Kasus Kematian Akibat Virus Corona di Indonesia Tergolong Tinggi, Ternyata Ini Alasannya

Mengapa angka kematian akibat virus corona di Indonesia tinggi, berikut penjelasan menurut ahli.


zoom-inlihat foto
petugas-mengangkat-jenazah-pasien-virus-corona.jpg
Tribunnews/Irwan Rismawan
Petugas mengangkat jenazah pasien virus corona atau Covid-19 yang meninggal untuk dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (25/3/2020). Pemprov DKI Jakarta menyediakan dua taman pemakaman umum (TPU) untuk pasien virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni TPU Tegal Alur dan TPU Pondok Ranggon.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kasus positif virus corona di Indonesia semakin banyak.

Dilansir oleh Covid-19.go.id, hingga Minggu (19/4/2020) sore, jumlah terinfeksi virus coroa di Indonesia mencapai 6.575 kasus.

Dari angka tersebut, 5307 pasien masih dalam perawatan, 686 sembuh, dan 582 di antaranya meninggal dunia.

Dari angka ini, kita bisa melihat bahwa angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia sangat banyak.

Beberapa orang mungkin juga heran, kenapa pasien Covid-19 yang meninggal di Indonesia jauh lebih banyak dibanding yang sembuh.

Sebenarnya apa saja yang bisa menyebabkan pasien Covid-19 meninggal dunia?

Baca: Menteri BUMN Ungkap Ada Mafia yang Kuasai Impor Alat-alat Kesehatan di Tengah Pandemi Virus Corona

Baca: Akhirnya China Bongkar Total Kematian Corona, 50% Lebih Tinggi dari yang Dilaporkan Sebelumnya

Dijelaskan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, dalam konferensi pers daring #FKUIPeduliCovid19 pada Jumat (27/3/2020), ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang meninggal karena Covid-19.

Faktor penyebab kematian kasus virus corona di Indonesia dikutip dari Kompas.com:

1. Faktor umur

Dalam laporan yang terbit di jurnal Lancet edisi 9 Maret 2020, disebutkan bahwa faktor umur sangat memengaruhi tubuh dalam melawan corona.

"Berdasarkan kepustakaan yang ada dan dari jurnal Lancet, umur menjadi faktor penting (terkait kematian akibat Covid-19).

Semakin tinggi usia, maka semakin berisiko pada kematian," kata Ari.

Pasien yang berstatus PDP dari Kabupeten Luwu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Sawerigading Kota Palopo, Sabtu (21/3/2020).
Pasien yang berstatus PDP dari Kabupeten Luwu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Sawerigading Kota Palopo, Sabtu (21/3/2020). (RSUD Sawerigading via TribunPalopo)

2. Skor SOFA

Sepsis adalah gangguan fungsi organ akibat infeksi yang dapat menyebabkan kematian.

Sepsis adalah gangguan fungsi organ akibat infeksi yang dapat menyebabkan kematian.

Gangguan fungsi organ tersebut dapat dinilai menggunakan kriteria yang sudah disepakati yaitu skor Sequential (Sepsis-Related) Organ Failure Assesment (SOFA), yang melibatkan sistem respirasi, pembekuan darah, kardiovaskular, sistem saraf, fungsi hati, dan fungsi ginjal.

Mudahnya, ketika pasien datang ke rumah sakit, dokter dapat melakukan prognosis atau prediksi mengenai perkembangan suatu penyakit setelah melihat tekanan oksigen di dalam tubuh, jumlah trombosit, fungsi hati, tekanan darah, tingkat kesadaran, dan fungsi ginjal.

"Prognosis agak berat itu ketika diperiksa jumlah trombosit sudah mulai turun, ini kita sudah bisa bilang sepsis," ujar Ari.

"Kemudian fungsi hati meningkat mungkin sampai 200-300, tekanan darah turun karena dia memang syok, kesadarannya sudah mulai sulit diajak bicara misalnya, dan fungsi ginjal turun," imbuhnya.

