Meski Nadiem Makarim Sudah Meminta Maaf, NU-Muhammadiyah Tetap Enggan Berpartisipasi di POP

Muhammadiyah dan NU tetap bergeming dan enggan ikut program POP Kemendikbud, meski Nadiem Makarim sudah menyatakan minta maaf.


zoom-inlihat foto
mendikbud-nadim-makarim-menjelaskan-arah-kebijakan-pendidikan.jpg
DOK. KEMENDIKBUD
Mendikbud Nadim Makarim menjelaskan arah kebijakan pendidikan Merdeka Belajar dalam Rapat Koordinasi Mendikbud dengan Kepala Dinas Pendidikan se-Indonesia di Jakarta, Rabu (11/12/2019)


TRIBUNNNEWSWIKI.COM - Kontroversi diikutsertakannya organisasi berafiliasi dengan korporasi besar dalam penerimaan hibah Program Organisasi Penggerak (POP) membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI disorot publik.

Hal ini membuat tiga organisasi besar yang sudah memberi berperan dalam pengembangan pendidikan di Indoenesia sejak lama seperti Muhammadiyah, NU dan PGRI merasa tidak fair dan akhirnya keluar dari keikutsertaan di POP.

Keberadaan dua organisasi baru seperti Sampoerna Foudation dan Tanoto Foundation sebagai penerima hibah disebut tidak memiliki kepantasan.

Bukan dari hal kompetensi ataupun kualifikasi, namun lebih terhadap afiliasi mereka terhadap korporasi raksasa yang seharusnya lebih banyak ikut membantu negara, alih-alih justru menikmati APBN.

Atas kegaduhan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim sudah menyatakan minta maaf secara spesifik terhadap Muhammadiyah, NU dan PGRI.

Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif NU Arifin Junaidi menegaskan, lembaganya tidak akan kembali bergabung dalam POP meski Mendikbud Nadiem Makarim sudah meminta maaf.

"Tidak (enggan bergabung kembali)," kata Arifin, Rabu (29/7/2020).

Menurut Arifin, ada dua alasan lembaganya tidak mau bergabung kembali ke POP.

Baca: Mendikbud Nadiem Minta Maaf kepada NU, Muhammadiyah dan PGRI Soal Program Organisasi Penggerak

Baca: PGRI, Muhammadiyah, dan NU Mundur dari Organisasi Penggerak, Nadiem: POP Akan Kita Evaluasi

Baca: Mendikbud Nadiem: Dana BOS Boleh Digunakan untuk Beli Alat Protokol Kesehatan hingga Kuota Internet

Alasan pertama karena Nadiem belum menghapus nama Sampoerna Foundation dan Tanoto Foundation.

Sedangkan alasan kedua, NU tidak dimasukkan dalam daftar penerima.





Halaman
1234
Penulis: Haris Chaebar
Editor: Ekarista Rahmawati Putri






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved