Hubungan India dan China Memanas, Pakar Menyebut Asia Selatan Bisa Jadi Hotspot Pemicu Perang

Pertikaian China dan India menjadikan Asia Selatan sebagai hotspot paling berbahaya dalam perang dingin baru antara Beijing dan saingannya.


zoom-inlihat foto
perdana-menteri-india-modi-2.jpg
HANDOUT / PIB / AFP
Perdana Menteri India, Narendra Modi, berjalan bersama komandan militer setelah dirinya sampai di Leh, Ladakh (3/7/2020). Ini adalah kunjungan pertamanya di tempat itu sejak terjadinya bentrok berdarah antara pasukan India dan China bulan lalu.


New Delhi dan Beijing saling menyalahkan atas bentrokan yang memakan korban jiwa di Himalaya.

Dilansir oleh South China Morning Post, Senin (29/6/2020), Duta Besar Tiongkok untuk India Sun Weidong mengatakan pasukan India bertanggung jawab atas bentrokan itu karena mereka telah "melewati Garis Kontrol Aktual" yang bertindak sebagai perbatasan de facto.

Kemudian sebagai tanggapan, Duta Besar India untuk China Vikram Misri memperingatkan "riak dan dampak" dalam hubungan diplomatik karena China berusaha mengubah status quo di darat dengan paksa.

Baca: Jepang Awasi Aktivitas Membahayakan yang Dilakukan China di Laut Perbatasan India-Hong Kong

Baca: AS Berencana Tempatkan Rudal Jarak Menengah di Jepang, China: Kami Tak Akan Tinggal Diam

Sementara itu, Jepang dan China terlibat dalam perang kata-kata atas langkah Jepang untuk mengubah status administrasi Kepulauan Senkaku, yang diklaim dan disebut oleh China sebagai Kepulauan Diaoyu.

Kementerian Luar Negeri China menyebut langkah Jepang sebagai "provokasi serius terhadap kedaulatan wilayah China".

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Jepang Taro Kano menanggapi bahwa Tokyo akan memantau niat, bukan hanya kemampuan yang dimiliki Beijing.

Latihan militer bersama Angkatan Laut India dan Jepang.
Latihan militer bersama Angkatan Laut India dan Jepang. (Twitter/@jmsdf_pao_eng)

Langkah Komunikasi Strategis

Angkatan laut dari kedua negara, Jepang dan India, sama-sama mengumumkan kegiatan latihan bersama yang mereka lakukan di Samudra Hindia pada Sabtu kemarin (27/6/2020).

Hindustantimes melaporkan, latihan gabungan ini digambarkan oleh Pasukan Bela Diri Maritim Jepang sebagai manuver yang dirancang untuk "mempromosikan saling pengertian" dan terdiri dari empat kapal perang, dua dari masing-masing negara.

Latihan gabungan antara angkatan laut India dan Jepang kini lebih sering dilakukan.

Namun, untuk waktunya sendiri sekarang ini akan disesuaikan dengan pertikaian militer antara India dan China di Ladakh.

"Kami menggunakan latihan untuk komunikasi strategis," kata Wakil Laksamana Pradeep Chauhan, direktur jenderal Yayasan Maritim Nasional.

“Angkatan laut itu tidak di sana untuk tujuan pertempuran tetapi untuk memberi sinyal,” tambahnya.

"Kita harus dekat dengan teman-teman kita dan orang China tahu ada tangga eskalasi langsung antara Jepang dan Amerika Serikat," kata Wakil Laksamana.

Kapal pelatihan angkatan laut India INS Rana dan INS Kulush bergabung dengan JS Kashima dan JS Shimayuki.

Kedutaan Jepang di New Delhi mengatakan ini adalah latihan ke 15 dalam tiga tahun.

"Isi dari latihan ini adalah pelatihan taktis dan pelatihan komunikasi," kata juru bicara kedutaan Toshihide Ando.

“Tanpa skenario khusus,” lanjutnya.

Wakil Laksamana Chauhan mencatat bahwa penempatan Angkatan Darat India adalah merupakan “spesifik sektor”.

Namun, India juga perlu memberikan tekanan di seluruh teater militer.





Halaman
123
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - The Period of

    The Period of Her adalah sebuah film drama
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved