Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)

Museum Fatahillah adalah museum yang merekam perjalanan panjang sejarah Kota Jakarta sejak masa prasejarah hingga masa kini, museum ini juga disebut sebagai Museum Sejarah Jakarta.


Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)
Instagram/@weirdphtgrphy & @bayuwardana
Museum Fatahillah - Museum Sejarah Jakarta 

Museum Fatahillah adalah museum yang merekam perjalanan panjang sejarah Kota Jakarta sejak masa prasejarah hingga masa kini, museum ini juga disebut sebagai Museum Sejarah Jakarta.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Museum Fatahillah atau yang dikenal juga sebagai Museum Sejarah Jakarta ini terletak di Jalan Taman Fatahillah No 1, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Museum Fatahillah merekam sejarah yang amat panjang dari Jakarta sebagai ibukota RI, bahkan hingga ke masa prasejarah.

Di sini para pengunjung dapat menelusuri berbagai peninggalan sejarah Kota Jakarta sejak zaman prasejarah, masa kejayaan pelabuhan Sunda Kelapa, era penjajahan, hingga ke masa setelah kemerdekaan.

Museum ini menyimpan 23.500 koleksi barang bersejarah, baik dalam bentuk benda asli maupun replika.

Koleksi ini berasal dari Museum Jakarta Lama (Oud Batavia Museum) yang sebelumnya terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27, yang saat ini ditempati Museum Wayang.

Di antara koleksi yang penting untuk diketahui masyarakat adalah Prasasti Ciaruteun peninggalan Tarumanagara, Meriam Si Jagur, Patung Dewa Hermes, sel tahanan dari Untung Suropati (1670) dan Pangeran Diponegoro (1830).

Ada pula lukisan Gubernur Jendral VOC Hindia Belanda dari 1602-1942, alat pertukangan zaman prasejarah dan koleksi persenjataan.

Selain itu, terdapat juga koleksi mebel antik peninggalan abad ke-17 hingga abad ke-19, sejumlah keramik, gerabah dan prasasti. (1)

Baca: Museum Kebangkitan Nasional

Baca: Museum Dirgantara Mandala

  • Sejarah


Pada masa pemerintahan VOC di Batavia, Museum Sejarah Jakarta mulanya digunakan sebagai Gedung Balaikota (Stadhuis).

Pada tanggal 27 April 1626, Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier (1623-1627) membangun gedung balaikota baru yang kemudian direnovasi pada tanggal 25 Januari 1707 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn dan baru selesai pada tanggal 10 Juli 1710 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck.

Selain sebagai balaikota, gedung ini juga berfungsi sebagai Pengadilan, Kantor Catatan Sipil, tempat warga beribadah di hari Minggu, dan Dewan Kotapraja (College van Scheppen).

Pada tahun 1925 hingga 1942, gedung ini juga dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon.

Tahun 1952, gedung ini digunakan pula sebagai Markas Komando Militer Kota (KMK) I yang kemudian menjadi Kodim 0503 Jakarta Barat.

Setelah itu, pada tahun 1968, gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan kemudian dijadikan sebagai Museum pada tahun 1974.

Pada tahun 1919, dalam rangka 300 tahun berdirinya Kota Batavia, warga Kota Batavia khususnya Belanda mulai tertarik dengan sejarah Kota Batavia.

Akhirnya, pada tahun 1930, didirikanlah sebuah yayasan yang bernama Oud Batavia (Batavia Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala ihwal tentang sejarah Kota Batavia.

Tahun 1936, Museum Oud Batavia diresmikan oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (1936-1942) dan dibuka untuk umum pada tahun 1939.

Museum Oud Batavia ini merupakan lembaga swasta di bawah naungan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan) yang didirikan pada tahun 1778 dan turut berperan dalam mendirikan Museum Nasional.

Koleksi-koleksinya sebagian besar merupakan peninggalan-peninggalan masyarakat Belanda yang bermukim di Batavia sejak awal abad XVI, seperti mebel, perabot rumah tanngga, senjata, keramik, peta, serta buku-buku.

Pada masa kemerdekaan, Museum Oud Batavia berubah nama menjadi Museum Djakarta Lama di bawah naungan Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI) dan pada tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta.

Setelah Museum Sejarah Jakarta diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974, maka seluruh koleksi dari Museum Djakarta Lama dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta dan ditambah dengan koleksi dari Museum Nasional.

Sejak tahun 1999, Museum Sejarah Jakarta digagas bukan sekedar sebagai tempat untuk merawat dan memamerkan benda yang berasal dari masa penjajahan, tetapi harus bisa menjadi tempat bagi seluruh khalayak untuk menambah pengetahuan dan pengalaman tentang sejarah kota Jakarta, serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi.

Museum ini berupaya menyediakan berbagai informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih kreatif, serta menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif dan menarik guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya warisan budaya. (2)

Baca: Museum Tsunami Aceh

Baca: Museum Sumpah Pemuda

  • Koleksi-koleksi


Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19 yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Tiongkok, dan Indonesia.

Terdapat pula keramik, gerabah, dan batu prasasti.

Koleksi-koleksi ini tersebar di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang Batavia.

Ada juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak.

Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis.

Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda. 

Seluruh koleksi tersebut dijaga, dipelihara, dan dibersihkan dengan baik.

Berbagai macam informasi pun tertera di sini, sehingga pengunjung bisa mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan sejarah yang sebelumnya belum diketahui. (3)

Baca: Museum Ullen Sentalu

Baca: Museum Gunung Merapi

  • Ruangan dan Lantai


Museum Fatahillah terbagi menjadi tiga lantai.

Lantai pertama yang terletak di bawah, pengunjung akan melihat beberapa peninggalan VOC.

Selain itu, ada pula berbagai peninggalan pada zaman prasejarah seperti keramik, pintu, almari, gerabah, serta penemuan beberapa arkeolog pada zaman dahulu.

Di lantai bawah ini, pengunjung bisa melihat bagaimana peninggalan budaya betawi dari zaman dahulu yang menyajikan bagaimana bentuk dapur tempo dulu.

Menginjakkan kaki di lantai 2, pengunjung disuguhi berbagai macam peninggalan zaman Belanda.

Kemudian, lantai ketiga yang terletak di bawah lantai satu, yaitu ke ruang bawah tanah.

Di lantai bawah tanah ini pengunjung akan melihat bagaimana bentuk penjara bawah tanah yang digunakan untuk memenjarakan orang-orang yang dahulu berusaha memberontak Belanda.

Terdapat 5 ruangan yang sangat sempit dengan sebuah bandul yang berfungsi untuk menyiksa para tahanan.

Pada tahun 2015, kawasan ini melakukan renovasi besar-besaran.

Karena termasuk dalam cagar budaya, bentuk bagunannya tetap dan tidak diubah sedikit pun.

Hasil renovasinya kini dapat dilihat, betapa megahnya gedung bersejarah ini dengan warna putih tuanya yang juga tampak megah dan enak dipandang. (3)

(Tribunnewswiki.com/Ron)



Nama Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)
Alamat Jalan Taman Fatahillah No 1, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Google Maps https://goo.gl/maps/GTjbmWEwq8s1EZB98
   


Sumber :


1. www.indonesiakaya.com
2. asosiasimuseumindonesia.org
3. www.nativeindonesia.com


Penulis: Ronna Qurrata Ayun
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi




ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved