TRIBUNNEWSWIKI.COM - Aplikasi video pendek milik perusahaan ByteDance, TikTok memilih hengkang dari Hong Kong.
Hal tersebut lantaran pemerintah China mengeluarkan kebijakan atau Undang-undang (UU) keamanan nasional baru untuk Hong Kong.
Informasi tersebut disampaikan oleh juru bicara TikTok pada Reuters, Senin (6/7/2020) lalu.
Tidak dijelaskan secara rinci bagaimana UU tersebut akan mempengaruhi TikTok.
Meski demikian, disebut akan adanya pengaksesan data oleh pemerintah kepada para pengguna TikTok.
Terlebih ketika TikTok memutuskan untuk tidak melakukan pemblokiran atau penyensoran pada beberapa konten mereka di aplikasi tersebut.
"Sehubungan dengan peristiwa baru-baru ini, kami telah memutuskan untuk menghentikan operasi aplikasi TikTok di Hong Kong," kata juru bicara TikTok.
Baca: TikTok Beri Jaminan Setelah Aplikasinya Dilarang India: Kami Tak Bagikan Informasi Ke China
Baca: Buntut Panjang Konflik di Himalaya, India Larang TikTok dan 58 Aplikasi China Lain Masuk Negaranya
Hong Kong hanya pasar kecil bagi TikTok
Sebelumnya, perusahaan yang kini dijalankan oleh mantan eksekutif Walt Disney Co, Kevin Mayer tersebut mengaku tidak menyimpan basis data para penggunanya di China.
Bagi TikTok, Hong Kong hanyalah pasar kecil bagi aplikasi video pendek yang saat ini terus bertambah jumlah penggunanya tersebut.
Berdasarkan data Agustus lalu, TikTok diketahui telah memiliki 150.000 pengguna di Hong Kong.
Secara global, TikTok telah diunduh lebih dari 2 miliar kali AppStore maupun PlaySytore.
Angkat kakinya TikTok dari Hong Kong dilakukan karena pihaknya masih belum jelas apakah negara tersebut berada di bawah yuridiksi Beijing terkait undang-undang baru yang duterbitkan.
Sebenarnya, TikTok memang tidak didesain untuk bisa diakses oleh penduduk China daratan.
Hal tersebut merupakan strategi marketing yang dilakukan TikTok untuk meraih atensi pasar global.
Sedangkan aplikasi serupa yang ditemukan di China daratan disebut dengan Douyin.
Meskipun Douyin tidak bisa diakses oleh warganet global, namun jumlah penggunanya lebih banyak daripada user TikTok di Hong Kong.
"Douyin juga memiliki banyak pengguna di Hong Kong dan akan terus melayani pengguna di sana," kata CEO ByteDance China, Zhang Nan.
Fang Kecheng, seorang asisten profesor di Universitas China Hong Kong, turut meberikan analisanya.
Kecheng mengatakan langkah TikTok menggambarkan situasi dilematis dari perusahaan-perusahaan China yang berusaha mengembangkan bisnisnya secara global.