Sehingga masyarakat mendapat acuan atau pegangan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Faktor testing yang agresif
Selain dua faktor tadi, melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia menurut Tonang yakni dikarenakan faktor testing yang agresif.
"Oh jelas itu (testing yang agresif) dan memang itu harapannya," ucap Tonang.
Namun, lanjutnya, yang sebenarnya diharapkan yakni jumlah pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) yang meningkat, tetapi jumlah yang positif menurun.
Tonang menjelaskan, saat ini angka positivitas masih berkisar di angka 11,5 persen.
"Kalau bisa, justru semakin banyak pemeriksaan PCR itu angka positivitas akan turun sampai di bawah 5 persen. Minimal itu dibawah 5 persen," papar Tonang.
Apabila jumlah pemeriksaan meningkat dan bersamaan jumlah positif juga meningkat, maka sebenarnya masih banyak kasus positif yang selama ini belum terdeteksi.
Baca: Waspada! Ternyata Siraman di Toilet Bisa Sebar Partikel Virus Corona ke Udara, Ahli Jelaskan Ini
4. Ada masyarakat yang masih abai
Kemudian, faktor terakhir yang mendasari meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air yakni karena masih adanya beberapa masyarakat yang abai.
"Bahwa masyarakat abai, ya ada faktor tersebut. Tapi yang lebih utama menurut saya memang soal kurangnya acuan bersama untuk mendorong partisipasi masyarakat tadi," kata Tonang.
Kendati demikian, imbuh dia, jangan kemudian mudah menyalahkan begitu saja.
"Ya namanya masyarakat memang beragam kemampuan dan pemahamannya. Kalau tidak acuan dan pegangan, ya makin beragam implementasinya," pungkas dia.
Baca: Masih Berisiko, Ini Tips Tetap Aman Potong Rambut di Salon Saat New Normal Pandemi Corona
(kompas.com/Dandy Bayu Bramasta)(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Farid)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rekor 1.331 Kasus Baru Covid-19 di Indonesia, Berikut 4 Faktor Pemicunya..."