Sekjen PBB: 'Perempuan dan Anak Jadi Ancaman Terbesar di Dalam Rumah Saat Pandemi Covid-19'

Sekjen PBB desak pemerintah untuk membuat program perlindungan perempuan dan anak di tengah pandemi Covid-19.


zoom-inlihat foto
antonio-guterrez-901.jpg
BBC
Sekjen PBB desak pemerintah untuk membuat program perlindungan perempuan dan anak di tengah pandemi Covid-19, Foto: Pidato Antonio Guterres di Bangkok, Thailand.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres mendesak seluruh pemerintah untuk memasukkan program perlindungan perempuan dalam merespons pandemi virus corona atau Covid-19.

Perlu diketahui, angka laporan kekerasan dalam rumah tangga telah melonjak besar-besaran saat gelombang kebijakan lockdown diberlakukan di sejumlah negara terdampak corona.

Kendati anjuran #DiRumahSaja adalah untuk menahan penyebaran wabah corona, namun Guterres menyebut kekerasan rumah tangga tidak mengenal batasan apapun.

"Kekerasan tidak terbatas pada medan perang," kata Guterres dalam sebuah pernyataan dan rekaman video yang dirilis dalam berbagai bahasa, dilansir AFP, Senin (6/4/2020).

Baca: Tak Ada Kasus Baru di Vietnam, 90 Pasien Sembuh dan Kini Tinggal 150 Pasien Covid-19 yang Dirawat

Menurut Sekjen PBB, perempuan dan anak menjadi ancaman terbesar kekerasan di dalam rumah.

"Ancaman terbesar ada pada banyak perempuan dan anak di mana mereka seharusnya dilindungi dan berada di tempat yang aman," katanya.

Gutteres yang beberapa hari sebelumnya menyerukan genjatan senjata di seluruh dunia ini menyebut kenaikan kekerasan dalam rumah tangga sebagai sesuatu yang mengerikan.

Ia mendesak semua pemerintah untuk membuat "pencegahan dan perbaikan (program perlindungan)" atas kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Adapun Gutteres mengharapkan agar pemerintah menjadikan ini sebagai program penting dalam kebijakan nasional merespons Covid-19.

Dalam pidatonya di ibukota Thailand, Bangkok, Antonio Guterres menyebut di masa mendatang jutaan orang terancam oleh risiko naiknya massa permukaan air laut.
Dalam pidatonya di ibukota Thailand, Bangkok, Antonio Guterres menyebut di masa mendatang jutaan orang terancam oleh risiko naiknya massa permukaan air laut. (BBC)

Kasus Kekerasan Rumah Tangga Meningkat di Tengah Pandemi Covid-19

Negara India melalui Komisi Nasional untuk Perempuan melaporkan angka kekerasan dalam rumah tangga naik dua kali lipat pada minggu pertama kebijakan Lockdown dilakukan,

Sementara di Prancis, menurut pihak berwenang, angka kekerasan dalam rumah tangga naik sepertiga sejak seminggu diterapkannya Lockdown.

Di Australia, angka pencarian di internet terkait dukungan korban kekerasan dalam rumah tangga meningkat 75 persen.

Baca: Kekerasan Seksual Kembali Terjadi, Seorang Reporter Perempuan Dilecehkan Pria saat Siaran Langsung

Ilustrasi kekerasan pada anak.
Ilustrasi kekerasan pada anak. (pixabay.com)

Seruan PBB

Antonio Guterrez menyerukan agar pemerintah membuat sistem pelaporan darurat di tempat-tempat seperti apotek dan pusat perbelanjaan.

Lebih jauh lagi, Guterrez juga menyerukan pemerintah agar membuat cara-cara yang aman "bagi perempuan untuk mencari dukungan, tanpa harus memperingatkan pelaku kekerasan,"

"Bersama-sama, kita dapat dan harus mencegah kekerasan di mana pun, dari zona perang hingga rumah orang, di tengah usaha untuk mengalahkan COVID-19," katanya.

Ia turut menggalakkan adanya suasana damai di rumah-rumah di seluruh dunia.

Baca: Kekerasan terhadap Anak: Seorang Ibu Siksa Gadis 11 Tahun karena Telepon Tanya Kapan Pulang

Ilustrasi kekerasan pada perempuan.
Ilustrasi kekerasan pada perempuan. (pixabay.com)

Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia

Berdasarkan Catatan Akhir Tahun (CATAHU) Komisi Nasional Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) 2020, terdapat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia yang terlaporkan pada tahun 2019.





Halaman
123
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved