Ekonom Turki: Alasan Erdogan Bersitegang dengan Eropa Karena Gagal Atasi Ekonomi saat Pandemi

Menurut Ugur Gurses, salah satu alasan Erdogan membuat masalah dengan Eropa adalah karena gagal mengatasi masalah ekonomi Turki di tengah pandemi.


zoom-inlihat foto
presiden-prancis-emmanuel-macron-kanan-dan-presiden-turki-recep-tayyip-erdogan.jpg
LUDOVIC MARIN / POOL / AFP
FOTO: Diambil pada 5 Januari 2018 Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjalan saat konferensi pers bersama di Istana Elysee di Paris. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam Prancis pada 24 Oktober 2020, atas kebijakannya terhadap Muslim, dengan mengatakan bahwa dia membutuhkan "pemeriksaan mental." "Apa yang bisa dikatakan tentang seorang kepala negara yang memperlakukan jutaan anggota dari kelompok agama yang berbeda seperti ini: pertama-tama, lakukan pemeriksaan mental," kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Seorang pakar ekonomi dari Turki mengatakan bahwa bukan hal yang mengherankan Presiden Tayyip Recep Erdogan meningkatkan ketegangan dengan 'barat' dalam hal ini negara-negara Eropa, khususnya Prancis belakangan ini.

Menurut Ugur Gurses, salah satu alasan Erdogan membuat masalah dengan Eropa adalah karena gagal mengatasi masalah ekonomi Turki di tengah pandemi Covid-19.

"Jajak pendapat menunjukkan ada penurunan dukungan secara signifikan dari partai yang berkuasa dan sekutunya", kata Gurses.

Gurses menyebut Erdogan butuh cara agar suaranya meningkat.

"Erdogan tahu jika Eropa atau Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada Turki maka, suara dukungan terhadapnya akan meningkat. Itulah alasan dia berselisih dengan Macron dan Trump," katanya, dilansir Deutsche Welle (DW), Rabu (28/10/2020).

Baca: Uni Eropa Ancam Berikan Sanksi Jika Turki Tidak Hentikan Provokasi Pemboikotan Produk Prancis

Presiden Turki dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) Recep Tayyip Erdogan berpidato pada pertemuan kelompok partainya di Majelis Besar Nasional Turki di Ankara, pada 28 Oktober 2020.
Presiden Turki dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) Recep Tayyip Erdogan berpidato pada pertemuan kelompok partainya di Majelis Besar Nasional Turki di Ankara, pada 28 Oktober 2020. (Adem ALTAN / AFP)

Baca: Peringati Maulid Nabi Muhammad 2020, Berikut Kumpulan Ucapan yang Bisa Kamu Bagikan di Media Sosial

Ribut Isu Karikatur

Belakangan ini dunia internasional geger setelah pembunuhan Samuel Paty, seorang guru yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada siswanya.

Otoritas Prancis melancarkan tindakan keras terhadap apa yang mereka sebut sebagai 'Islam Radikal' dengan menutup satu masjid dan mengrebek sejumlah bangunan ibadah.

Seperti diketahui, Presiden Turki Tayyip Erdogan menilai Macron memiliki agenda 'anti-Islam' dibalik pernyataan dukungannya untuk guru tersebut.

Erdogan juga sempat mengatakan bahwa Macron perlu melakukan 'tes kesehatan mental' atas pernyataan mengenai ketidaksepakatan Macron atas Islam Radikal.

Baca: Copet Nyamar Jadi Mahasiswa saat Demo Tolak Omnibus Law, Ngaku Dapat Almamater

Presiden Turki dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) Recep Tayyip Erdogan berpidato pada pertemuan kelompok partainya di Majelis Besar Nasional Turki di Ankara, pada 28 Oktober 2020.
Presiden Turki dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) Recep Tayyip Erdogan berpidato pada pertemuan kelompok partainya di Majelis Besar Nasional Turki di Ankara, pada 28 Oktober 2020. (Adem ALTAN / AFP)

Baca: Surat Kematian Anaknya Dipersulit, Ibu dari Surabaya Ini Urus Akta hingga ke Jakarta

Macron pernah mengucap pernyataan yang kontroversial pada 23 Oktober 2020 berbunyi: "Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di dunia, termasuk di Prancis yang menjunjun sekularisme"

Inilah yang kemudian menghadirkan seruan pemboikotan produk-produk Prancis yang diikuti sejumlah negara-negara di Timur Tengah.

Inilah yang kemudian diprotes para petinggi negara-negara Eropa.

Sebagai informasi, Turki dan Prancis sama-sama merupakan anggota aliansi militer NATO, tetapi sering berselisih mengenai isu-isu sensitif, termasuk Suriah dan Libya, yuridiksi maritim wilayah timur Mediterania dan konflik di Nagorno-Karabakh.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved