Seminar di UGM Batal Akibat Teror Pembunuhan, Pengamat : Demokrasi Terkebiri di Era Presiden Jokowi

Pengamat komunkasi politik dari lembaga survey Kedai KOPI, Hendri Satrio menegaskan ada pengebirian demokrasi selama pemerintahan Presiden Jokowi.


zoom-inlihat foto
jokowi-new-normal-tni-polri.jpg
Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika meninjau kesiapan penerapan prosedur standar tatanan baru atau new normal pada Selasa, (26/5/2020) pagi di Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Rencananya, sebanyak 340.000 anggota TNI-Polri akan dikerahkan untuk melakukan pengawasan di 1.800 titik obyek keramaian.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ancaman kebebasan berpendapat kembali terjadi di Republik Indonesia akhir-akhir ini.

Setelah riuh ramai kabar seorang jurnalis senior, Farid Gaban yang dilaporkan ke polisi oleh politisi PSI, Muannas Alaidid karena mengkritik kebijakan Menteri Koperasi dan UKM yang menjalin kerjasama dengan Blibli milik Djarum yang dinilai tidak mengurai masalah di sektor UKM masyarakat, publik lalu dikejutkan dengan kasus lain.

Sebuah seminar yang mendiskusikan tema pemberhentian Presiden dalam koridor konstitusi Indonesia oleh mahasiswa UGM dengan Guru Besar Hukum Tata Negara UII yakni Prof. Dr. Nimatul Huda, S.H., M.Hum mendapat teror pembunuhan dari pihak tak dikenal.

Para pihak terkait seperti mahasiswa dan pembicara mendapat teror verbal melalui telepon genggam dengan ancaman pembunuhan, hingga kediaman mereka yang diganggu oleh orang tak dikenal.

Publik menyebut, arus kehidupan demokrasi dimasa pemerintahan Presiden Joko Widono (Jokowi) saat ini sudah tidak lagi sehat.

Kritik dibalas dengan pelaporan ke polisi dan diskusi akademik diancam dengan teror pembunuhan

Menurut pengamat Komunikasi Politik dari lembaga survey Kedai KOPI, Hendri Satrio saat ini terjadi pengebirian demokrasi di era Presiden Jokowi.

Dilansir dari laman TribunWow.com berjudul Bahas Teror di Balik Batalnya Seminar Pemecatan Presiden, Hendri Satrio: Pak Jokowi Tahu Enggak Sih?, hal itu disampaikan Hendri Satrio terkait dengan pembatalan seminar pemecatan presiden di masa pandemi yang diadakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Baca: Tulis Surat Terbuka Minta Jokowi Mundur dari Jabatan Presiden, Mantan Anggota TNI Diamankan Polisi

Baca: Kembali Bersuara, Refly Harun Buka Celah Buruk Era Presiden Jokowi: Pengkritik Bisa Dikriminalisasi

Baca: Walau Sebut Jokowi Orang Baik, Din Syamsuddin: Presiden Tak Kuasa Atasi Orang Buruk di Sekitarnya

Bahkan, pembatalan itu kabarnya disebabkan karena pihak panitia mendapat teror pembunuhan dari oknum yang belum diketahui asal-usulnya.

Hal tersebut disampaikan Hendri Satrio melalui kanal YouTube Apa Kabar Indonesia tvOne, Sabtu (30/05/2020) lalu.

Pengamat komunikasi politik, Hendri Satrio.
Pengamat komunikasi politik, Hendri Satrio. (Tribunnews.com)

"Memang ada perbincangan bahwa mungkin ada pihak yang menginginkan ada isu selain Covid-19 yang dibicarakan," ucap dia.

"Karena Covid-19 ini akan terkait dengan ekonomi, maka muncullah isu-isu yang sebetulnya seksi tapi menurut saya sampai saat ini gagal masuk untuk menggantikan permasalahan ekonomi akibat Covbid-19."

Terkait hal itu, ia lantas menyinggung soal kepemimpinan Jokowi sejak periode pertama.

Isu soal kebebasan menurutnya tak pernah menjadi fokus utama mantan wali kota Solo itu.

"Isu soal komunisme dan yang kedua soal ini, isu soal kebebasan berpendapat."

"Tapi lagi-lagi dari periode pertama Pak Jokowi, ini kerap terjadi dan memang ya tidak menjadi fokus utama Pak Jokowi," tandasnya.

Lebih lanjut, Hendri lantas menyebut adanya kesalahan komunikasi di pemerintahan Jokowi.

Hendri pun menyinggung kasus pemecatan anggota TNI, Ruslan Buton, karena mendesak sang presiden mundur dari jabatan.

"Lagi-lagi saya mengatakan bahwa mungkin ada kesalahan penerjemahan visi misi Pak Jokowi di sini dan masalah komunikasi yang tidak ekstravaganza," ucap Hendri.

Poster diskusi mahasiswa UGM yang mendapat teror dari pihak tak dikenal.
Poster diskusi mahasiswa UGM yang mendapat teror dari pihak tak dikenal. (Instagram)

"Menurut saya pertanyaan besarnya kan begini, dalam hal misalnya sebelumnya ada Ruslan Buton, kemudian ada case UGM ini."











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved