"Kami memang memintanya untuk menunggu, karena banyak pasien juga yang harus ditangani," kata Rifki, Jumat (27/3/2020).
Baca: Corona Meluas di Inggris, Begini Kehidupan Tunawisma yang Tak Mampu Isolasi Mandiri, Dirundung Takut
Lebih lanjut, menurut Rifki, saat itu petugas tengah menyiapkan kamar dan menggunakan alat pelindung diri.
Namun, saat diminta menunggu, yang bersangkutan memilih untuk pergi.
Rifki menyebut, pihaknya mendapat informasi pasien pergi ke Eka Jaya Hospital, BSD.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan di rumah sakit tersebut, pasien dinyatakan meninggal dunia.
"Tenaga medis ketika itu sedang mempersiapkan alat pelindung diri (APD) terlebih dulu. Pasien itu disuruh nunggu."
"Paling cuma sekitar lebih dari satu jam. Tapi dia tiba-tiba saja pulang. Ke rumah sakit Eka Hospital BSD dan dinyatakan meninggal dunia," kata Rifki, dikutip dari Warta Kota.
Lebih lanjut, Rifki menyebut, pihaknya bisa menangani pasien corona sebanyak 60 orang dalam sehari.
Jumlah tersebut terdiri dari ODP dan PDP.
Penanganan pasien corona dalam satu hari memang dibatasi hanya 60 orang.
Apabila sudah penuh maka pasien diminta untuk pulang ke rumah.
"Karena pasien Covid-19 yang datang ke sini juga kalau sudah penuh batasannya ya harus pulang lagi ke rumah."
"Karena memang dibatasi sampai 60 pasien dalam sehari. Hari ini saja baru jam 8 pagi sudah penuh," katanya.
Baca: Jadi Negara COVID-19 Terbanyak di Dunia, Amerika Serikat kini Kewalahan hingga Minta Bantuan Korsel
Baca: Dokter Amerika Ungkap Negaranya Kewalahan Atasi COVID-19, Sebut Bisa Jadi Seperti Italia
(Tribunnews.com/Miftah, Warta Kota/Andika Panduwinata)(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Farid)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul "Menunggu Terlalu Lama, PDP Corona Meninggal, Sempat Kirim Pesan ke Jokowi & Terawan: Saya Tidak Kuat" dan "Tak Segera Dapat Tindakan, PDP COVID-19 di Tangerang Meninggal, Sempat Kirimi Pesan Jokowi & Menkes"