"Dikatakan berisiko berat bila skor itu semua lebih dari 10."

Baca: Terungkap Fakta Mengejutkan Asal Virus Corona Bukan dari Wuhan China, Sudah Ada Sejak September 2019

Baca: Disebut 10 Kali Lebih Berbahaya dari Flu Babi, Inilah 5 Kelemahan Virus Corona yang Wajib Diketahui

3. D-dimer > 1 mcg/mL

D-dimer atau fragmen D-dimer (bahasa Inggris: fibrin degradation fragment) adalah suatu jenis uji sampel darah di laboratorium yang bertujuan untuk membantu melakukan diagnosis penyakit dan kondisi yang menyebabkan hiperkoagulabilitas.

Hiperkoagulabilitas adalah suatu kecenderungan darah untuk membeku melebihi ukuran normal.

"Ini adalah faktor prognosis (prediksi mengenai perkembangan suatu penyakit, red) yang bisa didapatkan ketika pasien datang," ujar Ari.

Peti jenazah gratis disiapkan Lembaga Sosial Umat Budha untuk korban meninggal Covid-19.
Peti jenazah gratis disiapkan Lembaga Sosial Umat Budha untuk korban meninggal Covid-19. (Warta Kota/Muhammad Azzam)

4. Pasien datang terlambat

"Jadi pasien-pasien ini datang terlambat, seperti kita tahu rumah sakit rujukan sudah penuh, di sisi lain mungkin ada rumah sakit dengan fasilitas terbatas, sehingga harus dikirim ke rumah sakit lain.

Jadi hal-hal ini yang membuat pasien datang terlambat (ke rumah sakit)," ungkap Ari.

Saat pasien datang terlambat dan pemeriksaan juga terlambat dilakukan, bisa saja kemudian sudah muncul komplikasi penyakit lain.

"Sebagai contoh, mungkin saja pasien memiliki komplikasi gangguan ginjal, gangguan liver, atau mungkin trombositnya sudah turun pada saat datang ke IGD," jelas Ari.

Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, Selasa (31/3/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan dua tempat pemakaman umum (TPU) untuk memakamkan pasien terjangkit virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni di TPU Tegal Alur di Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Jenazah yang dapat dimakamkan di sana, yakni yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) dan berstatus positif terjangkit virus corona.
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, Selasa (31/3/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan dua tempat pemakaman umum (TPU) untuk memakamkan pasien terjangkit virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni di TPU Tegal Alur di Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Jenazah yang dapat dimakamkan di sana, yakni yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) dan berstatus positif terjangkit virus corona. (KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

5. Penyakit penyerta

Beberapa penyakit penyerta yang bisa berpengaruh pada kondisi kesehatan pasien Covid-19 adalah kencing manis, penyakit paru kronis yang menyebabkan kelainan pada paru, dan jantung.

Jika seseorang sudah memiliki penyakit paru, itu artinya organ paru sudah tidak dapat berfungsi dengan baik.

"Orang-orang ini (dengan penyakit penyerta) juga berisiko tinggi pada kematian bila terjadi infeksi (Covid-19," ujarnya.

Rekomendasi

Oleh karena itu Ari mengingatkan bagi para orang tua di atas usia 60 tahun untuk berdiam diri di rumah.

"Karena apa? Karena mereka inilah yang paling berisiko, jika terinfeksi bisa berujung pada kematian," tegasnya.

Baca: 2 Hari Setelah Sembuh dari Virus Corona dan Pulang ke Rumah, Pria asal Lumajang Meninggal Dunia

Baca: Jepang Kewalahan Hadapi Covid-19, Wali Kota Osaka Sampai Minta Warga Sumbangkan Jas Hujan untuk APD

(Kompas.com/Gloria Setyvani Putri)(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Al Farid)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Angka Kematian Akibat Virus Corona di Indonesia Tinggi, Apa Sebabnya?"





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Pokun Roxy (2013)

    Pokun Roxy adalah sebuah film horor komedi Indonesia
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved