Rohingya

Rohingya adalah sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan, atau Rohang dalam bahasa Rohingya) di Myanmar.


zoom-inlihat foto
sekelompok-pengungsi-rohingya-dari-myanmar-dan-bangladesh.jpg
AFP PHOTO / CHAIDEER MAHYUDDIN
Sekelompok pengungsi Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh tidur di sebuah auditorium olahraga pemerintah di Lhoksukon di Provinsi Aceh pada 12 Mei 2015 setelah tim penyelamat Indonesia menemukan perahu mereka membawa 573 penumpang terdampar di perairan utara Aceh provinsi. Hampir 2.000 orang perahu dari Myanmar dan Bangladesh telah diselamatkan atau berenang ke pantai di Malaysia dan Indonesia. AFP PHOTO / CHAIDEER MAHYUDDIN

Rohingya adalah sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan, atau Rohang dalam bahasa Rohingya) di Myanmar.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Rohingya adalah sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan, atau Rohang dalam bahasa Rohingya) di Myanmar.

Rohingya adalah etno-linguistik yang berhubungan dengan bahasa bangsa Indo-Arya di India dan Bangladesh (yang berlawanan dengan mayoritas rakyat Myanmar yang Sino-Tibet).

Menurut penuturan warga Rohingya dan beberapa tokoh agama, mereka berasal dari negara bagian Rakhine.

Sedangkan sejarawan lain mengklaim bahwa mereka bermigrasi ke Myanmar dari Bengal terutama ketika masa perpindahan yang berlangsung selama masa pemerintahan Inggris di Burma, dan pada batas tertentu perpindahan itu terjadi setelah kemerdekaan Burma pada tahun 1948 dan selama periode Perang Kemerdekaan Bangladesh pada tahun 1971.

Baca: Malaysia Tolak dan Minta Bangladesh Ambil Kembali 269 Pengungsi Rohingya: Mereka Tak Bisa di Sini

  • Sejarah


PBB mendefinisikan Rohingya sebagai minoritas agama dan bahasa dari Myanmar barat dan bahwa Rohingya adalah salah satu dari minoritas yang paling dipersekusi atau paling mendapat perlakuan buruk di dunia.

Namun asal kata Rohingya, dan bagaimana mereka muncul di Myanmar, menjadi isu kontroversial.

Sebagian sejarawan mengatakan kelompok ini sudah berasal dari ratusan tahun lalu dan lainnya mengatakan mereka baru muncul sebagai kekuatan identitas dalam seabad terakhir.

Migran diselamatkan sebagian besar Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh tidur di balai desa di kota nelayan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara pada 16 Mei 2015 setelah 95 diselamatkan oleh nelayan lokal Indonesia dari laut lepas Pangkalan Susu. AFP PHOTO / ROMEO GACAD
Migran diselamatkan sebagian besar Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh tidur di balai desa di kota nelayan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara pada 16 Mei 2015 setelah 95 diselamatkan oleh nelayan lokal Indonesia dari laut lepas Pangkalan Susu. AFP PHOTO / ROMEO GACAD (AFP PHOTO / ROMEO GACAD)

Pemerintah Myanmar berkeras bahwa mereka adalah pendatang baru dari subkontinen India, sehingga konstitusi negara itu tidak memasukkan mereka dalam kelompok masyarakat adat yang berhak mendapat kewarganegaraan.

Mereka tinggal di salah satu negara bagian termiskin di Myanmar, dan gerakan dan akses mereka terhadap pekerjaan sangat dibatasi.

Secara historis, mayoritas penduduk Rakhine membenci kehadiran Rohingya yang mereka pandang sebagai pemeluk Islam dari negara lain dan ada kebencian meluas terhadap Rohingya di Myanmar.

Di sisi lain, penduduk Rohingya merasa bahwa mereka adalah bagian dari Myanmar dan mengklaim mengalami persekusi oleh negara.

Negara tetangga Bangladesh sudah menerima ratusan ribu pengungsi dari Myanmar dan tak mampu lagi menampung mereka.

