Tidak ada anggaran besar atau berisiko yang akan digelontorkan kecuali memiliki penonton yang substansial dan terjamin.
Jika prediksi ini benar, tentu bisa saja akan membuat bioskop gulung tikar secara pelahan-lahan.
Sebaliknya, ini mungkin menjadi kesempatan bagi dunia film untuk merangkul bentuk egalitarianisme baru atau mungkin kembali ke sana.
Saat orang mulai membuat film, industri kontemporer belum tentu ideal dalam pikiran mereka.
Para sutradara, dewasa ini pada umumnya terikat pada sponsor, studio, distributor, peserta pameran dan sejumlah besar minat lain untuk membuat film di depan publik.
Pembuatan film pun didemokratisasi oleh kemajuan teknologi satu dekade yang lalu.
Saat mereka runtuh, saluran baru akan muncul, seperti Vimeo dengan kurasi yang lebih baik atau TikTok dengan add-on crowdfunding.
Selera pemirsa untuk konten orisinal yang dibuat pengguna sebagaimana disaksikan oleh pemirsa YouTube pun juga menjamur selama pandemi.
Format baru akan dipopulerkan.
Akan ada banyak yang terlewatkan jika banyak bioskop akhirnya ditutup.
Tapi mungkin juga ada banyak hal yang harus diperhatikan, jika pintu-pintu ke toko tertutup industri film tiba-tiba terbuka lebar.
(Tribunnewswiki.com/Restu, Kompas.com/Mela Arnani)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Berbulan-bulan Tidak Beroperasi, seperti Apa Bioskop Setelah Pandemi Corona?"