Informasi #
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Museum Tsunami Aceh dibangun pada 2007 dan diresmikan pada 27 Februari 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (1)
Tujuan dibangunnya Museum Tsunami Aceh ini adalah untuk mengenang peristiwa gempa bumi yang mengakibatkan tsunami pada 2004 silam.
Selain itu, Museum Tsunami Aceh juga menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang tsunami serta sebagai pusat evakuasi pertama jika bencanan tsunami sewaktu-waktu datang lagi. (2)
Pada 2018 lalu, Museum Tsunami Aceh dinobatkan sebagai museum terpopuler di Indonesia oleh Komunitas Jejak Langkah Sejarah (Jelajah).
Hal ini dinilai dari aktivitas kunjungan pada Museum Tsunami Aceh yang cukup tinggi setiap harinya.
Saat hari kerja, pengunjung yang datang bisa berkisar antara 2.000-3.000 orang, sedangkan jika akhir pekan, jumlah pengunjung bisa mencapai 6.000 orang. (3)
Hingga Juli 2019, jumlah pengunjung yang datang ke Museum Tsunami Aceh tercatat sebanyak lebih dari 350 ribu orang, bahkan jumlah tersebut akan bertambah hingga akhir tahun. (4)
Pembangunan #
Museum Tsunami Aceh memang sengaja dibangun oleh pemerintah dalam hal ini Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias sebagai pengingat dan sebagai lembaga pembelajaran dan mitigasi bencana bagi warga di Aceh.
Bangunan Museum Tsunami Aceh didesain oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.
Desain yang diberi nama “Rumoh Aceh Escape Hill” karya Ridwan Kamil ini memenangkan sayembara lomba desain Museum Tsunami Aceh tahun 2007 lalu.
Karya Ridwan Kamil ini berhasil menyisihkan 68 desain lainnya.
“Rumoh Aceh Escape Hill” yang dibangun di atas areal 10.000 meter persegi ini mengambil ide dasar Rumoh Aceh, rumah tradisional masyarakat Aceh yang berbentuk rumah panggung. (5)
Museum Tsunami Aceh memliki luas sekitar 2.500 meter persegi. (6)
Museum yang terdiri atas empat tingkat ini dibangun dengan dana sekitar Rp 70 miliar. (2)
Museum ini memiliki empat lantai dengan bentuk bangunan yang melengkung.
Baca: Museum Pancasila Sakti (Museum Lubang Buaya)
Baca: Museum Dayu
Ketika masuk ke museum, pengunjung akan menghadapi sebuah lorong yang sempit dan gelap di antara dua dinding yang tinggi.
Dibuat seperti ini bertujuan untuk mengingatkan kembali suasana kepanikan yang terjadi pada saat tsunami.
Dinding museum dihiasi dengan gambar orang-orang yang sedang menari saman.
Tari saman merupakan simbol kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius masyarakat Aceh.
Sedangkan bentuk atapnya bergelombang menyerupai gelombang laut.
Bagian lantai didesain mirip rumah panggung tradisional khas Aceh yang selamat dari gelombang tsunami.
Dilihat dari luar, bangunan museum ini terlihat seperti kapal dengan sebuah mercusuar yang ada di atasnya. (7)
Filosofi design Museum Tsunami Aceh #
Space of Fear (Lorong Tsunami)
Akses awal lorong Tsunami untuk pengunjung memasuki Museum Tsunami yang memiliki panjang 30 meter dan tinggi hingga 19-23 meter tersebut melambangkan tingginya gelombang tsunami yang terjadi pada 2004 silam.
Air mengalir di kedua sisi dinding museum, dengan suara gemuruh air dan cahaya yang remang-remang agak gelap, lembab dan lorong yang sempit, mendeskripsikan perasaan rasa takut masyarakat Aceh pada saat tsunami terjadi, yang disebut space of fear.
Space of Memory (Ruang Kenangan)
Setelah berjalan melewati Lorong Tsunami, pengunjung akan memasuki Ruang Kenangan.
Ruangan tersebut memiliki 26 monitor yang menampilkan gambar dan foto para korban dan lokasi bencana tsunami.
Gambar-gambar tersebut seakan mengingatkan kembali kejadian tsunami yang melanda Aceh pada 2004 silam.
Ketika memasuki ruangan ini, pengunjung seolah-olah tengah berada di dalam laut.
Hal ini dilambangkan dengan dinding-dinding kaca yang menggambarkan luasnya dasar laut, monitor-monitor yang ada di dalam ruangan dilambangkan sebagai bebatuan yang ada di dalam air, dan lampu-lampu remang yang ada di atap ruangan dilambangkan sebagai cahaya dari atas permukaan air yang masuk ke dasar laut.
Baca: Museum Sumpah Pemuda
Baca: Museum Kepresidenan RI Balai Kirti
Space of Sorrow (Ruang Sumur Doa)
Ruang Sumur Doa berbentuk silinder dengan cahaya remang dan memiliki ketinggian 30 meter.
Dalam ruangan tersebut terdapat kurang lebih 2000 nama-nama korban tsunami yang tertera di setiap dinding ruangan ini.
Ruangan ini difilosofikan sebagai kuburan massal tsunami dan pengunjung yang memasuki ruanga ini dianjurkan untuk mendoakan para korban menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Ruangan ini juga menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablumminallah) yang dilambangkan dengan tulisan kaligrafi Allah yang tertera di atas cerobong dengan cahaya yang mengarah ke atas.
Space of Confuse (Lorong Cerobong)
Lorong ini didesain dengan lantai yang bekelok dan tidak rata sebagai bentuk filosofi dari kebingungan dan keputusasaan masyarakat Aceh saat didera tsunami pada tahun 2004.
Lorong gelap yang membawa pengunjung menuju cahaya alami melambangkan sebuah harapan bahwa masyarakat Aceh pada saat itu masih memiki harapan.
Space of Hope (Jembatan Harapan)
Disebut jembatan harapan karena melalui jembatan ini pengunjung dapat melihat 54 bendera dari 54 negara yang ikut membantu Aceh pasca tsunami.
Jumlah bendera sama denga jumlah batu yang tersusun di pinggiran kolam.
Di setiap bendera dan batu bertuliskan kata ‘Damai’ dengan bahasa dari masing-masing negara sebagai refleksi perdamaian Aceh dari peperangan dan konflik sebelum tsunami terjadi. (8)
Koleksi #
Di lantai satu museum terdapat beberapa ruangan yang berisi rekam jejak kejadian tsunami 2004.
Antara lain ruang pamer tsunami, pratsunami, saat tsunami dan ruang pasca tsunami.
Selain itu, beberapa gambar peristiwa tsunami, artefak jejak tsunami, dan diorama juga ada di lantai ini.
Salah satunya adalah diorama kapal nelayan yang diterjang gelombang tsunami dan diorama kapal PLTD Apung yang terdampar di Punge Blang Cut.
Sedangkan di lantai dua museum ini berisi media-media pembelajaran berupa perpustakaan, ruang alat peraga, ruang 4D (empat dimensi), dan souvenir shop. (2)
Di lantai tiga museum tsunami Aceh terdapat beberapa fasilitas seperti ruang geologi, ruang perpustakaan, musala, dan area cenderamata.
Baca: Fakta-Fakta Museum HAM Munir, Bakal Jadi Museum HAM Pertama di Indonesia hingga Harapan Suciwati
Baca: Museum Polri
Pada ruang geologi, pengunjung bisa mendapatkan berbagai informasi tentang bencana, tentang gempa, dan penyebab tsunami terjadi.
Penjelasan ini didapatkan berdasarkan pajangan dan alat simulasi yang terdapat dalam ruangan tersebut.
Lantai paling atas tidak dibuka untuk umum karena fungsinya sebagai escape building atau tempat penyelamatan diri apabila tsunami terjadi lagi di masa yang akan datang.
Dari lantai atas ini, pengunjung dapat melihat hampir seluruh wilayah Kota Banda Aceh. (7)
Selain itu juga ada beberapa fasilitas terus disempurnakan seperti ruang lukisan bencana, diorama, pustaka, ruang 4 dimensi, serta cafe.
Lokasi dan Operasional #
Museum Tsunami Aceh berada di Jalan Sultan Iskandar Muda dekat Simpang Jam dan berseberangan dengan Lapangan Blang Padang kota Banda Aceh.
Museum Tsunami Aceh terletak kira-kira 500 meter dari Masjid Raya Biturahman Banda Aceh.
Museum Tsunami ini buka setiap hari (kecuali Jumat) pukul 10.00-12.00 WIB dan 15.00-17.00 WIB.
Museum Tsunami tidak memberlakukan tiket masuk alias gratis, kecuali jika para penelusur ingin menyaksikan tayangan 4D maka akan di pungut biaya. (2)
(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy)
| Nama | Museum Tsunami Aceh |
|---|
| Alamat | Jl. Sultan Iskandar Muda, Sukaramai, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh |
|---|
| Google Map | https://goo.gl/maps/x9tivSjYjjuokS7U9 |
|---|
| Titik Koordinat | 5°32'52.3 |
|---|
Sumber :
1. regional.kompas.com
2. disbudpar.acehprov.go.id
3. regional.kompas.com
4. www.antaranews.com
5. www.esdm.go.id
6. regional.kompas.com
7. bobo.grid.id
8. kebudayaan.kemdikbud.go.id