Selalu Diserang Soal Covid-19, Walikota Risma Akhirnya Buat Pengakuan: Saya Juga Nggak Kepengin Ini!

Risma menyebutkan bahkan ada beberapa tuduhan yang diajukan langsung kepadanya. Namun ia enggan menjawab tudingan-tudingan tersebut.


zoom-inlihat foto
walikota-surabaya-tri-rismaharini-menangis-terima-bantuan-bin.jpg
YouTube KOMPASTV
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam tayangan KompasTV, Jumat (29/5/2020). Risma tak kuasa menahan tangis karena terharu saat serah terima bantuan dari Badan Intelijen Indonesia.


Risma menilai data menjadi poin penting yang harus dipegang dalam pekerjaannya.

"Saya mencoba yang menjawab itu staf saya dengan menjelaskan dengan data," kata Risma.

"Terus terang, saya selalu bekerja dengan data. Saya selalu bekerja dengan catatan, saya bekerja dengan teknologi," paparnya.

"Saya bekerja dengan sistem di mana semua standarnya ada," lanjut wali kota yang sudah menjabat selama dua periode ini.

Risma mengakui dirinya selalu menunjukkan data jika muncul tuduhan-tuduhan terhadap kinerjanya.

Ia mengaku serangan kepadanya sebenarnya kerap muncul.

"Jadi kalau ada yang menyerang begitu, saya langsung tunjukkan data," tutur Risma.

"Itu sering sekali, sehingga terus terang kemarin saya ya bingung," tambahnya.

Khofifah Bandingkan dengan Keberhasilan PSBB Malang

Penyebaran Virus Corona di Jawa Timur sebagian besar dari Surabaya Raya.

Melalui sambungan video call dengan iNews pada Senin (15/6/2020), Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengungkap alasannya.

Khofifah merasa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran Virus Corona di Surabaya tidak seefektif di Malang Raya.

"Ya jadi kan PSBB yang dilakukan di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik ini rupanya berbeda efektivitasnya dengan PSBB yang ada di Malang Raya."

"Di Jawa Timur ini hanya enam Kabupaten Kota yang melakukan PSBB, satu Surabaya Raya, satu lagi Malang Raya," jelas Khofifah.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan alasan pengalihan mobil laboratorium PCR ke Kota Tulungagung dan Sidoarjo. Ia menyebutkan, kedua kota tersebut memang kekurangan perangkat test PCR.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan alasan pengalihan mobil laboratorium PCR ke Kota Tulungagung dan Sidoarjo. Ia menyebutkan, kedua kota tersebut memang kekurangan perangkat test PCR. (KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)

Khofifah menilai, masyarakat Malang Raya lebih disiplin dalam melaksanakan PSBB.

Apalagi dengan hadirnya Kampung Tangguh yang dibantu oleh berbagai pihak.

Sehingga, ujarnya, PSBB hanya dilakukan satu kali dengan kemudian dilanjutkan dengan masa transisi.

"Malang Raya rupanya tersuport disiplin masyarakat yang terkawal melalui Kampung Tangguh, turunnya perguruan tinggi langsung mengawal Kampung Tangguh."

"Lalu relawan-relawan yang mengawal Kampung Tangguh, adalah Babinsa, Babinkamtibnas yang mengawal luar biasa di RW-RW, maka PSBB di Malang Raya sesungguhnya satu kali PSBB dilanjutkan dengan transisi pasca PSBB," jelas Khofifah.

Mantan Menteri Sosial ini menuturkan bahwa kebijakan PSBB di Malang beserta transisinya sudah melalui imbauan dari para pakar.

Baca: Jokowi Ingin Laju Penularan Covid-19 di Jatim Turun dalam 2 Minggu, Khofifah Keluhkan Kedisiplinan





Halaman
123
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Uang Passolo (2026)

    Uang Passolo adalah sebuah film drama Indonesia yang
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved