Produk Apple yang berada di gerai-gerak tersebut habis dijarah oleh oknum penjarah.
Sebagai perusahaan gadged berteknologi tinggi, tentu saja Apple tak tinggal diam dan memberikan balas dendam cerdik bagi para penjarah.
Sebenarnya, Apple diketahui memang memiliki perangkat lunak yang bisa melindungi produk mereka ketika diambil secata ilegal dari toko.
Namun tak banyak yang mengetahui hal ini, sampai kasus penjarahan terjadi.
Terbukti dari adanya unggahan seseorang yang diduga ikut menjarah ponsel Apple di media sosial Twitter berikut:
Dalam unggahan tersebut, terdapat tulisan yang megatakan bahwa pengguna harus mengembalikan ponsel jarahannya.
"Tolong kembalikan (perangkat) ke Apple Walnut Store. Perangkat ini telah dibekukan dan sedang dilacak. Otoritas setempat telah disiagakan," demikian tulisan yang tertera di perangkat Apple jarahan.
Tentu saja, tindakan Apple tersebut akan membuat penjarah jera sekaligus merasa malu.
Meski demikian, tidak mungkin semua perangkat yang dijarah tersebut akan dikembalikan ke tempat dimana mereka mendapatkannya.
Bukan itu pula yang diharapkan oleh pihak Apple.
Bisa jadi perangkat itu akan dijual kembali sebagai suku cadang di tempat barang curian.
Perangkat tersebut juga dimungkinkan akan dibuang oleh si penjarah agar dirinya tak bisa dilacak sebagai pelaku pencurian.
Yang jelas, tindakan cerdik Apple ini akan meningkatkan branding mereka sebagai produk dengan tingkat keamanan yang tinggi.
Baca: AS Dibayangi Gelombang Kedua Covid-19 di Tengah Meluasnya Aksi Protes Atas Kematian George Floyd
Penjarahan besar-besaran terjadi di Santa Monica
Kasus penjarahan besar-besaran oleh demonstran juga terjadi di Santa Monica, Minggu (31/5/2020).
Seperti yang diberitakan oleh CBSLA, Joe, sang pemilik dari toko minuman keras Broadway Wine & Spirits bahkan mempersenjatai dirinya dengan senapan AR-15 atau M16.
Joe menjelaskan bahwa hampir semua pertokoan yang berada di sekitar tokonya juga melakukan hal yang sama.
Yaitu mempersenjatai diri mereka dan karyawan dengan senjata api untuk menghindari adanya penjarahan.
Terlebih, lokasi pertokoan dimana Joe dan rekannya berjualan berada dekat dengan jalan utama.
Joe mengatakan, ketika para oknum tersebut mulai mendekati toko, mereka enggan melakukan penjarahan lantaran melihat para karyawan dipersenjatai AR-15 dan senjata lainnya.