TRIBUNNEWSWIKI.COM - Virus corona telah menjangkiti lebih dari 2,2 juta jiwa di seluruh dunia.
Dilansir oleh Tribunnewswiki dari Worldometers, virus corona telah menjangkiti 210 negara di dunia per Sabtu (18/4). pada pukul 22.22 WIB.
Pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 582.903 dan 156.234 harus kehilangan nyawa mereka.
Virus corona ini diberitakan awal mula ditemui di Kota Wuhan, China.
Jumlah kematian akibat virus corona di Wuhan, China, pusat pandemi global, ternyata lebih dari 1.000 nyawa.
Angka tersebut lebih tinggi dari yang dilaporkan sebelumnya.
Baca: 36 Mahasiswa STT Bethel Indonesia Positif Corona, 98 Orang Diisolasi di Asrama Tak Boleh Mudik
Baca: Ayo Kenali 10 Gejala Inti pada Tubuh yang Terinfeksi Virus Corona
Mengutip Daily Star, Jumat (17/4/2020), Badan Pencegahan dan Pengendalian Wuhan merubah total angka kematian dari 2.579 menjadi 3.869.
Peningkatan ini lebih dari 50 persen.
Angka kematian meningkat merujuk pada korban-korban yang meninggal tidak di rumah sakit.
Ditambah lagi karena faktor keterlambatan dan pelaporan yang salah.
Sedangkan jumlah kematian sebelumnya pun dipengaruhi oleh kesulitan mendapatkan informasi yang akurat dari rumah sakit swasta.
Terhitung kira-kira dua pertiga dari total 82.367 kasus di China yang diumumkan, jumlah total kasus di kota berpenduduk 11 juta orang juga meningkat 325 menjadi 50.333.
Pejabat Kantor Berita Xinhua mengutip seorang pejabat yang tak ingin membuka identitasnya berkata:
"Karena keterlambatan dalam pencegahan dan kurangnya kemampuan perawatan, beberapa lembaga medis gagal terhubung dengan sistem pencegahan dan pengendalian penyakit tepat pada waktunya."
"Sementara rumah sakit sudah overload dan petugas medis juga kewalahan menangani pasien."
"Oleh karena itu terjadi yang namanya laporan yang terlambat, terlewat, dan keliru," kijar pejabat itu.
Baca: Disebut 10 Kali Lebih Berbahaya dari Flu Babi, Inilah 5 Kelemahan Virus Corona yang Wajib Diketahui
Baca: Para Ilmuwan Ungkap Kemampuan Daya Rusak Virus Corona Setara SARS dan HIV yang Digabung Jadi Satu
Timbul berbagai pertanyaan terkait akurasi pelaporan kasus China.
Khususnya di pusat pandemi, Wuhan, kecurigaan mulai nampak saat kota tersebut di bulan Januari tidak melaporkan kasus baru atau kematian sama sekali.
Hal tersebut memancing spekulasi jika pejabat China berusaha meminimalkan dampak wabah dan mengacuhkan tindakan awal pengendalian virus.
Angka-angka baru mulai keluar ketika dibenarkan jika negara tirai bambu ini telah mengalami kemunduran ekonomi besar pertama dalam kurun lebih dari empat dekade terakhir.