Ai Fen, Dokter Wanita asal China yang Mengungkap Virus Corona Pertama Kali, Dikabarkan Menghilang

Ai Fen jadi perhatian dunia setelah menngungkapkan apa yang telah dialaminya saat pertama kali menyuarakan keberadaan virus corona pada Desember 2019


zoom-inlihat foto
ai-fen2.jpg
Weibo
Dokter Ai Fen, yang mengungkapkan pertama kali terkait virus corona, dikabarkan menghilang (Weibo via New York Post)


TRIBUNNEWSWIKI.COMAi Fen, dokter asal China yang pernah mengklaim bahwa atasannya berusaha membungkam peringatan dini tentang virus corona, dilaporkan menghilang.

Dilansir oleh New York Post, hilangnya dokter Ai Fen ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ia telah ditahan.

Sebelumnya, Ai Fen menjadi pusat perhatian dunia setelah ia mengungkapkan apa yang telah dialaminya saat pertama kali menyuarakan keberadaan patogen baru itu pada akhir Desember 2019.

Dokter Ai Fen menuturkan, dia menghadapi "teguran keras yang tak pernah terjadi sebelumnya" dari komisi disiplin Rumah Sakit Pusat Wuhan.

60 Minutes Australia melaporkan, Ai Fen menghilang setelah dirinya melakukan wawancara dengan sebuah majalah pada 10 Maret lalu.

Ai Fen yang bekerja di UGD tersebut dalam sebuah wawancara yang diterbitkan bulan lalu oleh sebuah majalah China,  mengkritik manajemen Rumah Sakit Pusat Wuhan karena mengabaikan peringatan awal coronavirus.

Baca: Menteri Kesehatan Israel Positif Covid-19, PM Israel Benjamin Netanyahu Karantina Kedua Kali

Baca: Umumkan 130 Kasus Positif Covid-19 Tanpa Gejala, Silent Carrier di China Bisa Sepertiga Kasus Total

Namun, tayangan tersebut kini telah dihapus.

Segera setelah program tersebut ditayangkan, Ai memposting pesan rahasia ke halamannya di situs media sosial China Weibo.

"Sebuah sungai. Sebuah jembatan. Sebuah jalan. Sebuah jam berpadu, ”bunyi postingan tersebut yang ditambah dengan foto pemandangan kota Wuhan.

Hampir dua minggu sebelumnya, dia memposting, “Terima kasih atas perhatian dan cinta Anda. Saya baik-baik saja saat ini dan saya masih bekerja. "

Dan pada hari Rabu, dia berbagi pos bertuliskan, "Selamat Hari April Mop," menunjukkan dia mengenakan jas lab dan topeng, tampaknya sedang bekerja di rumah sakit.

Tetapi Radio Free Asia (RFA) melaporkan bahwa tahanan yang ditahan di Tiongkok diketahui memperbarui akun media sosial mereka di bawah perintah pihak berwenang, atau polisi dapat melakukannya setelah mendapatkan akses ke perangkat mereka.

Dalam esai yang sekarang dihapus yang diterbitkan di majalah People (Renwu) China berjudul "Orang yang memasok peluit," Ai merinci upaya bosnya untuk membungkamnya, lapor RFA.

Baca: Li Wenliang

Baca: China dan AS Sepakat untuk Bekerja Sama dalam Menghadapi Virus Corona, Pengamat: Sampai Kapan?

Dalam artikel itu, Ai mengatakan teguran itu muncul setelah dia mengambil foto hasil tes pasien dan melingkari positif "SARS coronavirus" berwarna merah.

AI Fen mengaku menyesal karena tidak cukup berani untuk berbicara lebih banyak tentang hal itu.

Sebab, empat koleganya, termasuk Dokter Li Wenliang, terpapar Covid-19 dan meninggal ketika berjuang untuk merawat para pasien.

"JIka saya tahu akhirnya bakal seperti ini, saya tak peduli akan hukuman. Saya akan terus menyuarakannya kepada siapa pun," kata dia.

Dikutip dari Daily Mail, kabar menghilangnya dokter Ai Fen ini terjadi setelah kritik diajukan kepada pemerintah China karena dianngap berbohong dan menutupi informasi kunci selama hampir setiap tahap tanggapan terhadap virus corona.

China dituduh berusaha menutupi wabah koronavirus sebelum krisis meningkat.

Kembali pada 30 Desember 2019, mendiang Dr. Li Wenliang yang bekerja dengan Ai, telah mengirimkan peringatan atas aplikasi pesan  WeChat yang menasihati lulusan sekolah kedokteran untuk memakai pakaian pelindung untuk menghindari infeksi setelah beberapa pasien dari makanan laut lokal pasar menunjukkan gejala yang mirip dengan SARS.

Li Wenliang, dokter 34 tahun yang berprofesi sebagai ophthalmologist di rumah sakit Wuhan, meninggal pada Februari karena terinfeksi virus corona dari pasiennya.

Sebuah foto almarhum dokter mata Li Wenliang terlihat dengan karangan bunga di Cabang Houhu Rumah Sakit Pusat Wuhan di Wuhan di provinsi Hubei, China pada 7 Februari 2020. Seorang dokter China yang dihukum setelah membunyikan alarm tentang virus corona baru China meninggal karena patogen pada 7 Februari, memicu curahan kesedihan dan kemarahan atas krisis yang memburuk yang kini telah menewaskan lebih dari 630 orang.STR / AFP
Sebuah foto almarhum dokter mata Li Wenliang terlihat dengan karangan bunga di Cabang Houhu Rumah Sakit Pusat Wuhan di Wuhan di provinsi Hubei, China pada 7 Februari 2020. Seorang dokter China yang dihukum setelah membunyikan alarm tentang virus corona baru China meninggal karena patogen pada 7 Februari, memicu curahan kesedihan dan kemarahan atas krisis yang memburuk yang kini telah menewaskan lebih dari 630 orang.STR / AFP (STR / AFP)

Sebelum terpapar, ia sempat membagikan informasi dan memperingatkan publik mengenai wabah ini, sebelum didatangi oleh penegak hukum.

Baca: Mengenal Huang Xiqiu, Arsitek RS Khusus Corona di Wuhan yang Lahir dan Sekolah di Jember

Baca: Lampaui China, Italia Jadi Negara dengan Total Kematian Akibat Virus Corona Terbanyak di Dunia

Oleh otoritas berwajib, ia diminta untuk menandatangani surat pernyataan karena dianggap memberikan informasi tak benar beberapa pekan sebelum Wuhan dikarantina.

Oleh pejabat di ibu kota Provinsi Hubei itu, Li mendapat predikat sebagai "martir" karena keberanian, dedikasi, dan cepat dalam menanggapi.

Dilansir oleh Daily Mail, penyebutan tersebut diembuskan media pemerintah di tengah kabar menghilangnya dokter Ai Fen.

Dalam keterangan CCTV di Weibo, nama Li  ada di antara 14 pekerja kesehatan Hubei yang terinfeksi Covid-19 dan meninggal karena penyakit itu.

Mengutip keterangan pejabat setempat, CCTV mengabarkan bahwa pekerja medis itu mengabaikan keselamatan sendiri dengan bertugas di garda depan.

Kemudian seperti berpacu dengan waktu, mereka bekerja siang dan malam untuk menjaga keselamatan dan kesehatan jiwa manusia sebelum akhirnya gugur.

Dr Li menjadi satu diantara 14 pekerja medis di Provinsi Hubei yang menerima penghargaan.

Lebih dari 3.000 pekerja medis diketahui terinfeksi virus corona saat merawat pasien, dan setidaknya 26 dari mereka telah meninggal, menurut angka yang dirilis oleh media China.

Hingga Kamis (2/4/2020), China telah mengonfirmasi sebanyak 81.589 kasus virus corona di wilayahna, dengan total kematian sebanyak 3.318 orang.

(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy)





Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - The Period of

    The Period of Her adalah sebuah film drama
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved