Roket Gaza dan Serangan Udara Israel, Tandai Kesepakatan Israel dengan UAE serta Bahrain

Rakyat Palestina menganggap kesepakatan yang ditengahi oleh AS itu sebagai pengkhianatan


zoom-inlihat foto
kesepakatan-bahrain-israel.jpg
SAUL LOEB / AFP
(Kiri-kanan) Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif al-Zayani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald Trump, dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UAE) Abdullah bin Zayed Al-Nahyan dalam penandatangan Kesepakatan Abraham. Dalam kesepakatan di Gedung Putih yang bertanggal 15 September 2020 itu, Bahrain dan UAE mengakui kedaulatan Israel, September 15, 2020.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Di tengah normalisasi hubungan Israel dengan dua negara Teluk Arab, militan di Gaza meluncurkan roket ke Israel.

Di sisi lain, pesawat Israel mencapai targetnya di daerah kantong penduduk Palestina.

Dilansir dari Reuters, (16/9/2020), militer Israel mengatakan telah meluncurkan sekitar 10 serangan udara ke Gaza yang dikuasai Hamas pada Rabu pagi ini, (16/9/2020).

Sementara itu, ada 15 roket yang telah ditembakkan dari Gaza ke permukiman Israel di dekat perbatasan.

Pada Selasa, (15/9/2020), di tengah penandatanganan untuk menjalin hubungan diplomatik antara Israel dan (Uni Emirat Arab) UAE serta Bahrain yang berlangsung di Gedung Putih, roket dari Gaza mengenai Kota Ashdod di Israel dan melukai dua orang.

Baca: Merasa Ditikam Negara-negara Arab, Hamas dan Fatah Bersatu Pimpin Rakyat Palestina Lawan Israel

(Kiri-kanan) Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif al-Zayani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald Trump, dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UAE) Abdullah bin Zayed Al-Nahyan dalam penandatangan Kesepakatan Abraham di Gedung Putih, 15 September 2020.
(Kiri-kanan) Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif al-Zayani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald Trump, dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UAE) Abdullah bin Zayed Al-Nahyan dalam penandatangan Kesepakatan Abraham di Gedung Putih, 15 September 2020. (SAUL LOEB / AFP)

"Saya tidak terkejut bahwa 'teroris Palestina' menyerang Israel tepat ketika kesepakatan bersejarah ini berlangsung," kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelum dia kembali terbang ke Israel.

"Mereka ingin mengusir kedamaian. Dalam hal ini, mereka tidak akan berhasil," kata dia kepada wartawan.

"Kami akan menghalangi mereka yang mengancam mencelakai kami, dan kami akan merangkul semua orang yang mengulurkan tangan perdamaian kepada kami."

Rakyat Palestina menganggap kesepakatan yang ditengahi oleh AS itu sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan mereka.

Tidak ada laporan korban jiwa di kedua pihak dalam serangan ini.

Baca: Normalisasi Hubungan Israel Memungkinkan Umat Yahudi Bisa Beribadah di Kompleks Al-Aqsa

Orang-orang Palestina membawa plakat selama aksi protes di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 12 September 2020 untuk mengutuk normalisasi hubungan antara Bahrain dan Israel. Iran menyebut tindakan normalisasi yang dilakukan Bahrain
Orang-orang Palestina membawa plakat selama aksi protes di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 12 September 2020 untuk mengutuk normalisasi hubungan antara Bahrain dan Israel. Iran menyebut tindakan normalisasi yang dilakukan Bahrain "memalukan". (SAID KHATIB / AFP)

Militer Israel mengatakan delapan roket yang ditembakkan ke wilayah Israel telah dihentikan oleh sistem antirudal Iron Dome.

Dalam sebuah pernyataan, militer tersebut mengatakan target mereka di Gaza termasuk pabrik pembuatan senjata dan bahan peledak dan kamp yang digunakan Hamas untuk berlatih menguji roket.

Iran Sebut Tindakan Bahrain Menormalisasi Hubungan dengan Israel 'Memalukan'

Iran pada Sabtu, (12/9/2020), menyebut langkah Bahrain menormalisasi hubungan dengan Israel akan menyeret negara itu ke dalam kebijakan Israel yang mengancam keamanan, menurut laporan TV Iran.

Kesepakatan Bahrain-Israel, yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat, (11/9/2020), sebagian dibuat karena kewaspadaan bersama terhadap Iran.

Dilansir dari Reuters, (12/9/2020), Kementerian Luar Negeri Iran akan meminta pertanggungjawaban pemerintah Bahrain dan sekutunya atas ketidakstabilan yang disebabkan Israel di wilayah Teluk Arab.

Baca: Presiden AS Donald Trump Dinominasikan Terima Nobel, Dianggap Berjasa dalam Normalisasi Israel-UEA

Orang-orang Palestina menganggap Bahrain sebagai pengkhianat setelah negara itu menormalisasi hubungan dengan Israel.
Orang-orang Palestina menganggap Bahrain sebagai pengkhianat setelah negara itu menormalisasi hubungan dengan Israel. (SAID KHATIB / AFP)

Penduduk Palestina khawatir pergerakan Bahrain dan Uni Emirat Arab (UAE) akan melemahkan posisi persatuan Arab (pan-Arab) yang sudah lama meminta penarikan orang-orang Israel dari wilayah yang diduduki mereka dan penerimaan atas adanya negara Palestina, sebagai syarat normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab.

Bahrain menjadi negara Arab keempat yang mencapai kesepakatan dengan Israel, yang telah memiliki kedutaan di Mesir dan Yordania berdekade-dekade silam.

UAE sudah setuju menormalisasi hubungannya dengan Israel sebulan yang lalu dengan AS sebagai penengahnya.

"Langkah memalukan Bahrain mengorbankan gerakan rakyat Palestina dan perjuangan selama berdekade-dekade ... demi pemilihan AS," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran yang dikutip oleh TV Iran.

Baca: Raja Salman Tak Akan Normalisasi Hubungan dengan Israel, Kecuali Ada Kejelasan Status Palestina

Bahrain menjadi negara tempat markas regional Angkatan Laut Amerika berada.

Arab Saudi mengirim pasukan ke negara itu pada tahun 2011 untuk membantu memadamkan pemberontakan Muslim Syiah terhadap kepemimpinan yang didominasi Sunni.

Iran yang didominasi Syiah, dan Arab Saudi yang mayoritas Sunni memiliki rivalitas sengit.

(Tribunnewswiki/Tyo)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved