TRIBUNNEWSWIKI.COM – Sebuah badan pemantau kesehatan dunia memperingatkan, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan pandemi selanjutnya di saat dunia tengah berjibaku menghadapi pandemi virus corona yang menghancurkan.
Dalam laporan terbaru, Dewan Pemantau Kesiapsiagaan Global (GPMB), sebuah badan independen yang dibuat oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia, mengecam betapa minimnya persiapan dunia dalam menghadapi pandemi, meskipun sudah banyak peringatan
"Pandemi Covid-19 memberikan ujian keras bagi kesiapan dunia," kata laporan itu yang dilansir oleh South China Morning Post.
Laporan tersebut juga menyimpulkan bahwa sedikit kemajuan telah dibuat pada tindakan apa pun yang telah diserukan dalam laporan awalnya tahun lalu, sebelum Covid-19 menyerang.
"Kegagalan untuk mempelajari pelajaran dari pandemi Covid-19 atau menindaklanjutinya dengan sumber daya dan komitmen yang diperlukan akan berarti bahwa pandemi berikutnya, yang pasti akan datang, akan lebih merusak," katanya memperingatkan.
Baca: Ilmuwan Khawatir karena Perusahaan Vaksin Covid-19 Kurang Terbuka Mengenai Detail Keamanan Produknya
Gro Harlem Brundtland, ketua bersama GPMB sekaligus mantan kepala WHO, menekankan selama peluncuran virtual laporan itu pada Senin, bahwa dewan telah memperingatkan setahun yang lalu bahwa dunia tidak siap menghadapi pandemi.
“Dampak Covid-19 bahkan lebih buruk dari yang kami perkirakan, tetapi tindakan yang kami serukan tahun lalu, masih belum diambil, kata Brundtland.
Laporan itu muncul ketika jumlah kematian akibat covid-19 global telah mendekati angka satu juta, dari hampir 30 juta kasus yang diketahui sejak Covid-19 pertama kali terdeteksi di China akhir tahun lalu.
Para ahli memperkirakan, jumlah kasus sebenarnya jauh lebih tinggi daripada penghitungan resmi.
Dalam hal jumlah absolut, Amerika Serikat, Brasil, dan India merupakan negara yang paling parah terkena dampak, dengan jumlah kematian di AS mendekati 200.000.
Baca: Rekor Baru Dunia, Kasus Covid-19 Harian Tembus 307 Ribu, India Laporkan Kasus Baru Terbanyak
Di satu sisi, para produsen vaksin global berlomba untuk mengembangkan vaksin yang efektif melawan virus corona baru ini.
China, negara pertama yang mengkonfirmasi kasus Covid-19 telah memiliki empat vaksin Covid-19 dalam tahap akhir uji klinis.
Setidaknya tiga di antaranya telah ditawarkan kepada pekerja penting di bawah program penggunaan darurat yang diluncurkan pada bulan Juli.
Brundtland, juga bersikeras bahwa sudah waktunya untuk memutus "siklus panik dan pengabaian" yang telah menimbulkan konsekuensi "bencana" dari Covid-19.
Dewan Pemantau Kesiapsiagaan global sekali lagi menyerukan kerja sama global yang luas dan pembiayaan jangka panjang yang signifikan untuk kesiapsiagaan dan pencegahan pandemi.
Baca: Ahli Virus dari China Ini Sebut Covid-19 Bermula dari Buatan Manusia, Mengklaim Punya Bukti Ilmiah
Ia mendesak PBB, WHO dan lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia untuk mengadakan pertemuan puncak tentang darurat kesehatan global, yang bertujuan untuk menyetujui kerangka kerja internasional untuk kesiapsiagaan dan tanggap darurat.
“Kerangka kerja tersebut harus mencakup antara lain mekanisme untuk memastikan pembiayaan yang berkelanjutan dan dapat diprediksi pada skala yang diperlukan,” kata Brundtland.
“Pengembalian investasi dalam kesiapsiagaan pandemi sangat besar,” katanya, menunjukkan bahwa perkiraan biaya pencegahan dan kesiapsiagaan diukur dalam miliaran dolar, tetapi biaya pandemi diukur dalam triliunan.
Kepala WHO saat ini Tedros Adhanom Ghebreyesus menyetujui pendapat Brundtland tersebut.
Ia mengatakan pada acara virtual tersebut bahwa pengeluaran untuk kesehatan dan kesiapsiagaan bukanlah amal, melainkan sebuah investasi untuk masa depan.
Baca: Tak Seratus Persen Sempurna, Ini Kelemahan Vaksin Covid-19 Buatan Sinovac dari China