TRIBUNNEWSWIKI.COM - Banyak warga India meluapkan kemarahannya atas insiden konflik perbatasan India-China di perbatasan Himalaya.
Sejumlah orang terlihat membakar foto Presiden China, Xi Jinping saat prosesi kremasi yang dilakukan oleh sejumlah keluarga tentara yang tewas.
Puluhan orang terdengar meneriakkan "Kemenangan untuk Ibu Pertiwi" saat peti jenazah Kolonel B Santosh Babu dibawa dengan truk militer dihiasi rangkaian bunga.
"Pengorbanan prajurit kita tidak akan sia-sia," kata Perdana Menteri India, Narendra Modi, dikutip dari Reuters.
Di Kota Kanpur, banyak sentimen anti-China berkobar di jalanan.
Sejumlah warga India yang berteriak-teriak anti-Beijing sembari membakar foto Presiden Xi Jinping.
Lebih jauh lagi, sejumlah warga terlihat menggelar aksi berbentuk upacara pemakaman untuk Presiden Xi Jinping.
Laporan Strait Times ini juga menyebut banyak warga di Cuttack, India membakar patung Xi dan bendera China.
Baca: Bersiap Hadapi China, India Siagakan Sukhoi SU-30MKI hingga Helikopter Apache
Sementara itu, sejumlah kelompok nasionalis garis keras yang berafiliasi dengan Partai Bharatiya Janata, pendukung Narendra Modi menyerukan memboikot produk-produk China.
Mereka juga menyerukan pembatalan kontrak sejumlah perusahaan China.
Buntut dari seruan ini, sebuah merek ponsel terkemuka, Oppo yang berasal dari China membatalkan peluncuran gawai andalannya di India.
Di kota Surat, India Barat, sekelompok orang yang marah dilaporkan melemparkan televisi buatan China di jalanan.
Mereka menginjak-injak dan membakarnya sebagai bentuk protes yang dilakukan Rabu (17/6).
Baca: India Percepat Beli 12 Sukhoi & 21 Jet Tempur dari Rusia, Batalkan Tender dengan China, Siap Perang?
Pada situasi saat ini, masalah China tidak boleh dianggap remeh," kata Menteri Urusan Pangan dan Konsumen, Ram Vilas Paswan kepada Economic Times.
"Dalam banyak kasus, mungkin ada investasi China yang masuk (ke India), tetapi saya pikir (dimulai) dari hal-hal biasa yang kita beli dari pasar, kita pastikan bahwa kita harus menghindari produk-produk China," imbuhnya.
Di lain hal, Rusia yang dekat dengan kedua negara menyatakan berharap India dan China dapat bersepakat memastikan keamanan di perbatasan.
Otoritas Rusia menyebut India dan China harus menemukan cara yang dapat diterima bersama.
Tercatat 20 tentara India gugur dalam pertempuran non-senjata dengan pasukan China di perbatasan.
Sementara China juga dilaporkan kehilangan prajuritnya meskipun belum mengonfirmasi rincian kematian atau cedera yang diderita.
Pengamat menilai itu dilakukan China untuk tidak memperbesar eskalasi masalah jelang pertemuan dengan Amerika Serikat di Hawaii.
Sebagai langkah meredam tensi militer, Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar dijadwalkan akan hadir dalam 'Trilateral' virtual bersama perwakilan China dan Rusia pada 23 Juni.
Baca: Menteri Urusan Pangan India, Ram Vilas Paswan Serukan Boikot Produk China
Setelah bertemu pada Rabu (17/6), Jaishankar dan Wang Yi sempat sepakat untuk tidak melanjutkan eskalasi lebih jauh lagi.
Sementara pihak militer keduanya juga sempat mengadakan pembicaraan pada Kamis (18/6) untuk meredam ketegangan.
Namun, kedua perwakilan ini masih saling menyalahkan atas bentrokan pada Senin (15/6), yang menjadi bentrokan terparah sejak 1967.
Masing-masing saling menyerukan agar mengendalikan pasukannya.
Baca: Ingin Kurangi Ketegangan di Perbatasan, India dan China Lakukan Perundingan Melalui Telepon
Baca: Menakar Kekuatan Militer India dan China dalam Konflik Perbatasan, India Dinilai Lebih Berpengalaman
Baca: PM Narendra Modi: India Ingin Damai, Tapi Siap Perang Jika China Provokasi
Baca: India Gelar Pemakaman Tentara yang Tewas dalam Bentrokan dengan China
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)