TRIBUNNEWSWIKI.COM - Beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Indonesia mengalami suhu udara dingin.
Fenomena suhu udara dingin yang melanda beberapa wilayah ini ternyata dinilai normal.
Perubahan suhu yang menjadi lebih dingin terutama di Jawa Tengah ini terjadi karena berada di puncak musim kemarau.
Dilansir dar TribunSolo.com, Kepala Seksi Data Informasi dan Komunikasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jateng, Iis Widya Harmoko mengatakan, suhu udara yang dingin tersebut merupakan hal yang biasa.
Hal tersebut terjadi karena saat ini, Indonesia berada pada puncak musim kemarau.
"Bulan Juli - Agustus masuk puncak musim kemarau," jelas Iis kepada TribunSolo.com, Rabu (29/7/2020).
Selain itu, Iis menerangkan adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara yang bersifat dingin dan kering dari Australia menuju Indonesia.
Dari situlah muncul penurunan suhu udara di malam hari yang menyebabkan beberapa wilayah di Indonesia mengalami suhu dingin yang tidak biasa.
"Tutupan awan yang sedikit atau bahkan tidak ada," jelas dia.
Baca: BMKG Sebut Suhu Dingin Terjadi Karena Puncak Musim Kemarau pada Juli-Agustus, Ini Daftar Wilayahnya
Baca: Fenomena Suhu Dingin di Indonesia, Penyebab dan Tips Kesehatan untuk Menghadapinya
Baca: Gelombang Kedua COVID-19 di Amerika Serikat: Bertemunya Virus Corona dan Datangnya Musim Dingin
Iis menjelaskan, Bumi butuh tutupan awan untuk pada malam hari untuk melindungi dari pelepasan panas yang diserap pada siang hari dan dilepas pada malam hari.
"Saat melepas panas suhu jadi turun," kata dia.
"Bila ada tutupan awan masih bisa kembali," kata dia
Suhu dingin yang terjadi pada malam hari di Indonesia ini diperkirakan akan terus terjadi sampai bulan Agustus.
Dikonfirmasi berbeda, Kabid Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) Hary Tirto Djatmiko mengatakan, udara dingin terjadi karena kandungan uap di atmosfir sekitar Indonesia cukup sedikit.
Kandungan uap di atmosfer ini terlihat dari tutupan awan yang tidak signifikan selama beberapa hari terakhir.
Uap air dan air adalah zat yang cukup efektif menyimpan energi panas, itu secara fisis.
Baca: Kawasan Dieng Diselimuti Embun Es, BMKG: Suhu Belum Tentu Sampai -3,5 Derajat Celcius
Baca: Heboh Thermo Gun Disebut Bahayakan Otak Manusia Saat Cek Suhu Tubuh, Begini Penjelasan Dokter
Baca: BMKG Prediksi Puncak Cuaca Panas di Jakarta, Surabaya dan Semarang, Suhu Terus Naik Sejak April
Saat kandungan uap di atmosfer ini rendah, maka akan menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan bumi ke luar angkasa pada malam hari, tidak tersimpan di atmosfer.
Dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan.
Dikatakan Hary, setidaknya suhu dingin bakal berlangsung hingga dua bulan ke depan.
Selain itu, pada puncak musim kemarau, suhu udara pada permukaan bumi umumnya lebih dingin dan lebih kering.