TRIBUNNEWSWIKI.COM - Penyebab meninggalnya istri mendiang mantan Presiden Soeharto, Ibu Tien Soeharto menjadi misteri yang lama tak terungkap.
Anak sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana, alias Mbak Tutut akhirnya buka suara untuk meluruskan isu yang beredar terkait meninggalnya Ibu Tien Soeharto.
Dikutip dari Surya.co.id, menurut Mbak Tutut kabar yang menyebutkan Ibu Tien meninggal karena ditembak adik-adiknya adalah fitnah yang sangat keji.
"Lalu saya mendengar berita tersebar, bahwa ibu wafat karena tertembak oleh adik-adik saya.
Saya heran, siapa manusia yang tega menyebarkan berita keji tersebut.
Demi Allah, apa yang bapak ceritakan, itu yang terjadi.
Tadinya saya akan diamkan saja," cuit Mbah Tutut dalam Twitter pribadinya, Rabu (29/4/2020).
Karena kabar ini terus diulang-ulang, Mbak Tutut pun tergerak untuk menceritakan kebenarannya.
"Tapi rasanya berita itu semakin diulang-ulang ceritanya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Sebelum Allah memanggil saya, masyarakat harus tahu kebenarannya. Dan alhamdulillah sekarang ada medsos, yang alhamdulillah saya pun ikut aktif di sana".
Melalui blog pribadinya, Mbak Tutut lalu menceritakan fakta meninggalnya Ibu Tien yang dia dapatkan dari ayahnya, Soeharto.
"Siapapun yang membuat cerita itu, dan siapapun yang ikut menyebarkan, kami serahkan pada Allah untuk menilainya. Karena kami meyakini, bahwa Allah adalah Hakim Yang Maha Adil," tukasnya.
Baca: Stadion Manahan Solo Diresmikan Hari Ini, Keluarga Tien Soeharto Pendiri Stadion Tak Diundang
Berikut cerita selengkapnya yang disadur dari blog tututsoeharto.id:
"Dua puluh empat (24) tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 April 1996, Ibu kami tercinta telah dipanggil Allah SWT.
Pada saat itu saya sedang bertugas memimpin sidang organisasi donor darah dunia (di Prancis dan Kemudian di London). Alhamdulillah, pada saat itu saya menjabat sebagai Presiden Donor Darah Dunia.
Betapa terkejut ketika saya mendengar berita ibu telah tiada.
Pada saat saya berangkat, ibu masih segar bugar. Mendengar kabar lelayu (berita Ibu wafat), saya langsung kembali ke Jakarta.
Itulah perjalanan paling lama yang saya rasakan selama saya bepergian.
Penerbangan yang saya dapat waktu itu SQ, dan harus berhenti si Singapore.
Untuk mempercepat waktu, suami saya menjemput saya di Singapore. Kami langsung menuju ke Solo. Jenazah ibu sudah ada disana.