Kebijakan Nepal
Tercatat untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19, Nepal menangguhkan izin untuk semua pendakian gunung sejak 12 Maret 2020.
Sejumlah basecamp juga secara efektif menutup kegiatan pendakiannya.
Akibat kebijakan ini, kerugian ditaksir mencapai hampir 4 juta dollar, di mana satu izin pendakian Gunung Everest seharga 11.000 dollar.
Seperti Kota Hantu
Seorang anak penggembala, yang juga bernama Sherpa (31) mengungkapkan dirinya telah mencapai puncak Everest selama delapan kali.
Selama puluhan kali pula, ia menolong pendaki lain mencapai puncak.
Sebagai bentuk antisipasi terhadap penyebaran virus corona, Sherpa meyakini bahwa masalah yang dialaminya juga dirasakan oleh semua.
“Saya pikir semua orang menderita masalah yang sama,” katanya.
Sherpa biasanya berada di basecamp Everest, tempat para pendaki menunggu cuaca yang baik untuk bergegas ke puncak.
Pada musim semi tahun lalu, terdapat 885 orang yang telah mencapai puncak Everest.
Hal itu merupakan rekor terbaru dari catatan sebelumnya yang mencapai 644 orang.
Namun angka tersebut tidak berarti apapun, saat pandemi virus corona membungkam Everest.
Antisipasi penyebaran virus corona telah membuat basecamp kosong.
Sebuah kota terakhir sebelum basecamp, Namche, terpantau juga kosong.
Para pemandu, porter / juru angkut, tukang masak, dan para pekerja pendukung aktivitas naik gunung lainnya harus berjalan kaki menuruni lereng dengan tangan kosong.
“Akibat musim (pendakian) dibatalkan, maka tak ada yang mendapat pekerjaan. Dari mulai penerbangan, toko-toko, hingga para porter/juru angkut, tidak ada pekerjaan.
“Semua orang pulang,” kata Pemba Galzen Sherpa, yang mengaku telah mencapai puncak Everest selama 14 kali.
Seorang pemandu, Damian Benegas yang sering mengantarkan tim pendaki ke Everest selama hampir dua dekade mengatakan bahwa para porter dan pekerja dapur lah yang paling terpukul atas penutupan ini.
Menurutnya, dua pekerjaan tersebut bergantung dengan aktivitas pendakian.