Sekjen PBB Antonio Guterres: Pandemi Corona Berpotensi Picu Krisis Hak Asasi Manusia

Sekjen PBB Antonio Guterres katakan pandemi corona bisa memicua danya krisis hak asasi masusia akibat penyalahgunaan kewenangan negara.


zoom-inlihat foto
sekretaris-jenderal-sekjen-pbb-antonio-guterres.jpg
AFP/MICHAEL TEWELDE
FOTO: Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres ketika memberikan pidato dalam konferensi pers pada KTT Uni Afrika ke-33, 8 Februari 2020 di Addis Ababa.


Imbasnya, kegiatan jurnalistik dan kebebasan pers menjadi terancam di beberapa wilayah.

Bahkan ada pula kebijakan dimana pemerintah melakukan pengawasan ponsel maupun sosial media masyarakatnya dengan ketat.

Serta masih banyak lagi kasus penyalagunaan kekuasaan yang diatasnamakan sebagai langkah pemerintah mengatasi pandemi.

Pemerintah harus transparan, responsif, dan bertanggung jawab penuh

Orang-orang yang memakai masker mengunjungi pasar makanan segar di Hong Kong pada 29 Januari 2020, sebagai langkah pencegahan setelah wabah virus yang dimulai di kota Wuhan di Cina. Virus yang sebelumnya tidak dikenal telah menyebabkan alarm karena kemiripannya dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), yang menewaskan ratusan di seluruh daratan Cina dan Hong Kong pada 2002-2003.
Orang-orang yang memakai masker mengunjungi pasar makanan segar di Hong Kong pada 29 Januari 2020, sebagai langkah pencegahan setelah wabah virus yang dimulai di kota Wuhan di Cina. Virus yang sebelumnya tidak dikenal telah menyebabkan alarm karena kemiripannya dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), yang menewaskan ratusan di seluruh daratan Cina dan Hong Kong pada 2002-2003. (DALE DE LA REY / AFP)

Guterres juga mengatakan pemeritah seharusnya lebih transparan, responsif, dan bertanggung jawab penuh dalam mengatasi Covid-19.

Pemerintah juga harus menekankan bahwa kebebasan pers, masyarakat sipil, sektor swasta dan kebebasan ruang publik adalah hal yang esensial.

Sang  pimpinan PBB tersebut juga menambahkan jika negara harus mengeluarkan kebijakan yang legal dan proporsional.

Selain itu negara diharapkan tidak melakukan diskriminasi, serta menggunakan pendekatan yang tidak mengganggu serta tetap melindungi kesehatan masyarakat.

"Menggunakan respons keamanan yang abusif bisa mengganggu responsi terhadap pandemi itu sendiri," jelas Gutteres.

"Hal tersebut justru dapat memperburuk ancaman yang ada sekarang (pandemi corona) menjadi masalah yang lebih besar," lanjutnya.

Guterres pun menegaskan jika ancaman pandemi adalah virus, bukan manusia, bukan pula hak asasi manusia.

"Pesan saya sangat jelas: masyarakat dan hak asasi manusia harus menjadi prioritas terdepan," tegas Guterres.

Baca: Korea Utara Masih Bungkam, Donald Trump Bantah Isu Kim Jong Un Sakit Parah: Berita Palsu

Baca: Cerita di Balik Ukiran Relief Candi Borobudur, Kisah tentang Bidadari Manohara hingga Raja Bimbisari

Baca: Mobil WHO Pembawa Sampel Uji Virus Corona Diserang, Pejabat Terluka dan Supir Meninggal Dunia

(TRIBUNNEWSIKI/Magi)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved