TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku sudah lama tak berbicara dengan presiden China, Xi Jinping, Selasa (11/8/2020).
Pengakuan itu dibeberkan presiden ketika dia buka-bukaan soal hubungannya dengan Xi Jinping.
Trump mengakui kini hubungannya dengan Presiden China dalam keadaan yang buruk, seperti diberitakan Kontan.
Meski demikian, dia tak menampik hubungannya dengan Xi dulunya sangat baik.
"Saya dulu memiliki hubungan yang sangat baik dengannya," kata Trump kepada Fox Sports Radio dalam sebuah wawancara.
Baca: Jitu Prediksi Pemenang Pilpres AS Sejak Tahun 1984, Profesor Sejarah Ini Ramal Trump akan Tumbang
Baca: Joe Biden Pilih Kamala Harris Jadi Cawapresnya Lawan Donald Trump dan Mike Pence
"Saya memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Xi. Saya menyukainya, tetapi saya tidak merasakan hal yang sama sekarang," kata Trump dilansir Reuters.
Lanjut Trump, perasaannya mulai berubah ketika ada pandemi virus corona.
"Saya pasti merasa berbeda. Saya memiliki hubungan yang sangat, sangat baik, dan saya sudah lama tidak berbicara dengannya," sebutnya.
Berita Sebelumnya: John Bolton Ungkap Hubungan Tersembunyi Trump dan Xi Jinping
Hubungan Amerika Serikat dan China kini tengah memanas.
Kedua negara santer berbalas tudingan sejak pandemi Covid-19 melanda dunia.
Akan tetapi pengakuan mengejutkan dibuat oleh Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, seperti diberitakan Washington Post, Kamis (18/6/2020).
John Bolton mengklaim, Trump berafiliasi dengan Presiden China Xi Jinping agar menang dalam Pemilu AS.
Jika klaim ini benar, maka keadaan menjadi klise.
Pasalnya Trump dan Xi yang sering serang di media, justru punya hubungan khusus di belakang.
Baca: UU tentang Uighur Diteken oleh Donald Trump, Reaksi China: Kami Akan Ambil Tindakan Balasan
Pertama, John Bolton membahas soal pembelian produk pertanian AS oleh China.
Menurutnya, Trump meminta hal itu pada Xi Jinping dalam sebuah jamuan makan malam tahun lalu.
Konon hal itu bisa membantu mendongkrak suara untuk Trump.
"Dia menekankan pentingnya petani, dan meningkatkan pembelian kedelai dan gandum di China dalam hasil pemilihan," kata Bolton.
Klaim-klaim itu diungkapkan Bolton dalam sebuah buku yang dijadwalkan dirilis pada minggu depan.
"Dia kemudian, secara menakjubkan, mengalihkan pembicaraan ke A.S. yang akan datang pemilihan presiden, mengacu pada kemampuan ekonomi China untuk mempengaruhi kampanye yang sedang berlangsung, memohon kepada Xi untuk memastikan dia akan menang," Bolton menulis.
Baca: Konflik India-China: Pasca Bentrok 3 Hari, Pasukan China Bebaskan 10 Tentara India
Diberitakan Tribunnews.com, buku ini menjadi perdebatan panjang antara John Bolton dengan Gedung Putih.
Pasalnya apa yang ia tulis memang cukup kontroversional, terlepas dari benar atau salahnya.
Secara terang-terangan, Bolton juga menyinggung soal bantuan keamanan AS ke Ukraina.
Trump bersedia memberikan bantuan itu dengan syarat Ukraina melakukan penyelidikan Joe Biden dan keluaranya.
Informasi-informasi yang tertulis dalam buku itu dinilai sangat rahasia dan bisa mempertaruhkan keamanan nasional AS.
Baca: UU tentang Uighur Diteken oleh Donald Trump, Reaksi China: Kami Akan Ambil Tindakan Balasan
Informasi rahasia yang dibeberkan Bolton tak habis sampai di situ.
Konon, dalam sebuah pertemuan, Xi mengatakan kepada Trump tentang pembangunan kamp di Uighur yang bisa menampung sejuta muslim.
Bolton menyebut Donald Trump menyetujui rencana Xi Jinping.
"Trump mengatakan bahwa Xi harus melanjutkan pembangunan kamp-kamp, yang menurut Trump adalah hal yang tepat untuk dilakukan."
Washington Post yang menerima memoar setebal 592 halaman itu menilai, tulisan Bolton merupakan pembedahan paling kritis terhadap presiden.
Pengacara Bolton: Tak Mengandung Rahasia
Departemen Kehakiman meminta perintah darurat dari seorang hakim untuk memblokir penerbitan buku itu, pada Rabu malam.
Kayleigh McEnany, sekretaris pers Gedung Putih, mengatakan pada hari Rabu bahwa buku itu masih berisi informasi rahasia.
Namun, hal yang berbeda dikatakan pihak John Bolton.
Pengacara Bolton mengatakan buku itu tidak mengandung bahan rahasia dan itu mengalami proses peninjauan yang sulit.
Trump dikabarkan tengah membuat strategi agar buku ini bisa diblokir.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Nur)