Ketika kesuburan turun dan harapan hidup meningkat di seluruh dunia, jumlah anak balita diperkirakan akan menurun lebih dari 40 persen, dari 681 juta pada 2017 menjadi 401 juta pada 2100.
Di sisi lain, 2,37 miliar orang, lebih dari seperempat populasi global, akan berusia lebih dari 65 tahun saat itu.
Jumlah mereka yang berusia di atas 80 akan bertambah dari sekitar 140 juta hari ini menjadi 866 juta.
Penurunan tajam dalam jumlah dan proporsi populasi usia kerja juga akan menimbulkan tantangan besar di banyak negara.
"Masyarakat akan berjuang untuk tumbuh dengan lebih sedikit pekerja dan pembayar pajak," kata Stein Emil Vollset, seorang profesor di IHME.
Jumlah orang usia kerja di Cina, misalnya, akan turun drastis dari sekitar 950 juta saat ini menjadi hanya lebih dari 350 juta pada akhir abad ini.
Angka tersebut menunjukkan penurunan 62 persen.
Penurunan di India diproyeksikan menjadi kurang curam, dari 762 menjadi 578 juta.
Di Nigeria, sebaliknya, tenaga kerja aktif akan berkembang dari 86 juta hari ini menjadi lebih dari 450 juta pada tahun 2100.
Perkiraan ekonomi
Baca: Dampak Pandemi Covid-19: BPS Catat Penduduk Miskin Indonesia Naik 1,23 Juta Jiwa pada Maret 2020
Perubahan demografi ini membuat peneliti memperkirakan akan ada perbedaan pengaruh ekonomi antarnegara.
Merkea memperkirakan pada tahun 2050 produk domestik bruto Cina akan menyusul Amerika Serikat, tetapi kembali ke tempat kedua pada tahun 2100.
PDB India akan naik untuk mengambil tempat nomor tiga, sementara Perancis,
Jerman, Jepang dan Inggris akan tetap di antara 10 ekonomi terbesar di dunia.
Brasil diproyeksikan turun dari peringkat kedelapan hari ini ke urutan 13, dan Rusia dari peringkat 10 hingga 14.
Italia dan Spanyol masing-masing turun dari 15 ke 25 dan ke 28.
Indonesia bisa menjadi ekonomi terbesar ke-12 secara global, sementara Nigeria - saat ini ke-28 - diproyeksikan akan masuk 10 besar.
Jika peluang itu bisa diwujudkan, berarti ekonomi Indonesia bisa kalahkan Brasil, Rusia, Italia, dan Spanyol.
"Pada akhir abad ini, dunia akan menjadi multipolar, dengan India, Nigeria, Cina, dan Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan," kata Richard Horton, yang menggambarkan penelitian tersebut sebagai garis besar "pergeseran radikal dalam kekuatan geopolitik."
Sampai sekarang, PBB - yang masing-masing memperkirakan 8,5, 9,7 dan 10,9 miliar orang pada tahun 2030, 2050 dan 2100 - memiliki monopoli virtual dalam memproyeksikan populasi global.