TRIBUNNEWSWIKI.COM - Penanganan pandemi virus Corona di Indonesia memang terjadi tarik ulur.
Selain kebijakan pemerintah yang tidak tegas demi membendung arus pergerakan atau perpindahan masyarakat dan jaring pengaman sosial yang tak berjalan baik dalam pelaksanaan, sebagian masyarakat Indonesia pun belum seluruhnya menyadari penting pencegahan penyakit menular yang satu ini.
Selain banyak ditemukannya warga tak bermasker dan tidak jaga jarak ketika beraktivitas diluar rumah, sebagian masyarakat juga menunjukkan sikap tak terpuji dengan perilaku tak akomodatif dan kooperatif terhadap instruksi petugas dan protokol kesehatan.
Beberapa waktu lalu beredar video belasan orang membawa kabur jenazah pasien Covid-19 sekaligus ranjangnya dari RS Paru Karang Tembok, Surabaya.
Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, Joni Wahyuhadi menjelaskan, dari keterangan Dirut RS Paru Karang Tembok, pasien tersebut meninggal pada 4 Juni dini hari.
Pasien telah mendapatkan perawatan maksimal dari tim medis RS Paru Karang Tembok.
Pada saat pasien meninggal, pihak RS Paru berupaya menghubungi keluarga.
Namun, tidak juga berhasil meski sudah berulang kali pihak RS Paru mencoba menghubungi keluarga pasien.
Baca: Viral Video Eksperimen di Jepang Tunjukkan Cepatnya Virus Corona Menyebar saat Makan Di Restoran
Baca: WHO Klarifikasi Pernyataan tentang Penularan Virus Corona oleh Pasien Covid-19 Asimptomatik
Baca: Inilah Daftar 100 Negara di Dunia Paling Aman dari Virus Corona, Indonesia Urutan 97 di Bawah Peru
Mengutip artikel Tribunjatim berjudul Kronologi Warga Larikan Jenazah Covid-19 dari RS Paru Surabaya, Petugas Bantu Malah Dibuat Ketakutan, pihak manajemen RS Paru baru bisa mendapatkan sambungan komunikasi dengan keluarga pasien sekitar pukul 08.00 WIB.
Keluarga pasien yang datang ke RS Paru kemudian diberi penjelasan oleh dokter.
Keluarga meminta izin untuk berunding dengan anggota keluarga yang lain hingga pukul 8.30 WIB.
"Jadi mulai jam lima meninggalnya."
"Kemudian pukul 09.00 ada dua keluarga pasien yang meminta masuk untuk memastikan bahwa yang meninggal itu ibunya," ujar Joni dikutip dari Tribunjatim, Selasa (9/6/2020).
Petugas menyiapkan APD untuk keluarga tersebut sebelum masuk melihat jenazah yang sudah dibungkus plastik sebagaimana protokol Covid-19.
Pukul 11.00 WIB, sekitar 10 sampai 11 orang menuju lantai empat tempat isolasi jenazah dan tiba-tiba membawa paksa jenazah beserta tempat tidurnya.
Petugas melapor ke sekuriti agar tindakan keluarga dihentikan, tetapi tak berhasil menghalangi, Direktur RS Paru akhirnya memerintahkan perawat dengan menggunakan APD lengkap datang ke rumah almarhum untuk membantu pemulasaraan jenazah.
Bukannya disambut baik, sesampainya di rumah duka ratusan orang menolak jenazah ditangani sesuai dengan protokol Covid-19.
"Selanjutnya massa anarkis dengan memukul mobil ambulans dan mendorong petugas."
"Tidak ada polisi pada waktu itu."
"Petugas sampai berlindung ke depot air isi ulang," ucap Joni.