TRIBUNNEWSWIKI.COM - Hasil riset Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berjudul "UN75: The future we want, the United Nations we need" mengungkapkan apa yang diinginkan dan ditakuti masyarakat di seluruh dunia.
Diterbitkan pada Senin, (21/9/2020), hasil riset itu menyebut masyarakat menginginkan interaksi pemerintah dan organisasi internasional yang lebih banyak, akses yang lebih baik pada pelayanan kesehatan, pelayanan sosial dasar, perlengkapan kebersihan, dan pendidikan.
Dilansir dari TASS, (22/9/2020), mayoritas responden menyebut "akses yang lebih baik pada pelayanan dasar: pelayanan kesehatan, air bersih, sanitasi, dan edukasi" sebagai prioritas mereka.
Pelayanan kesehatan menjadi prioritas jangka panjang bagi 300.000 responden.
"Meskipun kesehatan terlihat menjadi prioritas saat ini, sebenarnya hal ini adalah salah satu bidang yang diharapkan banyak orang akan meningkat dalam 25 tahun mendatang," demikian bunyi pernyataan hasil riset tersebut.
Sebanyak 72% responden percaya bahwa akses pada pelayanan kesehatan akan sama atau meningkat kelak di masa depan.
Baca: Trump Tuduh WHO Boneka China, PBB Umumkan Amerika Serikat Keluar dari WHO Mulai 6 Juli 2021
Bagi para responden, prioritas utama selanjutnya adalah "solidaritas yang lebih besar dan peningkatan dukungan terhadap tempat-tempat yang terdampak paling parah oleh pandemi," termasuk mengatasi kemiskinan, ketimpangan, dan memperbanyak lapangan kerja.
Selain itu, mereka juga percaya bahwa "akses pada pendidikan dan hak-hak perempuan akan meningkat".
Ketakutan
Menurut hasil studi, masyarakat dunia paling takut pada perubahan iklim, korupsi, dan kemiskinan.
"Mayoritas responden di seluruh wilayah paling takut terhadap dampak masa depan dari perubahan iklim. Ketidakmampuan kita untuk melawan krisis iklim dan kerusakan alam menjadi kekhawatiran jangka menengah dan panjang yang terbesar dari para responden," demikian pernyataan dalam hasil studi.
Baca: Kerajaan Arab Saudi Sumbang Dana Rp 1,48 Triliun ke WHO untuk Bantu Atasi Pandemi Covid-19
Menurut jajak pendapat, 49% dari para responden percaya bahwa situasi lingkungan global di planet ini akan memburuk di masa depan.
Di samping lingkungan, masyarakat dunia paling takut terhadap kemiskinan, korupsi pemerintahan, pengangguran, dan kekerasan di masyarakat yang semakin parah.
Secara khusus, 41% responden memperkirakan korupsi akan memburuk kelak di masa depan.
Sementara itu, 87% responden percaya bahwa "kerja sama internasional penting dalam menangani berbagai tantangan saat ini".
Mayoritas percaya bahwa pandemi Covid-19 telat membuat kerja sama internasional semakin penting.
Sekjen PBB Antonio Guterres dalam pidatonya di Majelis Umum PBB menyebut pemenuhan keinginan masyarakat dunia adalah kewajiban negara anggota PBB.
Baca: Aliansi Antar-Parlemen untuk China (IPAC) Minta PBB Selidiki Kasus Kejahatan terhadap Etnis Uighur
Dia mengatakan masyarakat dunia takut terhadap krisis iklim, kemiskinan, ketimpangan, korupsi, dan diskriminasi rasial dan gender yang tersistem.
"Mereka melihat PBB sebagai wahana untuk membuat dunia menjadi lebih baik," kata Guterres.
"Kewajiban itu terutama terletak pada semua negara anggota."
Penelitian itu melibatkan 1 juta orang dari seluruh dunia melaui jajak pendapat singkat selama satu menit.
Di samping itu, ada 50.000 orang dari 50 negara yang ambil bagian dalam wawancara yang lebih mendetail.
PBB juga menggelar lebih dari 1.000 dialog dengan perwakilan dari 82 negara.
Perserikatan itu juga menganalisis media massa dan media sosial di 70 negara.
Baca: Covid-19 Belum Usai, WHO Sudah Ingatkan Dunia Harus Siap Hadapi Pandemi Berikutnya
PBB: Covid-19 Bisa Sebabkan 34 Juta Orang Jatuh ke dalam Jurang Kemiskinan Ekstrem
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan dampak pandemi Covid-19 terhadap ekonomi dunia, Rabu (13/5/2020).
Diberitakan TribunnewsWiki.com dari VOA, pandemi dapat menyebabkan output ekonomi anjlok hingga 8,5 triliun USD selama dua tahun ke depan.
Akibatnya, lebih dari 34 juta orang akan jatuh dalam jurang kemiskinan ekstrem.
"Kami sekarang menghadapi kenyataan suram dari resesi parah - salah satu yang belum pernah terlihat sejak Depresi Hebat," kata ekonom tingkat atas PBB, Elliott Harris.
Adapun depresi ekonomi yang dimaksud Harris ialah depresi ekonomi global yang dimulai di Amerika Serikat pada tahun 1929 dan tersebar di seluruh dunia selama beberapa tahun.
Dalam laporan tengah tahun berjudul "Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia", PBB memperkirakan bahwa ekonomi global akan menyusut sebesar 3,2% pada tahun 2020, serta hanya membuat sedikit rebound tahun depan.
Perdagangan dunia diperkirakan akan turun 15%.
Total kerugian $ 8,5 triliun pada 2020-2021, yang berarti hampir semua keuntungan dalam empat tahun terakhir akan terhapus.
"Krisis kembar (kesehatan dan ekonomi) membuat kebijakan trade-off yang sangat sulit," kata Harris.
Dia menekankan bahwa pemerintah perlu menahan penyebaran pandemi sambil meminimalkan dampak ekonominya.
(Tribunnewswiki/Tyo/Rosi)