“Apakah yang hasil rapid test-nya reaktif pasti positif? Belum tentu,” kata dia.
Setelah kemunculan hasil rapid test reaktif, yang diperlukan selanjutnya adalah langkah konfirmasi, yakni dengan tes polymerase chain reaction (PCR) pada pasien.
“Hasil PCR itu mungkin memang positif Covid-19, tapi bisa juga tidak.
Maka, rapid test disebut skrinning, bukan diagnosis pasti,” kata dia.
Sebaliknya, dr. Tonang menerangkan, seseorang yang rapid tes-nya menunjukkan hasil non-reaktif, tidak berarti tes PCR-nya pasti akan negatif atau bebas virus.
“Karena bisa saja, memang belum tepat waktunya,” kata dia.
dr. Tonang menegaskan, untuk bisa menyebut positif dan negatif, harus dengan tes PCR.
Setiap pasien diambil swab sebanyak dua kali, untuk mudahnya disebut hari pertama (H1) dan hari kedua (H2).
"Dapat disebut positif apabila minimal pada salah satu tes swab ditemukan virus covid," papar dia.
Baca: Seorang Pedagang Pasar Cepogo Boyolali Positif Covid-19, Total 212 Orang Jalani Rapid Test
Tanda negatif Covid-19
dr. Tonang menyampaikan, seseorang atau pasien dapat disebut negatif Covid-19 apabila pada kedua tes swab tidak ditemukan virus corona penyebab Covid-19.
"Maka kalau ada hasil PCR yang negatif tapi baru dari salah satu sampel, belum bisa disimpulkan.
Harus menunggu hasil sampel kedua," tutur dia.
Mengenai hasil rapid test yang digunakan sebagai syarat melakukan perjalanan, dr. Tonang berpendapat, akan lebih baik jika dilengkapi juga dengan hasil tes PCR yang menyatakan negatif Covid-19.
"Kalaupun harus diperiksa, adalah kombinasi rapid test antigen dan rapid test antibodi pada hari keberangkatan," kata dr. Tonang.
(Tribunnewswiki.com/Putradi Pamungkas/Tyo/Kompas.com/Sigiranus Marutho Bere)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Keluarga Pria yang Dinyatakan Reaktif Hamil Minta Rapid Tes Ulang, Ini Syaratnya"