"Kalau gorengannya digoreng dengan minyak berulang, karena teroksidasi, sehingga mengiritasi tenggorokan," ujar Harry saat dihubungi terpisah oleh Kompas.com, Sabtu (9/5/2020).
Namun, jika ingin terhindar dari penggorengan yang berulang kali, Anda dapat menggoreng sendiri.
Baca: Sering Terlambat Makan Sahur saat Puasa Ramadan? Ini 5 Kiat Mudah Agar Tak Bangun Kesiangan
Gorengan sulit dicerna
Mengutip pemberitaan Kompas.com, Jumat (18/5/2018), gorengan mengandung lemak dalam minyak yang membuat makanan ini sulit dicerna, terutama ketika gorengan menjadi makanan pertama yang dimakan setelah puasa.
Saat perut kosong setelah seharian berpuasa dan kemudian terisi dengan gorengan, tentunya menyebabkan saluran pencernaan bekerja lebih keras untuk dapat mencerna lemak tersebut.
Karena sulit dicerna, proses pencernaan makanan akan berlangsung lama dan dapat mengganggu serta menghambambat saluran pencernaan untuk memproses zat memproses zat gizi lain.
Selain itu, dampak dari proses pencernaan yang lama, maka perut tidak cepat merasa kenyang. Alhasil, timbul makan berlebihan.
Yang perlu diperhatikan ketika mengonsumsi gorengan yakni efek yang terjadi jika kita terus-terusan mengonsumsi gorengan.
Gorengan dikenal mengandung lemak jahat bagi tubuh.
Lemak trans dalam gorengan dapat meningkat kadar low-density lipoprotein (LDL) atau biasa dikenal dengan lemak jahat, dan menurunkan kadar high-density lipoprotein (HDL) atau lemak baik dalam tubuh.
Diketahui, jika lemak jenuh dan lemak trans yang ada pada gorengan dapat menumpuk dan menghambat di dalam arteri di tubuh.
Apabila aliran darah terhambat, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyebab dari penyakit jantung dan stroke.
(TribunnewsWiki/Febri/Kompas/Retia Kartika Dewi)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Berbuka Puasa dengan Gorengan, Amankah?",