TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perusahaan di Belanda sedang mengembangkan sebuah peti mati yang terbuat dari jamur.
Perusahaan tersebut bahkan telah berhasil menjual peti mati yang sedang dikembangkannya tersebut.
Dengan peti mati dari tersebut, bertujuan untuk menyediakan kehidupan baru setelah kematian.
Peti mati ini dinamai Loop Cocoon.
Bahannya terbuat dari miselium yaitu struktur akar bawah tanah dari jamur.
Dilansir oleh CBC News pada Rabu (23/9/2020), sebuah perusahaan rintisan Belanda menciptakan 'peti mati hidup' yang dapat terurai secara hayati yang terbuat dari jamur.
Baca: Soal Sanksi Masuk ke Peti Mati Dianggap Kristenisasi, Wagub DKI Jakarta: Nggak Ada Hubungannya
Peti tersebut bukan terbuat dari kayu melainkan terbuat dari jamur.
Dengan peti tersebut tubuh manusia yang membusuk bisa diubah menjadi nutrisi utama bagi tanaman yakni pupuk.
Perusahaan Loop mengatakan peti jenazahnya terbuat dari miselium, struktur akar bawah tanah dari jamur dan diisi dengan lumut untuk merangsang pembusukan.
Bob Hendrikx, pencipta peti mati menjelaskan mengenai hasil ciptaannya.
"Miselium adalah pendaur ulang alam terbesar.
Ia terus mencari makanan dan mengubahnya menjadi nutrisi tanaman," katanya.
Miselium juga memakan racun dan mengubahnya menjadi nutrisi.
"Ini digunakan di Chernobyl untuk membersihkan tanah di sana dari bencana nuklir," kata Hendrikx.
"Hal yang sama terjadi di tempat pemakaman kami, karena tanah di sana sangat tercemar dan miselium sangat menyukai logam, minyak, dan mikroplastik," ungkapnya.
Peti mati itu ditanam seperti tanaman dalam waktu seminggu di lab perusahaan di Universitas Teknologi Delft dengan mencampurkan miselium dengan serpihan kayu dalam cetakan peti mati.
Baca: Tak Ada Hari Libur, Ini Kisah Penggali Kuburan Pasien Covid-19 di Tangerang
Setelah miselium tumbuh melalui serpihan kayu, peti mati dikeringkan dan memiliki kekuatan yang cukup untuk membawa beban hingga 200 kilogram.
Setelah terkubur, interaksi dengan air tanah akan melarutkan peti mati dalam waktu 30 sampai 45 hari.
Penguraian tubuh diperkirakan hanya memakan waktu dua hingga tiga tahun, bukan 10 hingga 20 tahun yang dibutuhkan dengan peti mati tradisional.
Loop sejauh ini telah mengembangkan dan menjual 10 peti mati hidup, kata Hendrikx.