TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat akan dihelat pada November 2020 nanti.
Dua kuda pacu yang akan bertarung yakni petahana Donald Trump dari Partai Republik dan Joe Biden dari Partai Demokrat.
Keduanya akan bersaing sengit demi singgasana Gedung Putih.
Berbagai cara, manuver dan isu menjadi hal penting jelang Pilpres AS 2020.
Isu seperti Covid-19, ekonomi negara yang terguncang hingga rasialisme menjadi topik hangat yang terkait dengan konstelasi Pilpres AS 2020.
Namun, tak hanya faktor-faktor tersebut.
Baca: Beri Tunjangan Rp5,8 Juta Per Minggu bagi Pengangguran, Trump: Itu Bukan Salah Mereka, Salah China
Keberadaan China yang kini selalu menjadi "kambing hitam" pemerintahan Donald Trump dalam berbagai masalah dinegaranya juga semakin digencarkan oleh sang presiden.
Terbaru, disebutkan Amerika Serikat menyiratkan China dan Rusia hendak ikut campur dalam pilpres di negaranya.
AS menyebut China tak ingin Donald Trump kembali menang, sedangkan Rusia disebut terlibat dalam pelemahan capres dari Demokrat, Joe Biden.
AS menuding peretas atau hacker pemerintah China akan menargetkan infrastruktur pemilihan umum di negeri Paman Sam tersebut menjelang pemilihan Presiden AS pada November 2020 mendatang.
Baca: Siap Diblokir Donald Trump di Amerika Serikat, Ini Pernyataan TikTok
Selain China, Amerika Serikat juga menduga Rusia tengah mencoba melemahkan kandidat presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden.
Mengutip Reuters, Senin (10/8), Panasihat keamanan Gedung Putih, Robert O'Brien mengatakan pada hari Minggu bahwa peretas yang terkait dengan pemerintah China ingin merusak infrastruktur pemilu AS.
Tuduhan O'Brien ini menunjukkan tingkat yang lebih aktif dibandingkan dugaan campur tangan China sebelumnya.
Sebelumnya, kantor Direktur Inteligen Nasional yang mengatakan, China telah memperluas upaya pengaruhnya dan bahwa Rusia sudah mencoba melemahkan kandidat Demorat Joe Biden.
"Mereka ingin melihat Presiden (Trump) kalah," kata O'Brien di CBS Face the Nation.
Ia melanjutkan, China seperti halnya Rusia dan Iran telah terlibat dalam serangan dunia maya dan phishing dan hal semacam itu sehubungan dengan infrastruktur pemilu AS dan situs web serta sejenisnya.
Namun China secara konsisten membantah klaim pemerintah AS bahwa mereka meretas perusahaan, politisi atau pun lembaga pemerintah AS.
"Pemilihan presiden AS adalah urusan internal, kami tidak tertarik untuk ikut campur di dalamnya," kata juru bicara kementerian luar negeri China Geng Shuang pada bulan April.
Baca: Ancam Boikot, Donald Trump Beri Waktu 45 HariTikTok dan WeChat Menyerahkan Diri ke AS
Baca: Sebut Anak-Anak Hampir Kebal dari Virus Corona, Postingan Donald Trump di Facebook Ditarik
O'Brien mengatakan Amerika Serikat telah melihat para peretas mencoba menyusup ke situs web milik kantor Menteri Luar Negeri di seluruh negeri, yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pemilihan di tingkat lokal, dan mengumpulkan data tentang orang Amerika.
“Ini adalah masalah yang nyata dan bukan hanya Rusia,” katanya. “Akan ada konsekuensi berat bagi negara mana pun yang mencoba untuk ikut campur dalam pemilihan umum yang bebas dan adil,” sambungnya.
Tiktok Diblokir Amerika Serikat