TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perkuliahan online atau daring kini disongsong sebagai cara baru selama pandemi Covid-19 mendera.
Indonesia pun besar kemungkinan akan menerapkan sistem perkuliahan online untuk perguruan tinggi.
Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan bahwa perkuliahan di perguruan tinggi seluruh Indonesia dimungkinkan berjalan secara online hingga tahun 2020 ini berakhir.
Dampak sistem perkuliahan online pun membuat khawatir beberapa pihak karena dampaknya sangat luas dan sistemik.
Prof. Djagal Wiseso yang merupakan Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan UGM menyebutkan ada prediksi matinya perguruan tinggi akibat wabah pandemi Covid-19.
Sejumlah faktor seperti sumber pendidikan selain lembaga pendidikan yang tersedia, seperti internet, buku, jurnal, serta kondisi Covid-19 yang memaksa mahasiswa untuk belajar tanpa harus hadir di kampus mendorong matinya lembaga pendidikan tinggi.
Prediksi tersebut dibahas dalam seminar daring Dewan Guru Besar (DGB) UGM pada Jumat (26/6/2020) lalu.
Seminar daring tersebut bertemakan “Merdeka Belajar dan Proses Belajar Mengajar Efektif di Masa Pandemi Covid-19”.
Baca: Meski Sering Terkendala Jaringan, Dirjen Dikti: Kuliah Online Disambut Baik oleh Dosen dan Mahasiswa
Baca: Kuliah Bisnis di 3 Negara Berbeda dengan Beasiswa SP Jain School of Global Management, Berminat?
Baca: Sejumlah Mahasiswa Purwakarta Ngeluh ke Anggota DPR, Minta Keringanan Uang Kuliah saat Pandemi
Mantan Rektor Universitas Terbuka, Prof. Tian Belawati sepakat dampak dari Covid-19 telah menyebabkan disrupsi yang melebihi Revolusi Industri 4.0.
Ia menyebut tak ada satupun negara di dunia ini yang bidang pendidikannya tidak terdampak oleh pandemi ini.
“Hanya butuh waktu 25 hari sejak pengumuman pasien positif pertama di Indonesia untuk mampu memaksa 834 perguruan tinggi di Indonesia hijrah ke daring,” ungkap Prof. Tian seperti dikutip dari laman UGM.
Akibatnya, banyak perguruan tinggi merasa tidak siap dengan kepindahan tersebut.
Para dosen tidak siap karena silabusnya disusun untuk perkuliahan tatap muka, apalagi bagi pengampu jurusan saintek yang memiliki mata kuliah praktikum.
Selain itu, permasalahan lain karena banyaknya dosen yang telah lanjut usia dan tidak terliterasi untuk menggunakan platform digital.
“Beberapa prinsip yang perlu diikuti dalam pembelajaran daring yakni kurikulum sesuai, inklusif, melibatkan pembelajar, pendekatan inovatif, metode efektif, evaluasi formatif dan sumatif, koheren, konsisten, transparan, perangkat yang mudah dioperasikan, serta efektif dalam biaya,” paparnya.
Hal yang perlu diperhatikan lebih dalam prinsip tersebut, menurut Tian, adalah interaksi dengan pembelajar.
Ia menyebut interaksi menjadi rawan dalam pembelajaran daring karena tanpa tatap muka secara langsung.
Oleh karena itu, momen jeda semester ini dapat dimanfaatkan oleh para pengajar untuk mempersiapkan silabus yang lebih sesuai untuk pembelajaran daring.
Persiapan tersebut mencakup pula penyesuaian materi dengan platform yang akan digunakan sehingga tidak ada kesulitan ketika kuliah berlangsung.
Klaim Direj Dikti : kuliah Online diminati
Terkait dengan perkuliahan online atau daring, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran daring yang dilakukan sejak Maret 2020, salah satunya melalui survei.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam, pada acara temu media Bincang Sore secara virtual (24/6/2020) lalu.
“Pada bulan Maret, sebanyak delapan juta mahasiswa dan 300.000 dosen kita secara mendadak bertransformasi ke dalam pembelajaran daring," kata Nizam.
Baca: Kemendikbud Resmi Ringankan Biaya Kuliah PTN dan PTS: Berikut Jenis Skema UKT untuk Perguruan Tinggi
Baca: Tidak Ada Perkuliahan Secara Tatap Muka Hingga Akhir 2020, Mendikbud: Keselamatan Nomor Satu
Baca: Kabar Gembira untuk Mahasiswa Indonesia, Mendikbud Nadiem Ambil Keputusan Ringankan Biaya Kuliah
Ia melanjutkan "dari hasil survei tersebut, didapatkan 70 persen menyatakan pembelajaran daring dinilai baik bahkan sangat baik, 30 persen lainnya mengakui masih adanya kelemahan." ucap Nizam.
