TRIBUNNEWSWIKI.COM - Seto Mulyadi megatakan banyak anak-anak yang mengalami stres ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) dilaksanakan di rumah.
Dikatakan oleh sang Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) tersebut, stres dipicu oleh pembelajaran yang kini didampingi oleh orang tua.
Program belajar dari rumah membuat anak-anak tidak mendapatkan pengajaran dari guru profesional.
Sehingga orangtua harus menggantikan peran guru untuk mendampingi putra putrinya di rumah.
Dikutip dari Tribunnews.com, orangtua yang kurang siap menggantikan peran guru tersebutlah yang membuat anak-anak menjadi tertekan.
"Banyak anak anak yang mengalami stres, tertekan," ujar Seto di Kantor BNPB, Sabtu (25/4/2020).
"Salah satunya adalah kadang di dalam cara orang tua menghadapi putra putri tercinta para orang tua sekarang harus menjadi guru tiba-tiba di dalam rumah," lanjutnya.
Baca: Belajar di Rumah, Mendikbud Minta Guru Berikan Materi Life Skill dan Karakter dari Pandemi Covid-19
Baca: Materi Kelas 1-3 SD Program Belajar dari Rumah di TVRI Jumat (24/4/2020): Manfaat dan Cara Menabung
Pemaksaan oleh orangtua
Menurut Seto, stres yang dialami oleh anak-anak disebabkan adanya pemaksaan yang dilakukan oleh orangtua.
Seto mengatakan orangtua cenderung memberikan pengajaran yang terkesan memaksa putra putrinya untuk bisa memahami penjelasan yang diberikan.
"Dan kemudian (orangtua) mencoba untuk menjelaskan, menerangkan, kadang kadang memaksa hak ini dicapai oleh putra putri sendiri sehingga akhirnya yang muncul adalah anak-anak tertekan," ucap Seto seperti yang dikutip dari Tribunnews.
Anak-anak rindu belajar di sekolah
Lebih lanjut, Seto mengatakan beberapa anak menginginkan kembali ke sekolah dan diajar oleh guru-guru mereka.
Dikatakan Seto, anak-anak merasa lebih nyaman dan tenang jika belajar bersama sang guru.
Anak-anak juga lebih mudah memahami pembelajaran di sekolah lantaran metode pengajaran lebih kreatif dan menarik.
"Beberapa rindu kembali ke sekolah, bertemu dengan ibu guru atau bapak guru yang menjelaskannya lebih nyaman, lebih tenang, lebih kreatif dan sebagainya," pungkas Seto.
Seperti diketahui, saat ini sekolah yang menerapkan pembelajaran dari rumah sekitar 97,6 persen.
Sementara sisanya tidak melaksanakan belajar di rumah karena tidak memiliki perangkat pendukung.
Sekitar 2,4 persen yang tidak melaksanakan belajar dari rumah adalah sekolah yang berada di daerah khusus pedalaman, bukan daerah terjangkit Covid-19.
Program belajar di rumah di stasiun TVRI