"Sesungguhnya, tidak ada pabrik yang dapat memproduksi miliaran dosis. Sehingga akan ada tahapan yang harus dilalui dan akan ada orang-orang yang lebih dulu menggunakannya."
Para ahli mengaku vaksin ini seharusnya digunakan terlebih dahulu oleh anggota masyarakat yang termasuk dalam kategori rentan.
"Tidaklah sulit untuk mengetahui siapa kelompok golongan rentan ini. Umumnya adalah generasi tua dan orang-orang yang menderita penyakit diabetes atau tekanan darah tinggi," ujar Profesor Jonathan.
Baca: Kabar Baik, Pakar China Sebut Vaksin Virus Corona Siap Digunakan pada Akhir Tahun
"Dan pekerja di bidang essential (atau penting), militer, polisi, pemadam kebakaran. Barulah setelah itu orang-orang lain."
Mengutip pernyataan dari Departemen Kesehatan Australia, percakapan mengenai penentuan kelompok yang diprioritaskan dan bagaimana cara menyalurkan vaksin masih berlangsung.
"Seiring bermunculannya dengan kandidat vaksin yang menjanjikan, keputusan tentang pelaksanaan program imunisasi nasional (di Australia) akan ditentukan oleh Kabinet Nasional, berdasarkan anjuran dari Komite Pimpinan Perlindungan Kesehatan Australia," narasi dari pernyataan tersebut.
"Keputusan akan dibuat berdasarkan bukti ilmiah terbaik yang ada, analisa risiko pada kelompok rentan secara relatif, dan juga persediaan vaksin di waktu tertentu."
Akankah ada elitisme?
Professor Jonathan mempercayai negara-negara 'elit' merupakan yang akan terlebih dahulu mengakses vaksin saat sudah mulai beredar.
"Negara kelas atas — mereka ada di posisi terbaik. (Semuanya akan) mengikuti di mana uang berada," bebernya.
"Sudah mulai terlihat yang namanya nasionalisme vaksin dan hal ini cukup meresahkan."
"Idealnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan menetapkan pedoman yang dapat berlaku secara global, namun, menurut perkiraan saya, hal ini tidak akan terjadi sekarang," kata dia, merujuk pada hubungan Presiden AS Donald Trump dengan organisasi tersebut yang kurang baik.
Thomas menyebutkan dunia telah belajar dari kejadian di tahun 2009, di mana "negara kaya" membeli vaksin H1N1 atau flu babi, sampai menelantarkan "negara miskin".
"Ini adalah sesuatu yang memicu pertumpahan darah," kata Thomas.
"Menurut saya kini sudah muncul pemahaman bahwa kita harus mengutamakan unsur solidaritas global." tandasnya.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kaka)