"Sebagian besar mutasi ini kemungkinan akan menemui jalan buntu, baik yang terjadi pada individu dan pada yang tidak ditransmisikan atau dalam rantai transmisi, akan gagal secara kebetulan," katanya.
Sebagian besar virus RNA bermutasi dengan cepat, tetapi dibandingkan dengan yang lainnya, SARS-CoV-2 sebenarnya bermutasi dengan cukup lambat.
Menurutnya, virus corona penyebab Covid-19 masih memiliki satu strain saja.
Studi lonjakan protein diragukan MacLean's mengatakan bahwa penelitian timnya menimbulkan keraguan atas klaim yang dibuat dalam makalah pendahuluan yang dirilis oleh tim peneliti di Los Alamos National Laboratory di California.
Dalam studi tersebut, dinyatakan terjadi mutasi yang berkaitan dengan lonjakan protein dan mendorong 'adanya masalah yang mendesak.'
Baca: Tuduh China Penyebab Pandemi Virus Corona, Donald Trump: Lebih Buruk dari Serangan Pearl Harbor
Penelitian ini menunjukkan mutasi membuat satu jenis virus lebih menular daripada jenis aslinya yang berasal dari Wuhan, China.
Studi juga mengungkapkan mutasi baru dari virus corona yang asli mulai menyebar di Eropa pada awal Februari 2020 dan dengan cepat ke sejumlah negara lainnya, dan menjadi jenis yang paling dominan di dunia.
Untuk melihat apakah mutasi membuatnya lebih menular, mereka menilai data genetik pada sampel virus yang dikumpulkan dari pasien di sekitar kota Sheffield di Inggris, dan menemukan pasien ini tampaknya memiliki tingkat virus yang lebih tinggi.
Para ahli lainnya menyatakan, bukan berarti saat ini ada dua strain virus corona yang beredar, dengan satunya dikabarkan lebih menular dan mengancam.
Mereka berpendapat, klaim tentang penularan virus itu dilebih-lebihkan.
Sebab, mutasi yang sering muncul dalam suatu populasi tidak selalu mencerminkan perubahan dalam fungsi suatu virus.
Adapun penelitian oleh Los Alamos National Laboratory ini diunggah ke situs bioRxiv, yang dikenal sebagai situs web pra-cetak dari publikasi penelitian.
Itu berarti temuan tersebut belum melalui proses peer-review yang ketat yang diperlukan untuk mempublikasikan dalam jurnal ilmiah.
Profesor Evolusi Patogen di UCL di Inggris, Richard Goldstein menyatakan, dirinya menemukan analisis mutasi itu 'tidak meyakinkan' secara keseluruhan.
Ada beragam alasan yang mungkin muncul dan tidak ada hubungannya dengan kemampuan virus untuk menyebar.
Misalnya, virus mungkin muncul di lokasi dengan kepadatan populasi yang tinggi, di wilayah yang tidak memiliki infrastruktur medis atau epidemiologis dengan baik, di wilayah yang tidak mempraktikkan aturan jarak sosial, atau di temat-tempat pusat transportasi.
Goldstein juga mempertanyakan pendekatan tim untuk mendukung klaim mereka dengan pengamatan bahwa mutasi menjadi lebih lazim di wilayah geografis yang berbeda, karena mereka tidak terisolasi atau tidak independen satu sama lain.
Dia mengatakan bahwa ketika pandemi Covid-19 terus melonjak, memang penting untuk mengkarakterisasi perilaku dalam proses penyebaran virus dan mengenai perubahan dalam perilaku tersebut.
"Dan itu sama pentingnya dengan mengenali keterbatasan dalam data, dan menahan diri untuk tidak membuat klaim yang kurang mendukung (tentang mutasi virus corona)," katanya.
(TribunnewsWiki/Febri/Kompas/Yohana Artha Uly)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ahli: Mutasi Virus Corona Sesuatu yang Wajar, Ini Sebabnya"