti diketahui, Charlie Hebdo -yang dikenal sebagai media satire- memuat karikatur Presiden Erdogan yang baru-baru ini mengkritik Presiden Prancis Emmanuel Macron.

"Kami mengutuk keras publikasi mengenai Presiden kami di majalan Prancis yang tidak menghormati kepercayaan, kesucian, dan nilai apa pun," tulis juru bicara kepresidenan, Ibrahim Kalin di Twitter.

Kemarahan Turki atas karikatur tersebut menambah bara api kebencian setelah sebelumnya muak atas isu karikatur Nabi Muhammad oleh seorang guru, yang memicu tragedi pemenggalan kepala.

Baca: Majalah Prancis Tampilkan Karikatur Menjijikkan Erdogan, Turki Murka: Mereka Tak Punya Kesusilaan

(FILES) Dalam foto file ini diambil pada 5 Januari 2018 Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjalan saat konferensi pers bersama di Istana Elysee di Paris. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam pada 24 Oktober 2020 mitranya dari Prancis, Emmanuel Macron, atas kebijakannya terhadap Muslim, dengan mengatakan bahwa dia membutuhkan
(FILES) Dalam foto file ini diambil pada 5 Januari 2018 Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjalan saat konferensi pers bersama di Istana Elysee di Paris. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam pada 24 Oktober 2020 mitranya dari Prancis, Emmanuel Macron, atas kebijakannya terhadap Muslim, dengan mengatakan bahwa dia membutuhkan "pemeriksaan mental." "Apa yang bisa dikatakan tentang seorang kepala negara yang memperlakukan jutaan anggota dari kelompok agama yang berbeda seperti ini: pertama-tama, lakukan pemeriksaan mental," kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi. (LUDOVIC MARIN / POOL / AFP)

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 28 Oktober 1420: Beijing Ditetapkan sebagai Ibu Kota Dinasti Ming

"Mereka (media Charlie Hebdo) hanya mempertontonkan isu vulgar dan amoralitas mereka sendiri. Serangan terhadap hak pribadi ini bukanlah hal yang lucu dan bukan juga bagian dari kebebasan berekspresi," tambahnya, dilansir Reuters, Rabu (28/10/2020).

Karikatur Erdogan

Seperti diketahui, muncul karikatur kartun di sampul majalah Charlie Hebdo yang memperlihatkan Erdogan duduk dengan kaos dan celana dalam putih sambil memegang minuman kaleng.

Di gambar tersebut, Erdogan terlihat sedang bersama seorang wanita yang mengenakan jilbab Islami.

"Agenda anti-Islam dari Macron membuahkan hasil", kata Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki, Fahrettin Altun.

Baca: Peluncuran #Lambassador, MLA Kenalkan Manfaat Daging Domba Australia untuk Konsumen Indonesia

Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan), diapit oleh Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin (2L), berbicara kepada pers di depan sebuah sekolah menengah di Conflans Saint-Honorine, 30 km barat laut Paris, pada 16 Oktober 2020, setelah seorang guru dipenggal oleh penyerang yang ditembak mati oleh polisi. . Jaksa anti-teror Prancis mengatakan pada 16 Oktober mereka sedang menyelidiki serangan di mana seorang pria dipenggal di pinggiran kota Paris dan penyerang ditembak oleh polisi. Serangan itu terjadi sekitar pukul 5 sore (1500 GMT) di dekat sebuah sekolah di Conflans Saint-Honorine, pinggiran barat ibu kota Prancis. Pria yang dipenggal itu adalah seorang guru sejarah yang baru-baru ini memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad di kelas. Jaksa Prancis memperlakukan serangan itu sebagai insiden teror, yang bertepatan dengan persidangan yang diduga kaki tangan penyerang Charlie Hebdo 2015 dan terjadi beberapa minggu setelah seorang pria melukai dua orang yang menurutnya bekerja untuk majalah itu.
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan), diapit oleh Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin (2L), berbicara kepada pers di depan sebuah sekolah menengah di Conflans Saint-Honorine, 30 km barat laut Paris, pada 16 Oktober 2020, setelah seorang guru dipenggal oleh penyerang yang ditembak mati oleh polisi. . Jaksa anti-teror Prancis mengatakan pada 16 Oktober mereka sedang menyelidiki serangan di mana seorang pria dipenggal di pinggiran kota Paris dan penyerang ditembak oleh polisi. Serangan itu terjadi sekitar pukul 5 sore (1500 GMT) di dekat sebuah sekolah di Conflans Saint-Honorine, pinggiran barat ibu kota Prancis. Pria yang dipenggal itu adalah seorang guru sejarah yang baru-baru ini memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad di kelas. Jaksa Prancis memperlakukan serangan itu sebagai insiden teror, yang bertepatan dengan persidangan yang diduga kaki tangan penyerang Charlie Hebdo 2015 dan terjadi beberapa minggu setelah seorang pria melukai dua orang yang menurutnya bekerja untuk majalah itu. (ABDULMONAM EASSA / POOL / AFP)

Baca: Seorang Ibu Nekat Jual Bayi yang Baru Lahir Rp 4,7 Juta untuk Biaya Tiga Anak Pertamanya





Halaman
12
Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Putradi Pamungkas






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Ramalan Zodiak Keuangan Hari Ini

    Berikut ramalan zodiak keuangan hari ini Minggu 13
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved