Pengembangan vaksin pun dilakukan dengan menggunakan virus tak berbahaya guna mendapatkan informasi mengenai protein virus.
Akan tetapi pengembangan vaksin yang lebih umum berasal dari virus corona yang sudah mati.
Baca: Kabar Gembira, Obat Remdesivir China untuk Tangani Corona Dapat Persetujuan BPOM AS
Baca: China Kembangkan Remdesivir, Antivisus Untuk Perangi Corona, Ilmuan Wuhan Minta Hak Paten
Novavax juga melakukan uji coba dengan menambahkan cara baru yang disebut dengan vaksin rekombinan.
Vaksin rekombinan yaitu menggunakan rekayasa genetika untuk menumbuhkan duplikasi protein virus corona yang tak berbahaya di laboratorium.
Novavax memperoleh kucuran dana 388 juta dolar AS (sekitar Rp 5,7 triliun) dari sebuah lembaga epidemi di Norwegia untuk pengembangan vaksin tersebut.
Organisasi riset klinis 'Nucleus Network' bertanggungjawab dan ditunjuk untuk melakukan pengujian vaksin dengan metode ini dan diberi nama NVX-CoV2373 .
Protein dalam virus itu diekstraksi dan dimurnikan.
Lantas berikutnya dikemas menjadi partikel nano berukuran virus.
Peserta dalam ujicoba vaksin Covid-19 oleh Novavax ini sebanyak 131 orang sehat berusia antara 18 sampai 59 tahun.
Sebelumnya, Novavax juga sudah melakukan uji coba vaksin ini ke hewan.
Hasilnya pun menunjukkan keberhasilan dengan dosis yang rendah.
WHO membatalkan uji coba klorokuin dalam pandemi virus corona
Saat pengembanganvaksin corona tengah berjalan, Badan kesehatan dunia WHO justru membatalkan pengujian obat malaria hidroksi klorokuin (hydroxychloroquine) pada pasien positif Covid-19.
Langkah tersebut diambil dengan dalih alasan keamanan.
Dirjen WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus memaparkan, dalam sebuah penelitian memperlihatkan obat ini beresiko pada jantung pasien Covid-19 dan bisa menyebabkan kematian.
Presiden AS, Donald Trump, dan sejumlah pemimpin negara lain memuji obat ini menjadi obat yang efektif untuk pasienterpapar virus corona.
Trump bahkan mengklaim sudah menggunakan obat tersebut untuk mencegah infeksi, walaupun belakangan ia menyatakan telah berhenti meminumnya.
WHO merekomendasikan supaya jangan menggunakan hydroxychloroquine untuk mengobati atau mencegah infeksi virus corona, kecuali sebagai bagian dari uji klinis.
Orang pertama Amerika Serikat itu bahkan sesumbar tentang obat klorokuin.
AKn tetapi, pihak berwenang dalam masalah obat di AS sendiri sudah memperingatkan efek samping mematikan, apabila obat tersebut digunakan selain untuk pengobatan malaria.