TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ada penelitian yang menyebutkan bahwa SARS-CoV-2 penyebab covid-19 sudah bermutasi.
Virus itu bermutasi menjadi dua strain dan salah satunya diyakini lebih agresif dan lebih cepat menular.
Namun, mutasi ini memicu perdebatan di antara ilmuwan karena beberapa menyakini tidak ada bukti virus corona telah berubah menjadi lebih cepat menular.
Saat ini istilah 'mutasi' memberikan konotasi yang menakutkan terhadap perubahan yang terjadi pada suatu virus.
Seolah-olah berdampak pada betapa mudahnya menginfeksi dan seberapa serius dapat menyebabkan manusia jatuh sakit.
Padahal, mutasi merupakan bagian yang normal dalam siklus kehidupan suatu virus.
Baca: Menristek Sebut Tipe Virus Corona di Indonesia Berbeda dengan 3 Jenis Lain di Dunia
Baca: Teori Konspirasi Seputar Corona: RS Sepi, Media Jadi Kambing Hitam & Kepentingan Politik Terselubung
Virus terdiri dari materi genetik atau RNA yang terbungkus oleh protein.
Ketika menginfeksi inang, seperti manusia, virus membuat salinan baru dari data genetik mereka untuk ditiru.
Namun, terkadang salinan tersebut tidak sesuai, membuat perubahan kecil dalam informasi genetik virus.
Seperti anak-anak yang melakukan kesalahan ketika menyalin informasi dari papan tulis ke bukunya, terjadi sedikit perubahan.
Hal itulah yang disebut mutasi.
"Mutasi virus adalah fitur replikasi virus yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari. Meskipun penting untuk memantau mutasi virus. Tapi bukan berati jadi satu-satunya perhatian," ujar Oscar MacLean, seorang Bioinformatika di Pusat Penelitian Virus University of Glasgow, Inggris seperti dilansir dari Newsweek, Jumat (8/5/2020).
Semua orang setuju bahwa SARS-CoV-2 memang telah bermutasi, tapi itu bukanlah suatu hal yang mengejutkan, mengingat mutasi adalah siklus yang normal pada suatu virus.
Sejauh ini, ada 7.237 mutasi yang telah didokumentasikan.
Pekan ini, memang terdapat beberapa hasil penelitian yang dipublikasikan terkait perkembangan mutasi virus corona yang sebabkan Covid-19, baik dari University College London, Inggris, maupun Arizona State University, Amerika Serikat.
Baca: Masih Belum Ada Vaksin, Ilmuan Ungkap Hal yang Akan Terjadi di Dunia Jika Corona Tak Bisa Dihentikan
Baca: Universitas di Singapura Prediksi Pandemi Virus Corona di Indonesia Berakhir pada Oktober 2020
Meski demikian, perlu mutasi yang sangat signifikan agar jenis baru SARS-CoV-2 dapat dideklarasikan.
Para ahli menyatakan, hingga saat ini belum ada bukti terjadinya perubahan signifikan pada virus yang menyebabkan Covid-19.
MacLean mengingatkan, harus berhati-hati untuk mendeskripsikan 'tipe' baru dari virus corona.
Lantaran, ini bisa menjadi istilah yang terlalu sugestif bagi masyarakat.
Merujuk pada sebuah penelitian yang dilakukannya dan telah diterbitkan dalam jurnal Virus Evolution, MacLean mengatakan tidak ada bukti konklusif yang menyatakan bahwa 7.237 mutasi tersebut memiliki efek pada perubahan fungsi SARS-CoV-2.