Nizam menambahkan bahwa "Kendalanya seperti keterjangkauan dan stabilitas jaringan, kadang-kadang suara hilang di tengah-tengah kuliah atau putus koneksi.”
Berdasarkan catatan tersebut, Kemendikbud segera melakukan perbaikan agar pada pembukaan semester depan, pembelajaran melalui daring dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
“Saat ini kita berikan pelatihan untuk seluruh dosen akademik dan vokasi secara terbuka selama sebulan lebih, dari tanggal 18 Juni sampai akhir Juli."
"Tidak berbayar dan berisi tips dari para pakar dan praktisi dalam penggunaan teknologi pembelajaran daring, tentang pedagogik, perencanaan pembelajarannya, manajemen sistem, hingga cara memanfaatkan berbagai teknologi yang ada serta hemat pulsa,” ungkap Nizam.
Pelatihan yang diberikan kepada peserta setiap sesinya dilakukan secara paralel.
Para peserta yang menjalani pelatihan dengan tuntas akan mendapatkan sertifikat.
“Semangatnya adalah kita saling berbagi dan kita perkuat dengan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA)."
"Ini adalah platform pembelajaran digital daring bersama-sama antar perguruan tinggi."
"Kita perkuat konten-konten, kita dorong perguruan tinggi untuk berbagi,” ucap Nizam optimis.
Kemendikbud juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) untuk mengoptimalkan perluasan dan stabilitas jaringan.
“Menkominfo menugaskan dua dirjennya untuk mendukung."
"Kita sudah berkoordinasi erat dengan mereka dalam merangkul daerah-daerah 3T (tertinggal, terluar, terbelakang) yang saat ini blank spot untuk bisa diupayakan terjangkau di semester depan karena mahasiswa saat ini sudah berada di kampung halamannya masing-masing,” ujar Nizam.
Sistem manajemen pembelajaran
Lebih lanjut, Nizam menyebutkan bahwa saat ini sudah banyak wadah pembelajaran yang diproduksi oleh anak negeri sebagai penyedia layanan internet diantaranya platform merah putih seperti You Need Me dan Cloud X.
“Sekarang kapasitasnya juga sudah bisa ditingkatkan jika sebelumnya 40 orang, dalam waktu dekat mereka menjanjikan itu bisa sampai 100 orang," kata Nizam.
"Biasanya paket merah putih itu sudah dipaketkan sehingga lebih hemat dari sisi biaya."
"Program semacam itu yang sedang kita siapkan dengan teman-teman penyedia internet,” lanjut Nizam.
Nizam juga menerangkan bahwa Kemendikbud telah menyiapkan learning management system (LMS) bagi perguruan tinggi yang belum memiliki platformnya.
“Kita sudah siapkan secara cuma-cuma, ada yang berbasis muddle dan ada yang berbasis google classroom dan itu gratis."
"Akses ke berbagai laman seperti di SPADA sudah dimasukkan dalam white list, artinya tidak berbayar."
"Jadi kalau kita mengakses situs-situs pembelajaran di kampus-kampus yang sudah terdaftar URL-nya itu sudah tidak berbayar sudah di-white list-kan oleh internet provider,” tutur Nizam.
SPADA adalah layanan yang diberikan sebagai media berbagi konten-konten pembelajaran di berbagai bidang.
Perguruan tinggi dan mahasiswa dapat memanfaatkan konten belajar yang telah disediakan secara gratis oleh berbagai instansi pada laman https://spada.kemdikbud.go.id/.
Kemendikbud membuka ruang bagi dosen yang ingin berbagi materi terbuka melalui platform ini.
“Kita sedang memadu pembuatan 1000 materi pembelajaran praktek."
"Mudah-mudahan dalam waktu dua bulan ini dosen dapat mempersiapkan materi-materi pembelajaranya untuk dipraktekkan di multimedia dan divideokan,” ungkap Nizam.
Nizam meyakini pola pembelajaran kreatif dan kolaboratif ini dapat menjawab tantangan dunia pendidikan di masa pandemi Covid-19.
Nizam mencontohkan model pembelajaran jarak jauh yang tidak harus dilakukan secara daring namun tetap sejalan dengan konsep Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, misalnya menjadi relawan kesehatan seperti yang dilakukan mahasiswa kesehatan.
“Modul yang kita siapkan untuk mitigasi Covid-19 mendapatkan kompetensi tentang epidemologi, tentang screening, tentang komunikasi sosial dan sebagainya sehingga bisa mendapat SKS dari kegiatan tersebut sekaligus mereka memberi manfaat bagi masyarakat dalam upaya mitigasi pandemi ini." kata Nizam.
Artikel ini sebagian tayang di Kompas.com dengan judul Perguruan Tinggi Bisa Mati karena Covid-19, Ini Penyebabnya....