Seorang Perawat Dipecat karena Anggap Covid-19 Hanya Hoax: Saya Tak Melihat Ada Bukti Virus Corona

Seorang perawat di sebuah rumah perawatan terpaksa dipecat karena tak percaya akan adanya virus corona.


zoom-inlihat foto
carley-louise-stewart-31-turun-ke-jalan-london-untuk-memprotes-virus-corona.jpg
The Sun / Kredit: Carley Louise Stewart
Carley Louise Stewart, 31, turun ke jalan London untuk memprotes virus yang dia klaim sebagai 'tipuan'.


Achmad, sapannya, mengaku sempat tidak mempercayai adanya virus corona, lantaran tidak pernah melihat bukti nyata di lingkungannya.

Bahkan, disaat tingginya angka penambahan kasus corona, Achmad masih juga kurang percaya.

"Saya enggak pernah liat bukti konkret di lingkungan saya, semua teman-teman saya juga terlihat masih aman-aman saja."

"Jadi, percaya nggak percaya sama virus corona karena ngga liat langsung, eh tau-taunya ngerasain sendiri," tutur Achmad kepada Tribunnews, Rabu (9/9/2020).

Adapun lelaki berusia 21 tahun ini terkena Covid-19 dari klaster keluarga.

Baca: Donald Trump Sebut China Melepaskan Virus Corona, China: Tuduhan Tak Berdasar, demi Tujuan Politik

Ia tertular dari kakak kandungnya, yang bekerja dari kantor di kawasan Jakarta Barat.

"Kakak saya ini termasuk yang OTG, berhubung saya kontak langsung dengan kakak saya, jadi kita berdua isolasi mandiri di rumah," terangnya.

Achmad menceritakan, terhitung total dirinya dan sang kakak melakukan pemulihan, sekitar tiga minggu lamanya.

"Kita fokus perbanyak minum vitamin dan minuman rempah seperti jamu dan VCO."

"Terus tidur cukup dan makan teratur serta berjemur setiap pagi sampai gejala itu hilang dan kita sudah merasa sehat seperti biasa," ungkapnya.

Hingga akhirnya pada 19 Agustus lalu, Achmad dan kakaknya telah benar-benar pulih dari Covid-19.

"Bisa dibilang untuk pemulihannya sekitar tiga mingguan dan kita melakukan isolasi mandiri selama satu bulan," ujarnya.

Terkena Corona menjelang Sidang Skripsi

Lelaki yang tinggal di Depok, Jawa Barat ini menceritakan, saat dirinya tengah berjuang melawan virus, ia juga berjuang untuk lulus dari sidang skripsinya.

Kondisi perjuangan 'ganda' ini membuat Achmad sempat mengalami tekanan yang cukup berat.

Kala itu, dalam rentang waktu satu minggu mulai 30 Juli hingga 6 Agustus, Achmad dikejar untuk menyelesaikan penulisan skripsi.

Namun, ia juga harus bolak-balik menjalani tes swab PCR.

"Jadi dalam minggu itu saya benar-benar stres banget, istirahat kurang, makan juga jadi seadanya."

Baca: Agar Tercipta Kekebalan Efektif, 180 Juta Penduduk Indonesia Akan Disuntik Vaksin Covid-19

"Kurang fokus untuk makan vitamin, jadi lebih fokus untuk menyelesaikan penulisan untuk sidangnya," ujar Achmad.

Bahkan saat menjalani sidang skripsi pada 6 Agustus lalu, Achmad tidak menceritakan kondisinya yang tengah terpapar virus kepada para dosen.





Halaman
123
Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved