TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kini dunia sedang menghadapi wabah virus corona.
Angka kasus terinfeksi virus corona di seluruh dunia pun masih terus meningkat.
Hingga Minggu (22/3/2020) pagi, data John Hopkins University, menunjukkan sudah 304.528 kasus terinfeksi, 12.973 orang meninggal dunia, dan 91.676 orang sembuh.
Data sehari sebelumnya, 271.629 kasus, 11.282 orang meninggal dunia, dan 87.403 orang sembuh.
China masih mencatatkan sebagai negara kasus tertinggi, yaitu 81.305 kasus.
Meski demikian, dalam empat hari terakhir mereka melaporkan bahwa hanya terdapat satu kasus virus corona dari internal.
Baca: Corona Mewabah, Pesta Pernikahan di Purwokerto Dibubarkan Polisi, Semua Tamu Disemprot Disinfektan
Baca: Update Corona di Jawa Tengah, 2.416 ODP dan 14 Orang Positif Covid-19, Belum Ada Laporan Sembuh
Hal tersebut merupakan perkembangan yang sangat signifikan dibanding dengan beberapa bulan yang lalu.
Namun ternyata ada pakar yang meragukan langkah China dalam mengatasi virus corona ini.
Banyak yang menganggap bahwa langkah mereka sangat susah untuk diikuti oleh negara lain terutama negara-negara barat.
Ahli merujuk pada sistem negara China yang terpusat, pemerintahan satu parta yang tak memungkinkan perbedaaan pendapat hingga memobilisasi sumber daya untuk satu isu.
Dilansir AFP Minggu (22/3/2020), metode Negeri Tirai Bambu dalam memulihkan diri dari Covid-19 bisa dimampatkan dalam tiga strategi:
1. Tutup dan Tahan
Pada Januari, China secara efektif menutup Wuhan, menempatkan 11 juta penduduknya dalam karantina ketat.
Langkah yang kemudian diikuti kota lain di Provinsi Hubei.
Sementara di wilayah lain seantero China, pemerintah setempat berkeras melarang warganya untuk tidak keluar dan diam saja di rumah.
Ratusan juta warga Negeri "Panda" di hidup di lingkungan padat.
Sehingga komite masyarakat setempat bisa berpatroli dan mengawasi mereka.
Dengan demikian, kepatuhan warga bisa terlihat. "Pengurungan berhasil," kata Sharon Lewin, profesor kedokteran di Uiniversitas Melbourne.
"Dua pekan setelah Wuhan ditutup, yang merupakan masa inkubasi virus corona, jumlah (infeksi) mulai berkurang," jelas Lewin.
Social distancing ekstrem dan karantina mandiri sejak saat itu mulai diikuti oleh negara lain di Eropa, termasuk beberapa negara bagian AS.