Hasil Studi PBB Ungkap yang Paling Diinginkan dan Ditakuti Warga Dunia: Akses Kesehatan Jadi Impian

Penelitian itu melibatkan 1 juta orang dari seluruh dunia melaui jajak pendapat singkat.


zoom-inlihat foto
bendera-pbb.jpg
LUDOVIC MARIN / AFP
Bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terlihat berkibar selama Climate Action Summit 2019 di Balai Pertemuan Majelis PBB di Kota New York pada 23 September 2019. PBB pada September 2020 menerbitkan hasil riset yang mengungkapkan hal yang paling diinginkan dan paling dibenci masyarakat dunia.


Penelitian itu melibatkan 1 juta orang dari seluruh dunia melaui jajak pendapat singkat selama satu menit.

Di samping itu, ada 50.000 orang dari 50 negara yang ambil bagian dalam wawancara yang lebih mendetail.

PBB juga menggelar lebih dari 1.000 dialog dengan perwakilan dari 82 negara.

Perserikatan itu juga menganalisis media massa dan media sosial di 70 negara.

Baca: Covid-19 Belum Usai, WHO Sudah Ingatkan Dunia Harus Siap Hadapi Pandemi Berikutnya

PBB: Covid-19 Bisa Sebabkan 34 Juta Orang Jatuh ke dalam Jurang Kemiskinan Ekstrem

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan dampak pandemi Covid-19 terhadap ekonomi dunia, Rabu (13/5/2020).

Diberitakan TribunnewsWiki.com dari VOA, pandemi dapat menyebabkan output ekonomi anjlok hingga 8,5 triliun USD selama dua tahun ke depan.

Akibatnya, lebih dari 34 juta orang akan jatuh dalam jurang kemiskinan ekstrem.

"Kami sekarang menghadapi kenyataan suram dari resesi parah - salah satu yang belum pernah terlihat sejak Depresi Hebat," kata ekonom tingkat atas PBB, Elliott Harris.

(ILUSTRASI Pandemi Covid-19 bisa picu kelaparan) Antrian orang-orang yang membutuhkan dengan piring di tangan di luar rumah Samantha Murozoki di Chitungwizaon pada 5 Mei 2020, di mana dia memberi makan orang kurang mampu makanan gratis selama pemerintah memberlakukan periode penguncian COVID-19 coronavirus di Zimbabwe. Dengan bantuan sukarelawan, Samantha Murozoki menyajikan lebih dari 100 makanan hangat per hari dari rumahnya kepada keluarga kurang mampu yang pendapatan rumah tangganya telah terputus oleh penutupan semua pasar informal selama penutupan.
(ILUSTRASI Pandemi Covid-19 bisa picu kelaparan) Antrian orang-orang yang membutuhkan dengan piring di tangan di luar rumah Samantha Murozoki di Chitungwizaon pada 5 Mei 2020, di mana dia memberi makan orang kurang mampu makanan gratis selama pemerintah memberlakukan periode penguncian COVID-19 coronavirus di Zimbabwe. Dengan bantuan sukarelawan, Samantha Murozoki menyajikan lebih dari 100 makanan hangat per hari dari rumahnya kepada keluarga kurang mampu yang pendapatan rumah tangganya telah terputus oleh penutupan semua pasar informal selama penutupan. (Jekesai NJIKIZANA / AFP)

Adapun depresi ekonomi yang dimaksud Harris ialah depresi ekonomi global yang dimulai di Amerika Serikat pada tahun 1929 dan tersebar di seluruh dunia selama beberapa tahun.

Dalam laporan tengah tahun berjudul "Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia", PBB memperkirakan bahwa ekonomi global akan menyusut sebesar 3,2% pada tahun 2020, serta hanya membuat sedikit rebound tahun depan.

Perdagangan dunia diperkirakan akan turun 15%.

Total kerugian $ 8,5 triliun pada 2020-2021, yang berarti hampir semua keuntungan dalam empat tahun terakhir akan terhapus.

"Krisis kembar (kesehatan dan ekonomi) membuat kebijakan trade-off yang sangat sulit," kata Harris.

Dia menekankan bahwa pemerintah perlu menahan penyebaran pandemi sambil meminimalkan dampak ekonominya.

(Tribunnewswiki/Tyo/Rosi) 





Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved