TRIBUNNEWSWIKI.COM - Situasi perekonomian global saat ini terbentur akibat dampak adanya pandemi Covid-19.
Ekonomi dunia terguncang dan lesu akibat dampak lockdown dan pembatasan-pembatasan pergerakan sosial demi mengurangi efek penularan Covid-19.
Satu per satu negara di dunia akhirnya mengumumkan status ekonomi telah memasuki masa resesi.
Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata, resesi juga diprediksi akan menerpa negara ini
Resesi ekonomi disebut akan terjadi sebentar lagi di Indonesia pada kuartal III.
Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati mengonfirmasi kalau perekonomian Indonesia akan bersiap masuk jurang resesi pada kuartal III-2020.
Senada dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga turut memprediksi Indonesia akan mengalami resesi.
Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara memperkirakan ekonomi kuartal III minus 2 persen.
Baca: Indonesia Terancam Resesi, Berikut Tips Keuangan Hadapi Era Krisis, Berlaku juga untuk Generasi Muda
Baca: Menkeu Isyaratkan Indonesia Bakal Masuk Jurang Resesi Ekonomi 2020, Apa Itu Resesi?
Dia memperkirakan, minusnya pertumbuhan kuartal III 2020 disebabkan karena lesunya konsumsi/daya beli masyarakat di tengah pandemi Covid-19.
"Pertumbuhan kita sebelumnya (kuartal II) -5,32 persen."
"Kita siap-siap (di kuartal III 2020) bisa minus 2 persen," kata Tirta, Senin (7/9/2020), dikutip Tribunnewswiki.com dari laman Kompas.com berjudul OJK Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Minus 2 Persen.
Tirta mengungkap, anjloknya daya beli akibat pandemi Covid-19 tak lepas dari semakin meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan.
Tercatat sejak pandemi Covid-19 melanda, ada penambahan 4,86 juta penduduk miskin baru.
Belum lagi banyak karyawan atau pekerja yang terkena PHK besar-besaran.
Setidaknya, sebanyak 22 persen kepala keuangan kehilangan mata pencaharian dalam waktu rentang yang beriringan dengan pandemi ini.
Berdasarkan asumsi makro, pengangguran meningkat antara 3-5 juta orang dan kemiskinan meningkat hampir 2-5 juta orang.
Mereka yang tidak lagi memiliki pekerjaan, harus merelakan tabungannya untuk mempertahankan daya beli.
Tak hanya orang yang bekerja, mereka yang memiliki bisnis atau usaha juga sedang dalam kondisi tak menyenangkan.
Baca: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Masih Negatif, Indonesia di Ambang Resesi
Baca: Indonesia di Ambang Resesi, Wamenkeu Suahasil Nazara: Jangan Khawatir soal Label Resesi
Tercatat, 48 persen pengusaha sudah menggunakan uang tabungannya untuk dapat bertahan hidup, terutama sejak pandemi Covid-19 muncul.
"Banyak rumah tangga yang mengalami kesulitan keuangan, tidak ada mata pencaharian dan mereka mulai memakan tabungan untuk mempertahankan hidup."
"Apakah dengan demikian kita menyerah? Kita tidak harus menyerah begitu saja," pungkasnya.
Jika pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal III 2020 masih terkontraksi, Indonesia artinya resmi memasuki jurang resesi.
Secara teknikal, resesi bisa diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi yang berturut-turut mencatatkan minus selama 2 kuartal.
Sebelumnya di kuartal II 2020, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi terkontraksi -5,32 persen.
Secara kuartalan, ekonomi terkontraksi 4,19 persen dan secara kumulatif terkontraksi 1,26 persen.
Kontraksi ekonomi itu lebih tinggi dari proyeksi pemerintah.
Resesi akan berdampak luas, mengingat penumbuhan kembali sektor-sektor usaha yang sudah kolaps tidak semudah membalikkan tangan.
Apa yang bisa dilakukan ketika resesi ?
Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati mengonfirmasi kalau perekonomian Indonesia akan bersiap masuk jurang resesi pada kuartal III-2020.
"Di kuartal III 2020, ekonomi kita masih mengalami negative growth, bahkan di kuartal IV 2020 masih dalam zona sedikit di bawah netral," ujar Sri Mulyani pada Kamis (3/9/2020) lalu.
Sebagai catatan sejara, Indonesia sendiri pernah mengalami resesi ekonomi, yakni pada tahun 1998.
Jika sebagian besar generasi muda seperti milenial dan gen Z masih usia anak-anak ketika Indonesia mengalami resesi, kali ini sebagian besar generasi milenial dan gen z bersiap untuk merasakan secara langsung apa itu resesi ekonomi.
Terlebih, generasi milenial dan gen z saat ini sebagian sudah masuk ke usia produktif dan tentu akan merasaka langsung efek domino perekonomian akibat dampak dari resesi.
Lalu, apa tips yang bisa dilakukan bagi generasi muda jika suatu saat Indonesia memasuki resesi?
Mengutip dari Kontan.co.id, berikut Tribunnewswiki.com sajikan beberapa tips bagi Anda dan juga bisa diterapkan oleh generasi muda jika Indonesia nantinya akan melewati resesi ekonomi:
1. Siapkan dana darurat
Jika saat ini Anda berada dalam posisi di mana Anda masih memiliki pendapatan dan menabung, maka ini adalah saat yang tepat untuk mulai berpikir tentang dana darurat.
Anda bisa memasukkan kelebihan uang tunai ke dalam rekening tabungan yang mudah diakses, tanpa denda atau potensi kehilangan uang berupa bunga.
Besaran dana darurat harus sekitar tiga sampai enam bulan untuk pendapatan.
Jika Anda sudah memilikinya, lihat apakah Anda bisa membuatnya menjadi 12 bulan.
Dana darurat dapat membantu jika Anda kehilangan pekerjaan atau bahkan membantu membayar tagihan yang tidak terduga.
Bagi Anda yang masih bersekolah/kuliah juga sebaiknya bersiap diri dengan ikut menabung untuk berjaga-jaga dan meringankan beban ekonomi orang tua/keluarga di masa krisis dan tak menentu seperti saat ini.
2. Lebih selektif dan lebih hemat
Jika Anda belum melakukannya, sekaranglah waktunya untuk meninjau kembali pengeluaran yang sudah dilakukan mulai dari listrik, telepon, layanan internet hingga hipotek.
Di saat pandemi seperti sekarang, ini berarti pengeluaran Anda akan sedikit berbeda dari biasanya, jadi kembalilah ke awal tahun ini untuk melihat pengeluaran yang tidak perlu tersebut.
Bagi yang sudah bekerja, mulai sekarang siasati pengeluaran tak perlu bisa dimulai dengan lebih rutin mencatat pengeluaran sehari-hari.
Jika Anda masih kuliah atau bersekolah, hemat lah pengeluaran untuk hal-hal tidak perlu seperti nongkrong atau mengurangi aktifitas belanja dan wisata untuk membuat isi kantong tidak mudah cepat terkuras habis.
3. Pangkas tagihan dan rem keinginan mengajukan kredit
Jika Anda membayar bunga apa pun pada kartu kredit Anda, inilah saatnya berhenti.
Beralih ke kartu saldo 0% dapat memberi Anda waktu hingga 30 bulan untuk melunasi hutang Anda tanpa bunga apa pun, selama Anda menjaga pembayaran minimum.
Jangan pernah menggunakan kartu ini untuk berbelanja. Tujuan utama adalah melunasi tagihan kartu kredit.
Selain itu, tunda atau berpikir satu dua tiga kali terlebih dahulu jika ingin mengajukan hutang atau mengkredit suatu barang/jasa dengan pelunasan jangka panjang ditengah kondisi serba tak menentu seperti saat ini.
4. Bangun bisnis sampingan dan investasi
Jika Anda memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan, sekarang bisa menjadi waktu yang tepat untuk memulai pekerjaan sampingan.
Anda dapat melakukan beberapa pengajaran online seperti mengajar bahasa atau alat musik, atau menjual makanan untuk penghasilan tambahan.
Kemampuan menambah jalur penghasilan diluar pekerjaan utama atau skill/kealian utama ditengah era yang tak menentu ini sangatlah krusial.
Mulai lah berbisnis dari sekarang.
Selain itu, Anda juga bisa mulai dari sekarang untuk belajar menabung reksadana atau mulai terjun ke investasi saham secara kecil-kecilan, agar meningkatkan awareness terkait perencanaan keuangan.
(Tribunnewswiki.com/Ris)