Banyak warga Rohingya yang tinggal di kamp penampungan sementara setelah dipaksa keluar dari desa mereka oleh gelombang kekerasan komunal yang menyapu Rakhine pada tahun 2012. (1)

Baca: Kasus Positif Covid-19 Pertama Terkonfirmasi di Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh

  • Konflik


Saat itu, serangkaian kerusuhan komunal antara sejumlah kelompok Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya meletus dimana-mana di seantero negara bagian Rakhine di Myanmar yang dulu, di masa klasik, bernama Kerajaan Arakan.

Rohingya sendiri adalah warga "pribumi” (native) Arakan, dan karena itu mereka sering disebut "Muslim Arakan” atau "India Arakan”.

Tetapi eksistensi Rohingya ditolak di Myanmar sehingga menyebabkan mereka menjadi salah satu kelompok etnis yang tidak memiliki negara (katakanlah, "bangsa tanpa negara”), sama seperti etnik Kurdi atau Berber di Timur Tengah.

Kerusuhan antar-kedua kelompok agama itu semakin memburuk, sejak pemerintah mendeklarasikan status darurat atas Rakhine sehingga melegalkan intervensi militer (disebut Tatmadaw) dalam "menangani” kerusuhan komunal berdimensi agama itu.

Celakanya, militer dan polisi yang berasal dari kelompok etnis mayoritas di Myanmar (terutama Bamar, Mon, dan Rakhine sendiri) bukannya "mengatasi masalah” dengan menciptakan ruang-ruang atau "titik temu” kedua kelompok untuk berdialog dan mengakhiri pertikaian, melainkan justru semakin memperuncing dan memperburuk situasi lantaran mereka juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.

Tentu saja yang banyak menjadi korban dan target tragedi kekerasan ini adalah kelompok minoritas Muslim Rohingya, yang konon jumlah mereka sekitar 1 juta di Myanmar.

Gamba resmi melaporkan Myanmar atas dugaan penghilangan paksa / genosida terhadap etnis Rohingya
Gamba resmi melaporkan Myanmar atas dugaan penghilangan paksa / genosida terhadap etnis Rohingya (AP/Bernat Armangue via ABC)

Itulah sebabnya Nicholas Farrelly, dalam buku Conflict in Myanmar, menyebut "Tragedi Rakhine” ini sebagai "anti-Muslim pogrom” atau "pembantaian massal anti-Muslim”, yang tidak hanya dilakukan oleh "massa Buddha” saja tetapi juga di back up oleh sejumlah elemen di pemerintahan, sejumlah faksi dalam militer, kelompok Buddha garis keras, dan grup-grup sipil ultranasionalis.

Tidak jelas peristiwa apa sebenarnya yang menjadi pemicu atau "trigger” kekerasan kolektif Buddha-Muslim itu.

Sebagian ada yang mengatakan tragedi itu dipicu oleh kasus pemerkosaan seorang perempuan (Buddha) Rakhine yang dilakukan beberapa orang Muslim Rohingya ("gang rape”). Ada lagi yang mengatakan tragedi itu dipicu oleh pembunuhan atas sejumlah Muslim Rohingya (oleh massa Buddha Rakhine).

Apapun pemicunya, yang jelas sejumlah kelompok Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya terlibat aksi saling-balas, saling-serang, dan saling-bunuh yang menyebabkan Myanmar tenggelam dalam tragedi kemanusiaan memilukan.

Bahkan kini, kekerasan bukan hanya dilakukan oleh sekelompok Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya saja tetapi sudah menjalar menjadi pertikaian Buddha–Muslim dari berbagai kelompok etnis. (2)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)



Informasi
Nama Etnis Rohingya
Populasi 1.547.778 hingga 2.000.000
Tempat tinggal Myanmar (Negara Bagian Rakhine), Bangladesh, India, Indonesia, Malaysia, Nepal, Pakistan, Arab Saudi, Thailand
Agama Islam, Hindu








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved